OLeh : Kantin Emak Produktif
(1)
Sungguh Rasulullah adalah tauladan sepanjang masa. Ketika dakwah dapat terlaksana dengan mudah, ucapkan hamdallah. Ketika dakwah sedang tidak mudah, ingatlah ujian Rasulullah.
Kepahitan dan kesulitan dalam dakwah merupakan sunatullah bagi para pejuang dakwah. Berbahagialah karena inilah jalan para Nabiyullah. Inna ma’al ‘usri, yusra.
–Yulia K Rohima
(2)
Jangan kau paksakan pendapat walau pendapat itu baik, orang lain belum tentu punya kemampuan berfikir dan latar belakang yang sama dengan kau. Apabila kau menyadari hal tersebut maka tak terlalu kecewa dan justru akan belajar tentang arti keanekaragaman manusia.
–Wydiesti
(3)
“Selalu ada banyak pilihan, kita temukan dalam setiap episode kehidupan. Setiap kita, bebas memilih apa pun sesuai keinginan. Namun, pada setiap pilihan yang telah ditetapkan, akan selalu ada konsekuensi yang tak boleh diabaikan.”
–Junayda
(4)
“Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu.” (QS. At-Taubah : 105)
Apapun pekerjaanmu lakukan dengan ikhlas dan sepenuh hati. Berikan yang terbaik lalu biarkan Allah yang menilai dan memberikan balasan karena kalau mengharapkan balasan dari manusia engkau akan kecewa.
–Meivany Azarini
(5)
Semua cobaan hidup yang menimpa manusia, itu terjadi dengan seizin Allah. Sudah kehendak Allah. Jika terasa sangat menyesakan, itu karena kurang iklas menerimanya. Masih ada suudzon terhadap ketentuan-Nya. Astaghfirullahaladzim.
Allah Ta’ala berfirman dalam Al-Qur’an, Surat At-Talaq ayat 3, Artinya :
“… Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki-Nya). Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”
–Dewi Indrayati
(6)
Berhati-hatilah terhadap prasangka buruk sebab hal itu sebenar-benar dusta. Seseorang yang berprasangka buruk sejatinya telah melakukan perbuatan hina dan tercela karena ia menista kehormatan orang lain tanpa bukti yang nyata. Bisa jadi seseorang yang dituduh itu, justru lebih baik dan lebih takwa dari dirinya.
–Atifah Saleha
(7)
Masalah ada untuk mengangkat derajat lebih mulia. Orang yang selalu berkubang dalam kesenangan mudah terhempas dalam kesulitan.
Orang yang selalu berkubang dalam kesulitan mudah jumawa dalam kesenangan.
Jadilah di pertengahan, Orang yang terkadang senang dan terkadang sulit, lebih mampu mengelola keadaan.
–Syasha Lusiana
(8)
Seorang sahabat mendatangi Rasulullah dan meminta nasihat. Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari)
Setidaknya ada dua makna dari pesan Rasulullah tersebut. Yang pertama, Rasulullah meminta agar menahan marah ketika ada sebab hingga marah itu hilang. Yang kedua, jangan mengikuti dorongan untuk marah. Jika marah berlanjut, katakan, “Bersabarlah wahai diri, jangan ikuti nafsu yang akan membuatmu menyesal!”
“Kemarahan itu seperti bola api, tapi jika kamu menelannya, itu akan lebih manis daripada madu.” (Ali bin Abi Thalib)
–Tatiek R Anwar
(9)
Ada 4 pertanyaan di hari kiamat, yang bisa menjadi bahan muhasabah diri di akhir Ramadan ini.
Rasulullah bersabda, “Tidak akan bergeser telapak kaki seorang hamba pada hari kiamat sampai dia ditanya (dimintai pertanggungjawaban) tentang umurnya ke mana dihabiskannya, tentang ilmunya bagaimana dia mengamalkannya, tentang hartanya dari mana diperolehnya dan ke mana dibelanjakannya serta tentang tubuhnya untuk apa digunakannya.” ( HR. Tirmidzi)
–Ayu Muliyati
(10)
“Rumah, tak hanya untuk sekedar berteduh dan istirahat. Namun rumah tempat kita berbagi kebaikan, cinta, dan kenyamanan.”
–Dwi Handayanti
(11)
Dosa bisa mengotori kebeningan hati dan memadamkan cahaya spiritualitas. Semakin sering kita melakukannya semakin banyak kotoran yang melekat dan menempel di hati. Hati akan berkarat dan sulit sekali untuk dibersihkan. Maka, beristigfarlah sebanyak-banyaknya dan lakukanlah amal kebaikan. Semoga Allah berkenan menghapus dosa-dosa yang telah kita lakukan.
–Eli Halimah

(12)
Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan. Masih ragu berbuat baik dan menanyakan, apakah balasannya, apakah keuntungannya?
Nurani ingin membisikkan sebuah kebaikan. Sebaliknya nafsu mengajak kemungkaran. Orang-orang yang tawadhu’ menerima bisikan kebaikan dan orang-orang yang angkuh akan menuruti nafsunya
Yuuk kalahkan keangkuhan dengan menghargai orang lain lebih baik dari kita.
–Khuriyatul Ainiyah
(13)
Tidak ada pemberian terbaik selain Al-Qur’an. Tahapan pertama adalah membacanya dengan rutin, berkelanjutan, mentadaburi, memahami terjemahnya, lalu akan timbul rasa cinta dan rasa suka. Kemudian rahmat serta keberkahan akan turun tak terkira. Semua jadi ada solusinya.
Di saat kita interaksi dengan Al-Qur’an jangan hanya di fisik, tetapi masukan sampai rohani mampu menggerakkan jasmani kita. Nikmati sampai hati kita tenang dan nyaman. Selalu bersemangat dalam kebaikan.
–Dede Nurjanah
(14)
Banyak pertanyaan yang merayu kita untuk selalu introspeksi diri. Dengan membaca Al-Qur’an, kita akan tahu betapa Allah mencintai orang yang sabar. Sedangkan kita, betapa sedikitnya kesabaran itu.
Dalam Al-Quran, akan kita temukan ternyata Allah mencintai orang yang berjihad. Sedangkan kita lemah melawan nafsu.
Kita juga bisa melihat Allah mencintai orang-orang berbuat ikhsan. Sedangkan kita selalu dipenuhi dengan gundah.
Kita juga akan menemukan Allah mencintai orang yang bertaubat, kita pun harus segera merenung dan segera berucap “Astaghfirullah wa atubu illaihi.”
–Hellen Patraliza
(15)
Ramadan berlalu begitu cepat, sekarang sudah memasuki 10 hari terakhir. Mari kita optimalkan hari hari nya dengan memperbanyak ibadah dan beri’tikaf di masjid dan salat malam. Perbanyak doa agar bisa bertemu malam Lailatul Qadar.
“Di bulan Ramadan ini terdapat Lailatul Qadar yang lebih baik dari 1000 bulan.Barang siapa diharamkan dari memperoleh kebaikan di dalamnya, maka dia akan luput dari seluruh kebaikan.” (HR . Ahmad)
–Nurpujiasih
(16)
Istiqamah itu tidak gampang, perlu niat dan kemauan yang kuat. Itu sebabnya sebuah ibadah yg istiqamah itu walau sedikit tapi besar pahalanya.
Nabi Muhammad saw, bersabda, “Berbuat sesuatu yang tepat dan benarlah kalian dan amal yang paling dicintai Allah adalah amalan yang terus menerus meskipun sedikit.” (HR. Bukhari).
–Ifah Latifah
(17)
Mental pemenang itu, bermanfaat bagi diri, keluarga, orang lain lebih banyak lagi. Kontribusi kebaikannya bertambah tambah sehingga berkah.
Selalu bisa memetik kebaikan dari setiap peristiwa. Menjadikan prinsipnya, bahwa berfikir jauh ke depan tentang kesuksesan, tidak hanya sukses di dunia tapi juga di akhirat.
“(Ingatlah) ketika kamu lari dan tidak menoleh kepada seseorangpun, sedang Rasul yang berada di antara kawan-kawanmu yang lain memanggil kamu, karena itu Allah menimpakan atas kamu kesedihan atas kesedihan, supaya kamu jangan bersedih hati terhadap apa yang luput dari pada kamu dan terhadap apa yang menimpa kamu. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Imran : 153)
–Nunun_Nurlaila
(18)
Barangsiapa yang memiliki tatakrama yang baik, perasaan yang sehat dan akhlak yang mulia maka ia akan membuat dirinya, orang lain bahagia. Dia pun akan mendapatkan hati yang tenang dan kondisi jiwa yang sejuk.
Jika anda ingin merasakan kebahagiaan bersama orang lain perlakukan mereka dengan cara yang sama yang anda sukai, jangan meremehkan jangan pula merendahkan. (La Tahzan 2011)
–Warlinah
(19)
Iman itu ibarat tanaman. Jika kau pupuk dia dengan ketaatan kepada Allah dan kau sirami dengan sabar dan ikhlas dengan semua ujian-Nya, maka dia akan tumbuh subur. Buahnya akan kau petik kelak di Jannah-Nya dengan penuh kegembiraan.
–Leni Cahya
(20)
Tidak semua orang itu baik dan berbuat kebaikan, ada banyak yang menyakiti dan kita pun menyakitinya. Besabar dan memaafkan akan membuat hati kita tenang.
“Tetapi orang yang bersabar dan memaafkan, sesungguhnya (perbuatan) yang demikian itu termasuk hal-hal yang diutamakan (QS. Asy-Syuura : 43)
–Sri Rohmatiah
(++)
Hari demi hari adalah rajutan peristiwa dengan berbagai mozaik warna. Allah memberi sepotong hati untuk merasa. Ada hati yang sempit sehingga cepat pepat. Ada yang sanggup meluaskannya hingga mampu menampung apa saja.
Raga yang perkasa tak sanggup menahan beban jika hati rapuh. Raga yang ringkih tetap mampu bertahan manakala hati sehat. Meluaskan hati menjadi tugas pendakian jiwa. Ia kemestian bekal meraih taqwa. Sungguh, hati seluas samudera akan sanggup menampung dan memaafkan apa saja. Baginya hanya satu kata: khair, insyaallah.
— Ida Nur Laila
(++)
Sesuatu yang telah terjadi padamu, itulah ketentuan Allah padamu. Sebelum kejadian, kewajibanmu adalah mengupayakan yang terbaik sekuat tenagamu. Jika sudah terjadi, itulah takdirmu. Maka terimalah takdirmu dengan ridha. Abu Darda’ berkata, “Apabila Allah telah menetapkan suatu takdir, maka yang paling dicintai-Nya adalah hamba itu meridhai takdir-Nya.”
–Cahyadi Takariawan
(++)
Berusaha menjadi baik itu baikMelangkah menuju ketakwaan itu kebaikanDan akan lebih baik senantiasa mendekatkan diri kepada Allah agar Terjaga keimanan dan ketaqwaan”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan” (QS. Al-Maidah: 35).
–Puspa Mafazan