Kembali
Keluarga

8 Karakter yang Harus Kamu Siapkan Sebelum Nikah

Oleh : Cahyadi Takariawan

Nikah atau belum nikah atau tidak nikah, kamu harus tetap menjadi orang baik. Harus tetap memiliki karakter yang positif, konstruktif dan kontributif.

Hal penting dan fundamental dalam menapaki kehidupan di muka bumi ini adalah pembentukan karakter. Menjadi apapun diri kamu kelak, bekal yang sangat fundamental adalah karakter. Baik buruknya karakter kamu, akan mempengaruhi kondisi karier, keluarga, persahabatan, dan kehidupan sosial kamu di masa yang akan datang. Maka persiapkan diri dengan pembentukan karakter pribadi yang baik.

Karakter pribadi seperti apakah yang harus dibentuk sejak dini pada diri kamu? Tentu berbagai karakter positif, konstruktif dan kontributif. Di antaranya adalah delapan karakter berikut.

1. Pribadi Salih dan Salihah

Sangat penting bagi kamu untuk membangun kesalihan pribadi. Orang salih atau salihah adalah orang baik. Salih (baik) dalam segala aspeknya. Salih dalam segala cakupan maknanya. Pondasi untuk membentuk pribadi salih / salihah adalah rasa takut kepada Allah, karena meyakini Allah selalu mengawasi semua tindakannya.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan  oleh hatinya dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya” (QS. Qaf : 16).

Orang-orang yang takut kepada Allah akan menjaga diri dari kecenderungan hawa nafsu yang menyimpang. Mereka inilah pemilik pribadi salih.

“Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)”. (QS. An-Nazi’at : 40-41)

Pribadi salih / salihah adalah mereka yang bertaqwa kepada Allah. Suatu ketika ada seorang laki-laki menghadap Hasan bin Ali, sembari bertanya, “Ya Hasan, puteriku akan dipinang, kepada siapakah aku harus menikahkannya?” Hasan bin Ali menjawab, “Nikahkan puterimu dengan orang yang bertakwa. Sebab bia ia mencintainya pasti akan menghormati dan memuliakannya, dan bila ia tidak mencintainya pasti tidak akan menzhalimi puterimu.”

Itulah karakter salih. Suami salih akan selalu menjaga, melindungi, menyayangi, dan mengasihi istri. Tak akan menyia-nyiakan atau mentelantarkan istri. Tak akan menyakiti dan melukai istri. Demikian pula istri salihah akan selalu menghormati suami, mentaati suami dalam hal yang tidak maksiat, selalu mengasihi, mnyayangi dan melayani suami sepenuh hati. Pun orangtua yang salih, akan selalu mendidik, mengarahkan, menyayangi dan mencintai anak sepenuh jiwa.

2. Pribadi Dewasa

Menikah dan hidup berumah tangga memerlukan kedewasaan dan kematangan kepribadian. Bukan hanya berumah tangga, bahkan dalam bekerja, berkarier, berorganisasi, maupun bermasyarakat, juga memerlukan karakter pribadi yang dewasa. Tahukah kamu, seperti apa pribadi dewasa itu? Menurut perspektif psikologi, seseorang yang memiliki pribadi dewasa, dalam dirinya terdapat ciri-ciri sebagai berikut:

a. Memiliki “sense of self” atau konsep diri yang kuat, seperti bisa mengambil keputusan untuk dirinya tanpa mengandalkan orang lain.

b. Dapat menjalin hubungan sosial dengan orang lain secara sehat, dalam jangka waktu panjang.

c. Memiliki kematangan emosional, mampu mengelola dan mengontrol emosi, sehingga kondisi mood-nya tidak bergantung kepada aksi atau reaksi orang lain.

d. Bisa menerima dirinya secara seimbang, misalnya mengetahui dan menerima kelebihan dan kekurangan diri, sehingga bisa bertindak dengan tepat.

e. Bisa menyusun argumen, pendapat, pandangan, dan persepsi yang logis dan masuk akal.

f. Bisa berpikir jangka panjang dan membuat perencanaan kehidupan.

g. Bertanggung jawab atas tindakan yang dilakukan.

h. Mampu mengelola konflik atau perbedaan dengan bijak.

Dari berbagai ciri-ciri dewasa menurut psikologi tersebut, apakah kamu sudah memiliki pribadi dewasa? Menjadi tugas kamu untuk mendewasakan pribadi. Sangat berbahaya, jika orang belum dewasa sudah menikah. Laki-laki dan perempuan yang tidak dewasa, jika mereka hidup berumah tangga, tidak akan bias bertahan lama. Mereka tidak bias mengendalikan emosi, tidak bias menyelesaikan masalah secara dewasa, tidak mampu menghadapi badai persoalan dalam kehidupan. Itulah sebabnya, menikah hanya boleh dilakukan oleh orang dewasa.

3. Pribadi Pembelajar

Sangat penting bagi kamu untuk memiliki jiwa pembelajar, yang terus menerus giat menambah ilmu pengetahuan, wawasan, namun juga ketrampilan. Kehidupan pernikahan adalah kondisi yang sangat dinamis, penuh dengan aneka warna keadaan. Kadang melewati suasana penuh keceriaan dan kebahagiaan, kadang harus melewati kesusahan dan kedukaan. Kita harus siap untuk terus belajar menghadapi semua kondisi kehidupan yang aneka rasa tersebut.

Sebanyak apapun kamu belajar dan mempersiapkan diri untuk membentuk rumah tangga, tetap saja ada bagian yang belum sempat kamu pelajari, saking banyaknya ilmu yang dibutuhkan. Karena kehidupan keluarga itu tidak flat, terus berubah dan berkembang dari waktu ke waktu. Selalu bertemu hal-hal baru. Benarkah? Coba kita tengok selintas saja, teori Duvall dan Milller mengenai “8 Stages of The Family Life Cycle”.

Menurut Duvall dan Miller, kehidupan dan perkembangan sebuah keluarga, akan melalui delapan tahap : Beginning Family / Keluarga Baru, Childbearing Family / Keluarga dengan Kelahiran Anak Pertama, Family With Preschoolers / Keluarga dengan Anak Pra-Sekolah, Family With School-age Children / Keluarga dengan Anak Sekolah, Family With Teenagers / Keluarga dengan Anak Remaja, Launching Family / Keluarga dengan Anak Dewasa, Middle‐age Family / Keluarga Usia Pertengahan, Aging Family / Keluarga Usia Lanjut. Coba kamu pelajari selengkapnya di sini.

Nah dari teori Duvall dan Miller itu saja sudah bias memberikan gambaran, bahwa kehidupan keluarga itu sangat dinamis. Tidak pernah berada dalam kondisi yang sama, terus menerus mengalami perkembangan dan perubahan. Oleh karena itu, pada setiap tahap kehidupan berumah tangga, semua orang harus bersedia untuk tetap belajar. Kita akan terus menerus belajar di sepanjang kehidupan berumah tangga. Itulah sebabnya butuh dicetak karakter pembelajar pada diri setiap orang. 

4. Pribadi Mandiri

Karakter yang juga sangat penting untuk kamu bentuk dalam diri adalah pribadi yang mandiri. Sebelum menikah, anak akan hidup dan bertanggung jawab kepada kedua orangtuanya. Namun setelah menikah, mereka lepas dari orangtua dan bertanggung jawab atas kehidupan keluarga yang dibangunnya bersama pasangan. Inilah maksud kemandirian, bahwa kamu sudah lepas dari orangtua. Kamu kelak harus eksis sebagai sebuah keluarga setelah menikah, dan lepas dari ketergantungan terhadap orangtua. Tentu kamu tetap wajib berbakti kepada kedua orangtua juga mertua, namun kamu sudah hidup sebagai keluarga mandiri.

