Oleh : Ummu Rochimah
Orang tua juga manusia punya salah dan terkadang lupa, karena itu jangan pernah berhenti belajar bagaimana menjadi orang tua untuk meminimalisir kesalahan dalam mendidik anak
Berikut beberapa kesalahan yang sering terjadi pada orang tua dalam mendidik anak-anak :
1. Sering mengeluarkan kata-kata yang buruk, seperti makian, sumpah serapah, atau kutukan pada anak
Sebagai orang tua harus menyadari bahwa ucapan yang keluar dari mulut orang tua dapat menjadi do’a bagi anaknya. Karena itu, berhati-hatilah dalam mengeluarkan ucapan.
Latih dan biasakanlah untuk mengucapkan kata-kata positif atau dzikir, sekalipun dalam kondisi sedang emosi karena ulah anak.
Satu contoh yang sangat menginspirasi bagi orang tua dalam berkata-kata adalah ibunda Syaikh Abdurrahman as Sudais saat beliau masih kecil. Sebagaimana anak kecil lainnya yang terkadang berperilaku nakal layaknya anak-anak.
Suatu saat ibunda Syaikh as Sudais sedang menyiapkan jamuan untuk para tamu, tiba-tiba as Sudais kecil datang sambil membawa segenggam abu dan ditaburkan di atas makanan. Alih-alih marah dan berkata buruk atau sumpah serapah kepada Sudais kecil, ibundanya walaupun marah, namun yang terucap dari mulutnya justru kalimat, “Idzhab ja’alakallahu imaaman lil haramain!” (-pergi, biar Allah jadikan kamu imam di Haramain!-) dan ternyata di kemudian hari doa ini terbukti, hari ini Syaikh Abdurrahman as Sudais menjadi imam di Masjidil Haram.
Marahnya seorang ibu yang mencintai anaknya, kata-katanya tetaplah berupa doa bagi sang anak..
2. Sering membanding-bandingkan anak, baik dengan saudara kandungnya maupun dengan anak orang lain.
Every body ia unique. Setiap orang itu punya kekhasan masing-masing. Itulah mengapa tidak ada satupun manusia di dunia ini yang memiliki sidik jari yang sama. Setiap anak memiliki pribadinya masing-masing. Tak bisa dibandingkan satu sama lain.
Terimalah anak seutuhnya, dengan segala bentuk kepribadiannya. Cintailah anak apa adanya. Jangan pernah membandingkan dengan anak yang lain. Misalkan dengan ucapan, “Masa kakak ngerjain seperti itu aja ngga bisa, ngga kayak si adek, ngerjain itu bisa cepet selesai..!” atau “Gimana sih adek masa nilai raportnya ngga kayak kakak, bagus semua nilainya..!” atau membandingkan dengan teman-temannya. Setiap anak itu terlahir cerdas, mereka membawa kecerdasannya masing-masing. Setiap anak itu juara bagi orang tuanya.
Tidak ada orang yang akan merasa nyaman ketika dibandingkan dengan orang lain, apalagi saat kelemahan yang ada dalam dirinya dibandingkan dengan orang lain.
Sekalipun ingin membandingkan anak, bandingkan lah anak itu dari waktu ke waktu. Bandingkan ia hari ini dengan hari kemarin, bulan ini dengan bulan yang lalu, tahun ini dengan tahun lalu. Beri apresiasi atas semua pencapaian yang berhasil anak lakukan, walau pencapaiannya kecil sekalipun.
3. Memarahi anak di depan orang lain
Tak ada seorangpun manusia yang suka bila harga dirinya ditusuk, seorang anak kecil sekalipun. Memarahi anak di depan orang lain atau di depan teman-temannya akan mengakibatkan terusiknya harga diri anak.
Contoh kasus, ketika anak-anak sedang bermain bersama temannya, secara tidak sengaja ia mendorong temannya hingga terjatuh, orang tua yang melihat peristiwa itu langsung memarahi sang anak di depan teman bermainnya, “Kamu gimana sih main kok kasar gitu, dorong-dorong sampai temanmu jatuh!” Bahkan ekstrimnya lagi sambil ‘ditonyor-tonyor’ kepala sang anak.
Dampak yang muncul di kemudian hari akibat dari orang sering memarahi anak di depan orang lain, di antaranya; anak tidak memiliki self esteem, atau penghargaan terhadap dirinya sendiri. Ia menjadi seorang yang sangat rendah diri, tidak memiliki kepercayaan diri sehingga akan menjadi pribadi yang sering mengeluh dan mudah berputus asa.
4. Menyetir anak supaya menjadi seperti yang orang tua inginkan
Anak itu bukan tempat pelampiasan ambisi orang tua, menaruh harapan kepada boleh, tapi jangan sampai kebablasan. Orang tua yang pernah punya cita-cita menjadi dokter namun tidak kesampaian boleh saja menceritakan perjalanan cita-citanya kepada anak, tapi jangan kemudian meminta anak untuk punya cita-cita yang sama dengannya.
Orang tua harus mampu memilah mana ambisi pribadi dan mana keinginan anak. Terkadang karena posisi anak yang secara hierarki berada dibawah orang tua, mereka sering tidak mempunyai kesempatan untuk menunjukkan keinginan dan harapannya.
Dengan dalih, semua untuk kebaikan anak. Seringkali orang tua ‘memaksakan’ keinginannya kepada anak. “Papa Mama lebih tahu mana yang terbaik untuk kamu” atau “Bapak udah jauh lebih banyak pengalaman hidupnya, tahu mana baik buat kamu.” ini biasanya menjadi senjata pamungkas untuk membuat anak menuruti kemauan orang tuanya.
