Kembali
Habit Menulis

6 Langkah Disiplin Menulis

Oleh : Cahyadi Takariawan

The mark of a successful writer isn’t their talent, but their discipline to write

(David Safford, 2017)

Kembali saya ajak Anda membangun sesuatu yang berharga untuk modal menulis. Membangun itu kata kerja aktif, melakukan sesuatu untuk mewujudkannya. Saya mengajak Anda membangun lima modal dasar untuk menjadi penulis, yaitu HTDKW —hasrat, tekad, disiplin, komitmen dan waktu untuk menulis.

Pada postingan sebelumnya, telah saya sampaikan modal dasar pertama, berupa hasrat, dan modal kedua, yaitu tekad. Pada postingan kali ini, akan saya sampaikan modal dasar ketiga, yaitu disiplin dalam menulis. Untuk menulis dan menjadi penulis, yang harus Anda miliki bukanlah bakat, bukan pula mood. Abaikan itu —jika Anda merasa tidak memilikinya. Anda hanya perlu membangun disiplin yang kuat dalam diri Anda untuk menulis dan terus menulis.

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), disiplin adalah ketaatan (kepatuhan) kepada peraturan (tata tertib dan sebagainya). Dalam konteks menulis, yang Anda perlukan adalah ketaatan dan kepatuhan terhadap aturan menulis yang sudah Anda buat untuk diri Anda sendiri. Di antara aturan menulis untuk para pemula yang baru belajar menulis adalah ketetapan tentang Zona Waktu Menulis (ZWM), Zona Tempat Menulis (ZTM), dan Sarana Khusus Menulis (SKM).

Apakah menulis sekaku itu? Tidak. Sama sekali tidak. Itu hanya upaya menghadirkan disiplin menulis, budaya menulis, jiwa menulis dan habbit menulis pada diri Anda. Anda tidak mugkin menjadi legenda sekarang, namun Anda bisa menjadi penulis sekarang. “Pride says you must be a master writer now. The truth is, you just need to practice” (David Safford, 2017). Yang Anda perlukan untuk menjadi seorang master dalam bidang kepenulisan adalah disiplin terus menulis.

Saya mengajak Anda untuk mewujudkan disiplin menulis, dengan enam langkah berikut ini.

  • Memahami tradisi kehidupan Anda sendiri

Jika selama ini Anda merasa tidak bisa disiplin menulis, pahami sebab apa tidak disiplin itu terjadi pada diri Anda. Anda harus menemukan jawaban, sebab apa, atau hal apa yang menjadi kendala apa dalam menciptakan disiplin menulis. Jika Anda tidak tahu kendala untuk disiplin, sepertinya sulit untuk mengatasinya. Coba pahami tradisi dan kebiasaan keseharian Anda, dan kenali apa kendala Anda untuk disiplin menulis.

Peraih Nobel 2003 bidang sastra kelahiran Afrika Selatan, J.M. Coetzee biasa mengalokasikan setidaknya satu jam di meja tulisnya setiap pagi. Stephen King, sebagaimana ditulis oleh Lisa Rogak dalam buku Haunted Heart: The Life and Times of Stephen King, memiliki rutinitas menulis yang ajeg setiap hari. Dia memiliki waktu yang ajeg untuk menulis. Duduk di kursi yang sama, dengan peralatan yang selalu diletakkan di tempat yang sama, menyediakan hal-hal yang sama di meja kerjanya.

“Ada hal-hal tertentu yang saya lakukan jika saya duduk untuk menulis”, ujar King. “Saya sediakan segelas air atau secangkir teh hangat. Saya duduk dari pukul 8.00 sampai 8.30 di suatu tempat setiap pagi. Vitamin dan musik, menemani saya duduk di kursi yang sama. Semua kertas diatur di tempat yang sama. Saya melakukan hal-hal ini dengan cara yang sama setiap hari, untuk mengatakan kepada diri sendiri, ‘Kamu akan segera memasuki alam mimpi”.

Anda bukan Coetzee, pun bukan Stephen King. Maka kenali tradisi hidup Anda sendiri, temukan kendala yang Anda temui untuk menciptakan disiplin diri.

  • Mulai menulis setahap demi setahap

Berapa menit waktu yang bisa Anda alokasikan untuk menulis hari ini? Berapa kata yang bisa Anda tuliskan? Berapa karakter yang bisa Anda torehkan? Tidak masalah. Mulailah menulis setahap demi setahap, sesuai kemampuan Anda, namun terus meningkat, dari hari ke hari. Menulislah dari bagian yang paling mudah, agar Anda lebih lancar melakukannya. Tidak perlu memilih bagian yang sulit, jika itu membuat Anda menyerah. Selalu mulai dari bagian yang paling mudah.