Pribadi yang tergantung kepada orangtua, pada dasarnya akan menjadi kendala dalam membangun kebahagiaan sebuah keluarga. Setiap ada masalah, selalu curhat ke orangtua. Setiap ada konflik dengan pasangan, selalu mengeluh ke orangtua. Seperti ini adalah contoh pribadi yang tidak mandiri, karena secara mental masih bergantung kepada orangtua. Pada sisi lain, orangua harus memberikan kemandirian kepada anak yang sudah menikah untuk hidup sebagai sebuah keluarga baru, yang trerpisah dari orangtua. Orangtua jangan melakukan intervensi yang menghilangkan kemandirian anak.

5. Pribadi Kreatif dan Produktif

Hendaknya setiap diri berusaha untuk menjadi pribadi yang kreatif dan produktif dalam kebaikan. Kamu tidak perlu menunggu menikah untuk menjadi pribadi yang kreatif dan produktif, karena waktu yang kita miliki pada dasarnya sangat terbatas. Ada sangat banyak hal bisa kamu perbuat untuk kebaikan diri sendiri, teman-teman, lingkungan, masyarakat, bahkan bagi bangsa dan negara. Jadilah pemuda yang kreatif dan produktif, yang memanfaatkan semua waktu untuk hal-hal yang bermanfaat.

Jika sudah terbiasa kreatif memproduksi berbagai hal yang bermanfaat, akan membentuk kepribadian yang selalu bersemangat untuk menghasilkan karya nyata. Tidak suka membuang-buang waktu, tidak menyia-nyiakan waktu, tidak melakukan hal-hal yang sia-sia. Setelah menikah nanti, kamu akan memiliki sangat banyak peran dan amanah yang harus ditunaikan. Jika semasa remaja dan muda terbiasa hidup santai, foya-foya, membuang-buang waktu untuk hal-hal yang sia-sia, maka saat menikah nanti bisa menjadi kendala. Bisa jadi ada banyak peran yang tidak terlaksanakan dan terabaikan karena kebiasaan bersantai dan berleha-leha.

Kadang dalam kehidupan rumah tangga, pasangan suami istri harus mengalami berbagai kesulitan, misalnya kesulitan ekonomi. Jika sudah memiliki pribadi kreatif dan produktif, akan mudah mencaro solusi atas kesulitan ekonomi tersebut. Inilah pentingnya menyiapkan pribadi yang kreatif dan produktif karena hidup itu tidak pernah rata, selalu penuh warna dan dinamika.

6. Pribadi Kuat, Tahan Banting

Sejak usia muda, hendaknya kamu memiliki pribadi yang kuat, yang siap menanggung berbagai beban berat dan tahan banting. Karakter ini akan mencetak etos kerja yang kuat, sekaligus mampu menanggung banyak beban dalam kehidupan. Laki-laki harus kuat, karena kelak ia akan menjadi pemimpin keluarga. Ia harus menjaga dan melindungi keluarga. Ia harus mencukupi kebutuhan hidup istri dan anak-anak. Jangan menjadi lelaki cengeng yang mudah mengeluh dan mudah berputus asa, karena sifat seperti ini sangat mengganggu kehidupan berumah tangga nantinya.

Perempuan harus kuat, karena kelak ia harus mengandung dan melahirkan anak. Ia harus membawa serta janin kemanapun dan dimanapun, selama sembilan bulan. Ia harus berjuang menjaga kehamilan, kelahiran, dan membersamai bayi setelah kelahirannya. Ia harus tega, harus rela, berinteraksi dengan hal-hal yang semula dianggap menjijikkan. Ia harus mengurus bayi, bukan saja kelucuannya, namun juga kotorannya. Bukan saja menggemaskannya, namun juga di saat sakitnya.

Jika sejak muda kamu sudah memiliki pribadi yang kuat dan tahan banting, maka peristiwa yang paling sulit sekalipun setelah hidup berumah tangga nantinya, akan bisa kamu hadapi dengan sukses. Berbeda dengan mereka yang berjiwa lemah, yang manja dan kekanak-kanakan. Tidak siap dan tidak sanggup menghadapi kesulitan hidup. Pribadi seperti ini menjadi penyebab kerapuhan sebuah keluarga.