Biarkan anak memilih jalan perjuangannya sendiri, selama hal itu tetap berada dalam koridor syariah. Orang tua mendukung dan membimbing agar anak tidak melenceng dari jalan yang benar.
5. Selalu menuntut anak untuk mendapatkan nilai yang terbaik dan tidak mentolerir kegagalan
Karena bayangan kekhawatiran orang tua akan masa depan anak, seringkali orang tua menerapkan cara-cara perfeksionis untuk anak. Anak tidak boleh mengalami kegagalan. Untuk menghindari perihnya rasa kegagalan, anak dipaksa untuk mengikuti berbagai macam kegiatan, mulai dari bermacam-macam les, bimbingan belajar, dan sebagainya. Karena orang tua berpikir itu jalan keselamatan bagi anak dari jurang kegagalan. Padahal tidak seperti itu.
Orang tua yang bijak, akan memberikan ruang untuk anak mengalami kegagalan dan membiarkan mereka belajar dari kegagalan yang dialaminya. Tidak serta merta menyalahkan anak ketika mengalami kegagalan. Orang tua berada di sisi dan dibelakang anak untuk mendampingi dan mendukung anak dalam bangkit dari kegagalannya.
6. Jarang berinteraksi atau mengobrol bebas dengan anak
Sebagai orang tua, apakah kita benar-benar tahu kegiatan kesukaan anak? Pelajaran yang mereka anggap paling sulit? Siap nama-nama temannya dan siapa temen terdekat mereka? Apa saja yang terjadi pada mereka hari ini?
Semuanya itu hanya bisa diperoleh dengan cara mengobrol bebas dengan mereka, tanpa sekat jarak sebagai atasan dan bawahan yang penuh dengan instruksi. Atau sekat sebagai sosok superior dan inferior yang penuh dengan petuah dan nasihat.
Semakin banyak obrolan terbangun antara anak dan orang tua, akan semakin kecil celah di antara mereka. Celah yang dapat disusupi oleh paham-paham dan nilai-nilai yang jauh dari nilai kekeluargaan.
7. Orang tua merasa cukup dengan ilmu ‘ke-orang tua-an’ saat ini, enggan meningkatkan kapasitas dirinya sebagai orang tua dengan memperdalam ilmu parenting
Tidak ada sekolah formal untuk menjadi orang tua. Semua orang tua seperti diterjunkan langsung dalam kancah ‘per-orang tua-an’ begitu mendapatkan anak dari hasil pernikahannya. Tidak ada satu pun ilmu parenting yang dapat begitu saja diterapkan mentah-mentah dalam sebuah keluarga. Karena setiap keluarga memiliki ‘nilai’ yang ingin mereka bangun dalam keluarga tersebut.
Hanya dengan cara belajar dan terus belajar yang tidak pernah terputus dalam bidang ilmu ‘ke-orang tua-an’ yang akan membuat orang tua mampu menjalani peran sebagai orang tua dengan baik.
Ilmu parenting adalah disiplin ilmu yang selalu berkembang mengikuti perubahan zaman. Jika ada orang tua yang tidak mau meningkatkan kapasitasnya sebagai orang tua, karena merasa sudah cukup dengan ‘ilmu turunan’ maka sejatinya ia sedang mempersiapkan anak-anaknya menuju jurang kehancuran.
Sebagaimana pepatah mengatakan, “Anakmu bukanlah milikmu, ia adalah milik zamannya.” Maka sebagai orang tua wajib menyiapkan anak-anaknya agar mampu bertahan pada zamannya nanti.
8. Tidak pernah atau jarang mendoakan kebaikan bagi anak-anak
Terkadang orang tua lupa atau lalai dalam menyelipkan doa-doa bagi kebaikan anak-anaknya, entah karena tersebab beratnya beban kehidupan yang harus dijalani atau karena kesibukan nya menjalani kehidupan duniawi.
Sejatinya doa orang tua kepada anak adalah salah satu doa yang tiada berhijab dengan Allah. Kebaikan dan kesuksesan anak dalam menjalani kehidupan masa depannya ikut dipengaruhi oleh doa-doa orang tuanya.
Jadilah orang tua yang murah hati dengan senantiasa menyelipkan doa-doa kebaikan untuk anak-anak.
Salah satu doa yang bisa dipanjatkan orang tua untuk kebaikan anak adalah,
اَللَّهُمَّ امْلَأْ قُلُوْبَ أَوْلَادِنَا نُوْرًا وَحِكْمَةً وَأَهْلِهِمْ لِقَبُوْلِ نِعْمَةٍ وَاَصْلِحْهُمْ وَاَصْلِحْ بِهِمُ الْأُمَّةَ
“Ya Allah, penuhilah hati anak-anak kami dengan cahaya dan hikmah, dan jadikan mereka hamba-hamba-Mu yang pantas menerima nikmat, dan perbaikilah diri mereka dan perbaiki pula umat ini melalui mereka.”Anak itu bukan tempat pelampiasan ambisi orang tua, menaruh harapan kepada boleh, tapi jangan sampai kebablasan. Orang tua yang pernah punya cita-cita menjadi dokter namun tidak kesampaian boleh saja menceritakan perjalanan cita-citanya kepada anak, tapi jangan kemudian meminta anak untuk punya cita-cita yang sama dengannya
Wallahu’alam