Kembali
Kutipan Inspirasi

20++ Pesan Kebaikan Hari Kelimabelas Ramadan

.

Oleh : Kantin Emak Produktif

.

(1)

Meski tak mudah untuk melakukannya, tapi yakinlah hanya yang memperoleh keberuntungan besar itu adalah mereka yang sabar.

–Yessy Eria

(2)

Kita tidak perlu membandingkan keberhasilan diri kita dengan orang lain karena akan stress. Jadi, hindari dan syukuri nikmati yang telah Allah beri. Katakan pada diri sendiri, “Aku tidak berusaha menjadi lebih baik dari orang lain. Aku hanya berusaha lebih baik dari diri ku yang dulu.”

–Hellen Patraliza

(3)

Pejuang dan pecundang sama-sama punya resiko atas tindakannya. Seorang pecundang berani mengambil resiko dari tindakannya, walau berakhir terhina. Seorang pejuang berani mengambil resiko dari tindakannya dan berakhir mulia. Pilihan akan menentukan hasil yang didapatkan.

–Syasha Lusiana

(4)

Jika hati seseorang tersakiti dan dia lebih memilih diam, bukan pertanda bahwa dia lemah. Dia hanya tidak ingin ada hati kedua yang tersakiti seperti dirinya. Berbahagialah orang yang memiliki hati demikian, yang hatinya seluas samudera. Hingga luka dan perih dari segala penjuru, mampu ditampung dan didekap dengan senyuman.

–Eli Halimah

(4)

Tahaddu Tahabbu. Saling memberi hadiah akan menimbulkan rasa cinta dan kasih sayang. Rasulullah saw.  menganjurkan kepada umatnya untuk saling memberi hadiah dan menerima hadiah sekecil apapun nilainya.

–Meivany Azarini

(5)

Kita intensifkan interaksi dengan Al Qur’an dengan membacanya, mentadaburinya, mengamalkan dan mengajarkannya, semoga semakin meningkatkan ketaqwaan. Dengan taqwa Allah akan memberikan kemudahan jalan keluar dan memberikan rejeki dari arah yang tidak di sangka-sangka.

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya dia akan membukukakan jalan keluar baginya. Dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka. Dan barang siapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluannya). Sesungguhnya melaksanakan urusan-Nya. sungguh Allah telah mengadakan ketentuan baginya” (QS. At-Talaq : 2-3).

–Nur Pujiasih

(6)

Lembaran demi lembaran telah kita tuliskan dalam kehidupan kita. Kita berharap pada lembaran terakhir berisi lembaran kebaikan yang kita tidak tahu kapan lembaran terakhir itu tiba. Untuk itu, jangan pernah berhenti berharap untuk diberi kesempatan dan kekuatan untuk menuliskan kebaikan pada lembaran terakhir kita.

–Wydiesti   

(7)

Sukses itu bukanlah menjadi pejabat, pengusaha, memiliki harta melimpah, memiliki keturunan yang banyak atau ukuran-ukuran duniawi lainnya. Sejatinya sukses itu adalah seiring bertambahnya nikmat Allah, maka semakin bertambah pula takwanya.

–Atifah Saleha

(8)

Tak sepantasnya seseorang bergulana akan nasibnya. Khawatir rezekinya tak cukup untuk keluarganya, khawatir hidupnya sengsara di masa mendatang, khawatir orang-orang menjauhinya setelah jabatan meninggalkannya. Atas kuasa Allah binatang melata tak pernah kelaparan. Mereka yang tanpa akal, hidup tumbuh dan  berkembang. Nikmati dan syukuri, manusia adalah sebaik-baik mahluk ciptaannya

(9)

Hampir semua manusia menginginkan jabatan dalam hidupnya, menjadi pemegang kendali utama dalam karirnya. Bahkan beberapa orang rela mengorbankan cintanya hanya untuk mengejar jabatan dan harta, tanpa ia sadari di hatinya timbul rasa sombong dan angkuh.

Tahukah Anda bahwa, harta, jabatan termasuk golongan amanah Allah yang dititipkan pada orang-orang yang Ia kehendaki sebagai ujian untuk-Nya. Kelak akan diminta dipertanggungjawabnya. Jika Allah berkehendak, akan sangat mudah bagi-Nya melepaskan harta, jabatan yang dimiliki oleh para penguasa.

–Warlinah

(9)

Kepercayaan atau keyakinan merupakan inti dari kehidupan. Apa yang menjadi keyakinan dalam hidup seseorang itulah yang akan menjadi kunci pembuka keberhasilannya. Keyakinan yang paling menjanjikan kesuksesan dalam ikhtiar apa pun, adalah keyakinan atau keimanan kepada Allah Swt.. Keyakinan bahwa Allah Maha segala. Bahwa jika Dia menghendaki, tiada sesuatu pun yang mustahil bagi-Nya.

“Dan janganlah kamu (merasa) lemah, dan jangan (pula) bersedih hati, sebab kamu paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang yang beriman” (QS. Ali Imran : 139).

–Junayda

(10)

Ketika kita dikelilingi oleh orang-orang toksik –menurut kita, jangan terburu-buru menghakimi mereka. Introspeksi saja dulu. Boleh jadi, Allah hadirkan mereka itu, justru karena kitanya sendiri juga toksik.