7. Pribadi Penyabar, Penyayang, Pengasih

Sejak usia muda, ciptakan karakter sabar, penuh cinta kasih dalam diri kamu. Jangan membiarkan diri kamu terbiasa melampiaskan emosi secara semena-mena. Jangan terbiasa mengekspresikan kemarahan, kekesalan serta kejengkelan dengan cara-cara yang bisa merugikan diri sendiri maupun orang lain, karena ini pertanda kamu bersikap tidak dewasa.

Kelak dalam kehidupan berumah tangga, kamu akan bertemu dengan banyak kejadian dan peristiwa, yang tidak selalu sesuai dengan keinginan kamu. Sebelum menikah kamu memiliki ekspektasi tentang pasangan dan tentang kondisi ideal sebuah keluarga. Namun seluruh ekspektasi itu belum tentu bisa menjadi kenyataan, karena ada sangat banyak faktor yang menyertainya. Jika kamu tidak memiliki jiwa sabar, kamu akan uring-uringan setiap hari.

Jika kamu memiliki pribadi yang sabar dan penuh kasih sayang, akan mudah menyenangkan dan membahagiakan pasangan. Kendati kamu akan melewati konflik, pertengkaran, percekcokan dengan pasangan, namun karena kamu memiliki karakter yang penyabar, kamu tetap bersikap “cool: dalam melewati semua dinamika itu. Walau kadang tersakiti oleh ucapan atau perbuatan pasangan, kamu tetap bias memberikan cinta kasih kepadanya. Dengan modal karakter ini, kamu akan lebih mudah untuk membentuk keluarga yang sakinah, mawadah warahmah.

8. Pribadi Resilien

Pribadi yang resilien adalah pribadi yang memiliki resiliensi, atau pribadi yang memiliki daya lenting tinggi. Yang dimaksud dengan resiliensi (daya lenting / kelentingan) adalah kemampuan untuk kembali ke level semula setelah mengalami keterpurukan, atau kedukaan. Pribadi yang resilien, memiliki kemampuan untuk cepat bangkit apabila sempat mengalami guncangan permasalahan. Pribadi yang resilien, mudah memaafkan kesalahan orang lain, dan mudah sembuh dari kesakitan yang muncul akibat perlakuan orang kepada dirinya. Pribadi yang resilien, bukan saja tangguh dan tahan banting, namun cepat melenting bangkit apabila sempat mengalami keterpurukan.

Pribadi yang tidak resilien, sangat sulit untuk bangkit dan kembali ke kondisi semula, apabila sempat mengalami keterpurukan. Mereka juga sulit memaafkan orang lain, pendendam, dan memerlukan waktu lama untuk sembuh dari rasa sakit akibat perlakuan orang kepada dirinya. Apabila kecewa, pribadi seperti ini tidak segera bias segera sembuh dari kekecewaannya. Ini adalah pribadi yang lemah dan labil, yang memiliki ‘plafon jiwa’ yang rendah.

Hendaknya setiap laki-laki dan perempuan lajang memahami, bahwa sebaik apapun pasangan hidup yang jelak mereka dapatkan, tetap saja memmiliki sisi-sisi kelemahan dan kekurangan yang kelak akan menjadi sumber kekecewaan. Oleh karena itu, siapkan diri untuk bias menampung berbagai hal yang tidak sesuai harapan atau tidak sesuai ekspekstasi yang dibangun sebelum menikah. Inilah pondasi bagi terbentuknya pribadi resilien.

Demikianlah delapan karakter penting yang harus kamu siapkan sejak dini, untuk menghadapi kehidupan pernikahan, keluarga, bermasyarakat, bekerja, berkarier, beroganisasi, berbangsa serta bernegara. Berbekallah dengan sebaik-baik perbekalan.

Pasarminggu, 30 November 2018

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.