Kembali
Teknik Menulis

7 Pedoman dalam Menuliskan Kisah Sendiri

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“So step into that place of discomfort and write the words that will bring freedom and meaning to your life”. Claire DeBoer

****************

Di Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku, sangat banyak pertanyaan tentang cara menuliskan kisah, kejadian atau pengalaman sendiri. “Bagaimana menuliskan pengalaman sendiri dalam bentuk karya nonfiksi? Saya ingin menulis kisah anak saya yang mengalami kesulitan belajar dan akhirnya saya menemukan solusinya” (Retno Sri, KMO Batch 32 / 2020).

Berikut saya sampaikan beberapa pedoman dalam menuliskan kisah, kejadian atau pengalaman sendiri. Bentuknya tulisan nonfiksi. Asumsinya, tulisan ini akan diterbitkan menjadi buku mandiri.

  • Buat plot atau kerangka tulisan

Pertama kali, buatlah plot atau kerangka (outline) tulisan. Dari kisah, kejadian atau pengalaman tersebut, rincikan menjadi poin-poin pembahasan. Pembuatan plot atau kerangka tulisan ini bisa berdasarkan kronologis waktu kejadian, atau berdasarkan nilai penting dari kejadian, atau poin pelajaran yang hendak diambil.

Karena menulis nonfiksi, maka kerangka tulisan harus berdasarkan kejadian nyata, bukan khayalan atau imajinasi. Seluruh bagian dari tulisan, dari awal sampai akhir, adalah penuturan tentang kejadian atau kisah, yang disertai dengan pembahasan. Kejujuran penulis menjadi dipertaruhkan.

Cara membuat plot atau kerangka, sesuai kebiasaan masing-masing saja. Tidak ada aturan baku. Bisa dengan diagram, flowchart, narasi, atau cara-cara lain yang biasa dilakukan. Kerangka berfungsi untuk membatasi pembahasan, sekaligus untuk menjaga agar alur tulisan bisa logis serta sistematis.

  • Definisikan pelajaran penting yang hendak Anda tuliskan

Dari awal, Anda sudah harus mendefinisikan pelajaran penting apa dari kejadian atau kisah tersebut. Cara menuliskan pelajaran penting, bisa dimasukkan langsung ke dalam pembahasan, atau dibuat bagian khusus untuk lebih menonjolkan hikmah. Dari sebuah kejadian, bisa diambil sangat banyak pelajaran.

Buat dulu poin-poin pelajaran penting atau hikmah tersebut, agar Anda tidak lupa mencantumkannya saat mulai menulis. Dari berbagai poin pelajaran penting, Anda bisa memilih satu atau dua poin yang paling penting untuk ditonjolkan bahkan bisa dipilih menjadi quotes.

  • Tidak hanya telling, namun showing

Sampaikan kisah Anda tidak semata dengan cerita (telling), namun penggambaran kondisinya (showing). Pada sinetron atau film, yang terjadi adalah showing melalui layar. Pada tulisan, akan sangat membosankan apabila hanya menekankan kepada cerita semata. Biarkan pembaca mengimajinasikan sendiri keadaan atau kejadian, melalui metode showing.

“Anak perempuanku sangat cantik”, adalah telling. Pembaca tidak mengerti seperti apa cantiknya anak perempuan itu. Telling langsung kepada kesimpulan, dan pembaca diajak untuk menerima kesimpulan tersebut.

“Rambutnya panjang menjurai, lehernya jenjang, bulu mata yang lentik, hidung mancung, bibir tipis, dagunya belah, kulit putih cerah”, adalah gaya showing. Pembaca berimajinasi tentang anak perempuan tersebut, lalu menyimpulkan bahwa ia adalah perempuan yang sangat cantik.

Lebih detail tentang gaya telling dan showing, bisa disimak kembali di sini.

  • Gunakan majas

Majas adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyampaikan pesan dengan cara kiasan. Penggunaan majas, sebagaimana dalam gaya penuturan showing, membuat tulisan terasa lebih hidup, tidak kaku. Salah satu jenis majas adalah metafora.