Miliki catatan progres Anda saat baru belajar menulis, berapa karakter bisa Anda tulis kemaren, berapa karakter bisa Anda tulis hari ini, dan begitu seterusnya. Anda akan mengetahui progres perkembangan kemampuan menulis, mengontrol kedisiplinan menulis, sekaligus menumbuhkan tradisi kedisiplinan. Menurut Jim Collins, budaya disiplin akan membentuk tanggung jawab. “In a culture of discipline, people do not have jobs; they have responsibilities,” ujar Collins.

  • Miliki ‘disiplin grup’

Salah satu sebab yang membuat Anda bisa disiplin adalah teman. Jika Anda masuk dalam komunitas menulis, terlibat aktif dalam percakapan di grup, aktif menerima tantangan dalam grup, maka Anda akan semakin disiplin menulis. Saya mengapresiasi aktivitas teman-teman komunitas KALIMAT —sebuah komunitas yang dimotori oleh pak Ade Zaenuddin— mengajak teman-teman alumni Kelas Menulis Online (KMO) Antologi Batch 2 / 2018, untuk membangun budaya menulis melalui komunitas. Ini sangat efektif untuk melejitkan kedisiplinan dalam menulis.

Bersyukur jika Anda memiliki mentor yang membimbing Anda menulis. Setiap hari Anda akan diingatkan untuk menulis —sepanjang Anda tidak bersembunyi atau melarikan diri, atau pura-pura tidak tahu ada postingan dari mentor Anda di grup menulis. Bersama mentor dan sahabat di komunitas menulis, Anda akan terpacu untuk tumbuh kembang bersama, sehingga memiliki disiplin dalam menulis.

  • Berikan penghargaan dan hukuman kepada diri Anda sendiri

Apa yang Anda sukai? Anda pecinta kopi? Hukum diri sendiri dengan tidak minum kopi sepekan apabila ada satu hari Anda tidak menulis apapun. Anda harus merasa layak dihukum, karena tidak disiplin. Berikan apresiasi kepada diri Anda sendiri apabila mampu mencapai target harian yang Anda tetapkan untuk menulis —misalnya bolehlah Anda minum dua cangkir kopi sehari. Anda layak mendapat penghargaan apabila Anda berhasil melampaui target yang Anda tetapkan sendiri. Hargai diri Anda sendiri, hargai prestasi Anda sendiri.

Metoda menghukum diri juga dicontohkan oleh para ulama dan orang-orang salih terdahulu tatkala mereka melakukan pelanggaran. Ini adalah metoda umum untuk memiliki kedisiplinan dalam bidang apapun. Apalagi jika disiplin model militer, sangat banyak jenis hukuman apabila melakukan pelanggaran.

  • Jangan lupakan ibadah, olah raga dan istirahat yang cukup

Sulit bagi Anda untuk disiplin, jika kondisi jiwa Anda tidak segar. Penyegar jiwa bagi insan religius adalah ibadah. Ini menjadi nutrisi ruhani agar terus menerus memiliki kekuatan spiritual yang membangkitkan disiplin menulis. Tanpa kesegaran ruhani, jiwa Anda akan kering kerontang, yang membuat Anda kehilangan isi dan esensi. Dalam agama Islam, sangat banyak metode penyegar jiwa melalui ibadah, seperti tilawah, dzikir, doa, serta berbagai ibadah nafilah lainnya.

Jangan lupakan kesegaran jasmani. Ditopang dengan olah raga rutin dan istirahat yang mencukupi, badan Anda akan semakin segar sepanjang hari. Ini akan menjadi faktor penunjang disiplin Anda untuk menulis.

  • Tentang keinginan untuk malas

Salah satu tarikan manusia adalah ingin duduk santai atau rebahan di pinggir pantai. Ini tentu boleh saja, namun jangan menjadi malas karenanya. Ciptakan rutinitas untuk berkontribusi melalui tulisan. “Here’s the kicker: You have to practice the daily discipline of giving. It is wildly opposed to our everyday human desires. We wish to be served, not the other way around”, ujar David Safford. Displin itu melakukan hal yang Anda bahkan tak ingin melakukannya.

Keinginan untuk malas menyebabkan Anda tidak akan sabar menempuh proses menjadi disiplin. “Developing this discipline takes time and sacrifice over many months and years”, ungkap Safford. Disiplin bukan sim salabim, disiplin bukan abrakadabra. Namun sesuatu yang diperjuangkan berbulan bulan atau bertahun tahun, sampai menjadi habbit. Sampai Anda sudah menikmati proses, dan menjadi jati diri Anda sendiri. Saat itulah Anda sudah menjadi penulis produktif.

Siapkah Anda untuk disiplin? Jika siap, Anda akan menjadi penulis produktif. Tantangan saya “The 100-Day Writing Challenge” sangat mudah Anda taklukkan dengan kedisiplinan. Yakin.

Bahan Bacaan

David Safford, Writing Discipline: Why Talent Isn’t Enough (And What You Need Instead), https://thewritepractice.com/

Jim Collins, A Culture of Discipline, www.jimcollins.com

Now Novel, Writing Discipline: 7 Strategies to Keep Writing Your Novel, www.nownovel.com

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.