–Dewi Indrayati

(11)

Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian. Every life has a measure sorrow and happy. Setiap masa memiliki ukuran sedih dan bahagia. Semua Allah ciptakan dengan perhitungan-Nya. Takdir Allah selalu baik walau kadang kita keliru menilai di awalnya.

–Yulia K Rohima

(12)

Berbaktilah kepada orang tua selagi beliau masih ada bersama kita karena ketika mereka sudah tiada tak ada lagi yang bisa kita berikan kecuali doa-doa. Allahummaghfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira. “Ibumu, ibumu, ibumu, cintanya selalu ada untukmu, doanya selalu terpanjat untukmu, senyumnya selalu menghiasi harimu, menjadi jalan surga bagimu”.

–Dwi Handayanti

(13)

Ramadan yang kita nanti-nantikan kedatangannya dengan penuh kerinduan kini telah berlalu sebagiannya. Mari bercermin diri, sudahkah kita manfaatkan dengan mengumpulkan sebanyak mungkin pahala dan mengejar ampunan Allah sebagai bekal menghadap-Nya?

Jika kita telah mengisinya dengan berburu amal kebaikan, Istiqomahlah. Jangan sampai hari yang tersisa semangat kita justru kendor. Futur, melemah setelah sebelumnya dia begitu kuat. Tersibukkan euforia menyambut Idul Fitri. Jika yang telah berlalu kita asik berlalai-lalai, saatnya meraih yang tersisa, menggenggamnya erat. Sibukkan diri kita dengan ibadah dan mempercantik akhlak.

–Leni Cahya

(14)

Allah akan berikan apa yang kamu inginkan. Jika ingin nikmat dunia maka Allah akan berikan jika inginkan nikmat akhirat Allah juga berikan. Jika ingin nikmat dunia maka akhirat akan sirna. Namun jika memilih nikmat akhirat dunia mengikutinya. Ibarat menanam padi rumput pun ikut tumbuh. Namun jika menanam rumput padi tidak ikut tumbuh.

Sebagaimana, Firman Allah Swt., “Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagianpun di akhirat.” (QS. Asy-Syura : 20).

–Ifah Latifah

(15)

Ketika dilempar dengan batu, pohon kurma akan menjawab dengan buah. Buah kurma ada setiap musim. Batang, buah dan daunnya dapat dimanfaatkan. Di padang pasir pohon kurma menjadi tempat berteduh para musafir. “Jadilah seperti kurma, banyak memberikan manfaat demi kepentingan orang lain, semaksimal dan sebisa mungkin.”

–Nunun Nurlaela

 (16)

Kita tahu untuk bekal pulang kampung, banyak persiapan dan bekalnya, apalagi untuk pulang ke kampung akhirat. Ibadah Ramadan itu salah satu bekal untuknya, saudaraku sudah siapkah bekalmu?

–Ayu Muliyati

(17)

Cukup bersandar kepada Allah saja karena Allah akan bersama kita. Maka jangan takut kepada selain-Nya. Namun, jika Allah sudah tidak lagi bersama kita, siapa lagi  yang bisa kita harapkan? Allah lebih dekat dari urat nadi dan kerongkongan kita. Allah  menuruti prasangka hamba-Nya. Teruslah mengucapkan kalimat thayyibah hingga kita lillah.

–Dede Nurjanah

(18)

Jangan mudah mengambil kesimpulan dari penglihatan mata, karena pandangan mata bisa menipu. Jangan cepat menilai orang lain dari tampilan luar, karena “casing” tidak menjamin sikap dan akhlak seseorang. Semangka kulitnya hijau sedang dalamnya merah. Durian berkulit duri sedang dagingnya lembut dan wangi. Pandanglah dengan kelembutan hati, kepekaan iman, dan prasangka baik, akan lebih adil untuk diri sendiri dan orang lain.

–Puspa Mafazan

(19)

Hubungan kita dengan manusia kadang tidak baik dan sulit untuk mendapat maaf. Jika ingin memperbaiki segala sesuatu urusan di dunia, maka perbaiki dulu hubungan dengan Sang Pencipta.

–Sri Rohmatiah

(20)

Menjadi suami atau istri tugasnya adalah berbuat yang terbaik untuk pasangan. Melakukan kewajiban sesuai posisi masing-masing. Bahkan melebihkan ‘memberi’ untuk meraih samara. Adapun kebagiaan pasangan merupakan tanggung jawab masing-masing. Bahagia itu pilihan. Bukan kewajiban pasangan memilihkan bahagia. Setiap orang bertanggungjawab untuk membahagiakan dirinya sendiri. Kendali perasaan 100% di tangan masing-masing. Dengan demikian anda menjadi insan merdeka. Tak terjajah atas respon orang lain.

— Ida Nur Laila

(++)

Tak mudah menjadi pemimpin. Karena ia harus memberikan keteladanan dalam kebaikan. Kouzes dan Posner  (2007) menyatakan, memimpin itu artinya Anda harus menjadi contoh yang baik, dan mewujudkan apa yang Anda katakan. Menurut Kouzes dan Posner, perbuatan pemimpin jauh lebih penting dari perkataannya. Pemimpin harus menunjukkan contoh terlebih dahulu dalam tindakan sehari-hari dan mempertunjukkan komitmen yang mendalam atas apa yang diyakininya. Anda siap menjadi pemimpin?

–Cahyadi Takariawan

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.