Agar Perahu Tetap Melaju di Tengah Badai

Agar Perahu Tetap Melaju di Tengah Badai

Agar Perahu Tetap Melaju di Tengah Badai

 

@ Ummu Rochimah

 

Home sweet home,

Baiti jannati,

Rumahku surgaku

 

Ungkapan yang sungguh indah dan merdu terdengar di telinga. Dalam situasi dan kondisi sekarang ini, saat wabah penyakit melanda seluruh dunia. Masihkah kita merasakan rumah ku sebagai surgaku?

 

Wabah covid 19 melanda dunia, memaksa siapa saja untuk berdiam diri di rumah saja tidak terkecuali. Anak-anak yang biasa berangkat ke sekolah harus mulai belajar dari rumah, ayah atau bunda yang biasa bekerja keluar rumah pun harus mulai bekerja dari rumah. Konsekuensi logis yang muncul dari kondisi ini adalah rumah menjadi pusat kegiatan bagi semua anggota keluarga.

 

Bagi beberapa keluarga yang sehari-hari melakukan sebagian besar aktifitas kehidupannya lebih banyak di luar rumah, kondisi sekarang ini tentu membuat keluarga harus beradaptasi lagi dengan situasi dan kondisi yang ada.  Dengan keunikan sifat, karakter dan kemampuan beradaptasi setiap anggota keluarga yang berbeda-beda tentu menjadi hal yang tidak mudah untuk berharap semua bisa berlaku dan bersikap secara normal selayaknya kehidupan yang sudah berjalan sebelumnya. Ada saja hal-hal kecil yang bisa menghadirkan ketidaknyamanan dalam menjalani hari-hari ini. Ekspresi yang muncul dari perasaan ketidaknyamanan itu bisa berupa kemarahan, perasaan tertekan bahkan bisa melahirkan ketakutan yang mendalam.Tentu hal ini harus menjadi suatu perhatian bagi kita.

 

Rumah adalah tempat yang seharusnya memberikan ketenangan, kenyamanan dan keamanan bagi semua anggota keluarga tanpa terkecuali. Seorang suami, istri, anak ataupun anggota keluarga lain yang berada dalam rumah haruslah bisa memperoleh rasa nyaman dan aman ketika berada dalam rumah. Sebagaimana Allah katakana dalam Al Quran surat An Nahl ayat  80, “Allah menjadian bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal.” Imam Ibnu Katsir menerangkan ayat tersebut dengan mengatakan, “Allah mengingatkan akan kesempurnaan nikmat yang Dia curahkan atas hamba-Nya berupa rumah tempat tinggal yang berfungsi untuk memberikan ketenangan bagi penghuninya. Rumah adalah tempat untuk mendapatkan kebahagiaan hidup.

 

Ketika ada anggota keluarga yang merasa tidak nyaman dengan kondisi saat wabah ini, mungkin secara bersama-sama, semua anggota keluarga harus mengevaluasi pola interaksi dan komunikasi yang terjalin sesama anggota keluarga selama ini.  Antara suami dengan istri, antara Ayah dengan anak atau Ibu dengan anak, bahkan antara anak dengan anak. Bisa dipastikan ketika hadir ketidaknyamanan dan ketidaktenangan dalam keluarga saat kondisi yang bisa dikatakan tidak normal ini ada sesuatu yang salah dalam pola interaksi maupun komunikasi antar anggota keluarga.

 

Ketika berada di rumah dalam waktu yang cukup lama bersama anggota keluarga tapi justru ketidaknyamanan yang muncul dalam keluarga tersebut bahkan ekstrimnya sampai menimbulkan perselisihan, inilah saatnya untuk mereset ulang proses adaptasi dan pola interaksi atau komunikasi dalam keluarga.

 

Secara fisik, rumah berfungsi sebagai tempat berlindung dari terpaan hujan dan deraan panas matahari, sebagai benteng pelindung dari ancaman bahaya. Dalam sisi psikis, sejatinya sebuah rumah ia berfungsi sebagai tempat seseorang itu merasakan tenang dan nyaman ketika berada di dalamnya. Tempat kembi dan beristirahat bagi jiwa yang lelah setelah beraktifitas di luar rumah, tempat berkumpul dan bersenda gurau semua anggota keluarga, tempat untuk menjalankan ibadah dengan tenang. Tempat setiap anggota keluarga merasa paling aman ketika berada di dalamnya, tidak ada perasaan takut dan khawatir.

 

Anggota keluarga adalah orang yang paling berhak untuk mendapatkan semua fungsi rumah tersebut dan masing-masing individu memiliki kontribusi yang sama untuk menciptakan suasana tenang, nyaman dan aman dalam rumah. Bila ketidaknyamanan hadir melingkupi sebagian bahkan seluruh anggota keluarga dalam rumah saat ini, artinya ada fungsi-fungsi rumah yang tidak berjalan dengan semestinya. Ada hal-hal yang mungkin tanpa disadari menimbulkan ketidaknyamanan dan ini harus segera dikoreksi.

 

Pola interaksi dan komunikasi yang terbangun dalam sebuah keluarga haruslah pola interaksi positif, suami dan istri saling merespon dan menghargai secara positif tindakan, sikap dan perasaan yang ada dalam diri pasangannya. Saling berempati dan menerima dengan semua kelemahan dan kekurangan yang dimiliki pasangan. Begitu pula dengan pola komunikasi dalam keluarga, yang terjadi haruslah pola komunikasi yang mendatangkan kenyamanan bagi semua anggota keluarga. Ketika kondisi mengharuskan suami marah, maka ia harus memilih kosakata yang membuat siapapun pendengarnya merasa nyaman. Atau ketika istri harus merepet-repet menunjukkan keahlian bahasanya, ia harus bisa mengolah kata-katanya menjadi senandung merdu yang membuat pendengarnya merasa nyaman. Bagaimana, sanggupkah?

 

Pasangan hidup dan anak-anak adalah individu yang harus merasa paling nyaman dengan kehadiran kita, baik secara fisik maupun pisikis.  Jangan biarkan pasangan hidup atau anak-anak justru merasa tidak nyaman dengan kehadiran kita ketika berada dalam rumah. Indikasi seseorang merasa nyaman itu adalah ketika ia tidak memiliki ganjalan apapun dalam bersikap dan bertingkah laku. Ia bisa mengekspresikan semua rasa dan emosi tanpa merasa harus menahan diri dan menjaga pandangan orang lain. Ia bisa rileks menunjukkan kelebihan dan kekurangan dirinya tanpa harus merasa risau dengan pandangan orang lain.Terlebih dalam situasi dan kondisi saat ini, yang mengharuskam semua orang untuk lebih intens berinteraksi dan berkomunikasi dalam rumah. Menjaga kewarasan setiap anggota keluarga harus diutamakan supaya perahu keluarga ini tidak menjadi oleng.

 

Hikmah yang bisa diambil dari kondisi saat ini salah satunya yaitu mereset atau menata ulang proses adaptasi dan pola interaksi serta komunikasi antar anggota keluarga. Jangan biarkan ada anggota keluarga yang merasa tidak nyaman dan tertekan dengan keadaan ini. Karena hal ini akan menjadi titik awal munculnya perselisihan dalam keluarga. Menjaga perahu keluarga untuk tetap mampu berlayar dalam badai cobid 19 saat ini harus menjadi perhatian utama seluruh anggota keluarga.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan