Kembali
Keluarga

5 Tips Memuliakan Istri


Oleh: Mas Nashihin

Wanita (istri) adalah makhluk mulia yang harus dijaga dan dilindungi. Keberadaanya di dalam rumah tangga sangat penting dan strategis. Dikatakan penting karena kedudukannya menjaga aktivitas di dalam rumah. Dikatakan strategis karena fokus kerja seorang istri adalah memastikan pengelolaan rumah tangga berjalan dengan baik.

Secara jelas, istri adalah pengemban tugas berat di dalam rumah tangga, ia menjadi sosok yang mesti dijaga, dilindungi, disemangati, dihibur, diperhatikan, dicerahkan, dan tentu dibahagiakan. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah sebagai berikut.
“Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik bagi istrinya dan aku adalah orang yang terbaik di antara kalian terhadap istriku.” (HR Thirmidzi, Ibnu Majah. Disahihkan oleh Syaikh Al-Albani)

Menurut hadits tersebut, seorang suami harus memuliakan istrinya karena istri adalah pemilik peran yang besar dalam membangun rumah tangga. Untuk itulah kewajiban suami untuk memuliakan istrinya.

Berikut adalah lima tips memuliakan seorang istri.

1. Bergurau dan Bercanda dengan Istri
Bercanda suami-istri itu penting untuk mencairkan suasana dan menjalin keakraban. Hal ini perlu dilakukan agar suasana di dalam rumah penuh dengan keceriaan dan riang gembira.

    Dengan bercanda antara suami dan istri diharapkan bisa memecah kebekuan dan kekakuan atau gesekan yang terjadi di dalam rumah tangga.

    Rasulullah saw. pernah bergurau dan bercanda dengan istrinya, Aisyah r.a.. sebagaimana riwayat berikut ini.
    “Dari Aisyah r.a., ‘Rasulullah berlari di depanku, lalu aku berlari mengejarnya. Setelah aku bertambah gemuk, dan aku berlari di depan beliau, beliau dapat mengejar aku.’ Kemudian Rasulullah bersabda, ‘Sekarang, kedudukannya satu-satu.’” (HR Ahmad dan Abu Dawud)

    Bentuk candaan bisa beragam sesuai kebutuhan dan kondisi masing-masing dengan mengambil momen yang tepat. Seorang suami perlu mengambil inisiatif dan berperan untuk memulai candaan atau bisa juga sang istri yang memulai.

    2. Memberikan pujian dan kata-kata yang lembut kepada istri
    Pujian atau sanjungan perlu disampaikan ke istri sebagai bentuk apresiasi kepadanya atau untuk menyenangkan hatinya.

      Dalam hal ini, Rasulullah saw. pernah berkata kepada istrinya, “Aku diberi rezeki berupa rasa cinta kepada engkau, wahai istriku.” (HR Muslim)

      Kalimat yang disampaikan Rasulullah tersebut terlihat sederhana, tetapi memiliki makna yang dalam dan bisa menjadikan istri merasa senang dan tersanjung.

      Dengan demikian, hal yang perlu menjadi perhatian seorang suami adalah bahwa memuji istri itu sangat bermanfaat, di antaranya dapat menghilangkan rasa lelah dan penat setelah seharian bekerja, dapat menyehatkan psikis istri dan lingkungan di dalam rumah tangga, juga menumbuhkan perasaan cinta di dalam hatinya sehingga akan memancarkan kebahagiaan bagi seluruh keluarga.

      3. Memenuhi hak istri sesuai ketentuan syariat
      Seorang suami yang baik dan bertanggung jawab akan berusaha keras untuk memenuhi hak istrinya. Rasullah saw. bersabda, “Dan mereka (para istri) mempunyai hak diberi rezeki dan pakaian (nafkah) yang diwajibkan atas kamu sekalian (wahai para suami).” (HR Muslim)

        Bahkan, bukan hanya memberikan nafkah rutin, tetapi juga perlu memberikan nafkah tambahan dalam bentuk lain, baik berupa hadiah, reward, melebihkan nafkah, walaupun mungkin pada saat itu kondisi keuangan suami sedang pas-pasan. Dengan melakukan ini, insya Allah, akan bisa mengudang datangnya rezeki yang lebih banyak dan manambah keberkahan.