Kalimat “Engkau buah hatiku”, adalah contoh majas metafora tentang anak kesayangan. “Kamu matahari dalam hidupku”, atau “Kemarilah, bidadari kecilku”, juga contoh majas metafora. “Tindakanmu telah menghancurkan hatiku”, juga menggunakan majas metafora.

Kalimat bermajas seperti contoh di atas lebih indah dibandingkan dengan kalimat tanpa majas. “Kemarilah, bidadari kecilku”, terasa lebih indah dibandingkan dengan, “Kemarilah anak perempuanku”. Kalimat “Tindakanmu telah menghancurkan hatiku” lebih menyentuh, dibandingkan dengan “Tindakanmu membuatku sedih”.

  • Boleh menggunakan dialog

Meskipun tulisan nonfiksi, sebuah kisah nyata bisa ditulis dengan menggunakan dialog. Sering kali, dialog digunakan dalam menulis cerpen atau novel. Namun kisah berhikmah yang bergenre nonfiksi, boleh mencantumkan dialog. Dengan demikian, tulisan akan semakin hidup.

“Ibu harus berjanji, jangan memaksaku lagi”, ujar Rania suatu ketika.

Tentu saja aku kaget.

“Apakah ibu pernah memaksa kamu, Rania?” aku bertanya balik.

“Sering, sangat sering ibu memaksaku”, jawab Rania.

Dialog tersebut, memang terjadi dalam kenyataan. Artinya, bukan dialog imajinatif, bukan dialog karangan atau khayalan. Namun menuliskan isi dialog yang pernah terjadi antara Rania dengan sang ibu. Dengan menuliskan dialog, tulisan terasa lebih hidup dan segar.

  • Perkuat dengan data dan analisa

Kisah, pengalaman atau kejadian yang Anda alami, bisa Anda perkuat dengan data-data dan analisa yang mendukung. Misalnya, pada tulisan tentang anak yang kesulitan belajar, sebagaimana kisah mbak Retno Sri (KMO 32 / 2020) yang saya kutip di atas, bisa diperkuat dengan data jumlah anak Sekolah Dasar yang mengalami masalah serupa. Data harus diambil dari sumber yang kompeten dan dipercaya.

Bisa pula ditambahkan dengan analisa ahli, atau teori tentang perkembangan anak dari ilmu psikologi, misalnya. Hal ini akan lebih membuat berbobot tulisan, dan memberikan kemanfaatan lebih banyak kepada pembaca. Namun jika mengutip atau merujuk, harus disertakan sumber kutipan atau rujukan tersebut.

Contoh analisa. “Dalam buku The First Year of Life (1930), Charlotte Buhler menyatakan bahwa perkembangan kognitif anak telah diawali sejak dalam kandungan”. Kalimat seperti ini menjadi penguat dari kisah anak yang mengalami kesulitan belajar. Pendekatan teoritik bisa diungkapkan, untuk meninjau masalah secara akademik.

  • Biarkan emosi jiwa Anda terlibat di dalamnya

Mengalami peristiwa yang melelahkan, menakutkan, menakjubkan, atau menyenangkan, tentu melibatkan emosi jiwa Anda. Biarkan emosi jiwa Anda terlibat dalam proses menulis, dan mengalir bersama kalimat-kalimat yang Anda pilih. Tangis Anda menemani anak yang istimewa, lelah Anda membantu pembelajarannya, perjuangan Anda membuatnya bisa belajar, semua layak Anda sertakan getarannya.

Tanpa keterlibatan emosi jiwa dalam tulisan Anda, rasanya Anda hanya menulis berita. Menjadi kering dan kurang bisa menyentuh rasa pembaca. Atau seperti ungkapan Claire DeBoer, “Your story won’t resonate with others if it is void of emotion”.

Demikianlah cara menuliskan kisah, pengalaman dan kejadian sendiri menjadi buku. Bisa berupa narasi yang panjang dan berkesinambungan, bisa pula dipotong menjadi tulisan pendek-pendek, namun hasil akhirnya berupa buku.

Selamat berkarya.

Bahan Bacaan

Claire DeBoer, How To Write Your Story in 6 Steps, www.positivewriter.com

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.