        4. Melayani istri dengan baik
        Yang utama dalam memuliakan istri adalah melayaninya dan memberikan kasih sayang kepadanya. Seorang suami harus menerima segala kekurangan dan kelebihan istrinya dengan tulus dan ikhlas.
        Bentuk pelayanan yang dilakukan Rasulullah kepada istrinya, di antaranya dengan makan malam bersama, tidur bersama dalam satu selimut, dan berbincang-bincang sebelum tidur, bahkan beliau pernah mandi bersama Aisyah.
        Selain itu, seorang suami juga perlu ngobrol ringan di sudut rumah yang lain atau di luar rumah tanpa pegang HP dengan penuh perhatian sembari minum dan makan-makan, bernostalgia, dan lain-lain.

          Kemudian, mengingat kondisi istri yang selalu lelah dengan tugas sehari-hari di dalam rumah atau di luar rumah, terlebih bagi istri pekerja, seorang suami perlu membantu tugas-tugas rumah tangga, seperti menyapu, mengepel, mencuci piring atau mencuci pakaian, dan lain-lain. Semakin sering pekerjaan ini dilakukan oleh suami maka akan sangat membantu dan meringankan tugas istri.

          Sekali lagi, kelelahan yang kerap dirasakan oleh istri maka suami perlu mengambil inisiatif untuk menguranginya dengan memberikan perhatian dan peduli, seperti memijitnya sembari ngobrol ringan atau bercanda ringan. Insya Allah, perlakuan ini akan sangat menyenangkan istri. Semakin sering dilakukan maka akan semakin baik.

          5. Memberikan kenyamanan kepada istri.
          Rasulullah saw. sangat mengutamakan kenyamanan istrinya, terutama ketika sedang dalam perjalanan. Dalam hal ini, terdapat suatu riwayat yang menggambarkan perlakuan Rasulullah terhadap salah satu istrinya, yaitu dari Anas, ia berkata,
          “Kemudian kami pergi menuju Madinah. Aku lihat Rasulullah menyediakan tempat duduk yang empuk dari kain di belakang beliau untuk Shafiyyah (salah satu istri Rasulullah,) kemudian beliau duduk di samping untanya sambil menegakkan lutut beliau dan Shafiyyah meletakkan kakinya di atas lutut beliau sehingga ia bisa menaiki unta tersebut.” (HR Bukhari)

            Membuat istri merasa nyaman sangat penting, terutama pada saat berkendara, baik saat mengendarai mobil atau motor atau pun yang lainnya. Pada saat itu, perlu dipastikan istri merasa nyaman saat berkendara bersama suaminya.

            Suasana rumah pun mesti memberi rasa aman dan nyaman bagi istri dan penghuni lainnya. Sebagai contoh, ketika ada tamu, diupayakan ruang gerak istri di dalam rumah tetap merasa nyaman. Tata letak rumah perlu dibuat sedemikan rupa sehingga bagian dalam rumah tidak terlihat oleh tamu dan istri bisa leluasa bergerak tanpa harus memakai hijab.
            Istri juga bisa leluasa keluar-masuk rumah tanpa merasa risih dan tamunya juga tidak merasa terganggu karena istri bisa keluar rumah lewat pintu belakang atau bagian pintu yang lain.

            Dari gambaran apa yang dilakukan Rasulullah terhadap istrinya, terlihat nyata bahwa pelayanan dalam rumah tangga tidak mutlak dilakukan istri terhadap suaminya, namun istri juga berhak mendapat pelayanan paripurna dari suaminya.

            *Penulis adalah anak pantura penyuka seorang istri.

            Ditulis oleh ruangkeluarga

            Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.