Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 106

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Joy can only be real if people look upon their life as a service and have a definite object in life outside themselves and their personal happiness” –Leo Tolstoy.

.

Leo Tolstoy (1828 – 1910) adalah novelis produktif asal Rusia. Karyanya yang terkenal antara lain War and Peace dan Anna Karenina. Lahir di Rusia pada 1828, Tolstoy menjadi terkenal ke seluruh dunia karena kepribadian serta keyakinannya yang dianggap “rumit dan paradoks”.

Salah satu yang bisa kita pelajari dari produktivitas menulis Tolstoy adalah kemampuannya untuk menjaga rutinitas menulis. Ia harus memastikan bahwa setiap hari ada tulisan yang dihasilkan, tanpa gagal. “I must write each day without fail”, ujar Leo Tolstoy.

Ada banyak pelajaran menulis yang bisa kita pelajari dari Tostoy. Tentu tidak semua tepat untuk Anda. Ambil yang sesuai, tinggalkan yang tidak sesuai.

Leo Tolstoy : Perbanyak Membantu Orang Lain

“If one day, you can look upon your life and see that it has served people in any way outside yourself, you will realize that writing is more than putting words on paper. And you will be motivated to write today, hoping to be of service to the people around you” –Story Artist, 2021.

Penulis bukanlah pribadi yang individualis, yang hanya mengurus diri sendiri. Justru penulis akan merasakan kebermaknaan apabila selalu berusaha membantu orang lain. Fokus kepada orang lain dalam memberikan bantuan, ternyata menyebabkan kehidupan lebih berkualitas.

Inilah salah satu kunci produktivitas menulis yang diajarkan Tolstoy. Hidup bukan sekedar untuk mengurus diri sendiri. Bukan sekedar peduli diri sendiri. Namun harus memberikan pelayanan dan kemanfaatan kepada orang lain. Harus ada sesuatu di luar diri sendiri yang menjadi perhatian.

Prinsip Tolstoy ini ternyata sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sara Konrath bersama rekan-rekan dari University of Michigan. Penelitian mengambil sampel acak sebanyak 10.317 orang dari Wisconsin Longitudinal Study. Para partisipan merupakan lulusan SMA tahun 1957, pada tahun 2008 usia mereka sekitar 69 tahun, dan sekitar setengah dari mereka adalah perempuan.

Pada tahun 2004 para partisipan didata seputar seberapa sering mereka menjadi relawan dalam 10 tahun sebelumnya. Mereka juga ditanyai alasan menjadi relawan, atau jika ada yang belum pernah dan baru berencana menjadi relawan, apa alasan yang memotivasi rencana mereka.

Hasil survei menunjukkan bahwa orang-orang yang menolong dengan alasan yang berfokus pada orang lain, bisa hidup lebih lama dibanding orang-orang yang tidak suka menolong. Akan tetapi, jika kegiatan menolong dilakukan dengan fokus diri sendiri, “bonus” umur panjang tidak akan berlaku.

Beberapa partisipan menyatakan alasan mereka lebih berorientasi pada orang lain, seperti “saya rasa menolong orang lain itu penting” atau “menjadi relawan adalah kegiatan penting untuk orang-orang yang saya kenal baik”.

Akan tetapi ada juga responden yang jawabannya lebih berorientasi pada diri sendiri seperti “menjadi relawan merupakan pelarian yang baik untuk masalah yang saya alami,” atau “menjadi relawan membuat saya merasa lebih baik.”

Para peneliti lalu membandingkan alasan para responden dengan informasi kesehatan fisik yang dikumpulkan pada 1992. Mereka juga memperhatikan status sosial ekonomi, kesehatan mental, dukungan sosial, status pernikahan dan faktor risiko kesehatan meliputi kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan indeks masa tubuh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 2008 mereka yang menjadi relawan dengan titik berat pada kondisi orang lain punya tingkat mortalitas yang lebih rendah dibanding partisipan yang tidak menjadi relawan. Dari 2.384 partisipan non-relawan, 4,3 % diantaranya meninggal empat tahun kemudian, sementara hanya 1,6 % responden relawan yang meninggal pada tahun yang sama.

Sementara itu, partisipan yang mengaku menjadi relawan dengan fokus pada diri sendiri punya tingkat mortalitas yang hampir sama yaitu 4 persen dibanding mereka yang tidak menjadi relawan sama sekali.

“Cukup beralasan jika seseorang menjadi relawan demi keuntungan diri sendiri, akan tetapi hasil penelitian kami menunjukkan bahwa, ironisnya, jika keuntungan diri sendiri adalah motivasinya, mereka tidak mendapatkan keuntungan tersebut sama sekali,” kata salah seorang peneliti Andrea Fuhrel-Forbis.

Tolstoy : Hidup untuk Melayani

“I cannot believe that the purpose of life is to be happy. I think the purpose of life is to be useful, to be responsible, to be compassionate. It is, above all, to matter, to count, to stand for something, to have made some difference that you lived at all” –Gary Keller, The One Thing.

Tolstoy meyakini, “Kegembiraan hanya bisa menjadi nyata jika orang memandang hidup mereka sebagai layanan, dan memiliki objek yang pasti dalam kehidupan di luar diri mereka dan kebahagiaan pribadi mereka.”

Keyakinan yang sama pernah dinyatakan oleh penulis kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Beliau menyatakan, “Jika hidupmu hanya untuk mengurus diri sendiri, betapa pendek usiamu”. Kita bisa memperpanjang usia dengan berkontribusi untuk kepentingan orang banyak.

Cobalah membawa perhatian kepada sesuatu yang ada di luar Anda –misalnya teman, anak-anak, komunitas, serta perubahan yang ingin Anda hadirkan kepada masyarakat. Harriet Beecher Stowe pernah menulis sebuah buku yang berdampak luas, mampu mengubah cara pandang banyak manusia.

Pada tahun 1852, buku “Uncle Tom’s Cabin” karya Stowe berhasil mengubah cara pandang orang Amerika tentang perbudakan. Dengan karya itu, dia memberikan tinggalan yang jauh lebih besar dari kekayaan pribadinya sendiri.

“Jika suatu hari, Anda dapat melihat hidup Anda dan melihat bahwa itu telah melayani orang dengan cara apa pun di luar diri Anda, maka Anda akan menyadari bahwa menulis lebih dari sekadar meletakkan kata-kata di atas kertas. Anda akan termotivasi untuk terus menulis hari ini, berharap dapat bermanfaat bagi orang-orang di sekitar Anda” (Story Artist, 2021).

Demikianlah yang diungkapkan oleh Gary Keller dalam buku The One Thing. “Saya tidak percaya bahwa tujuan hidup adalah untuk bahagia. Saya pikir tujuan hidup adalah untuk menjadi berguna, bertanggung jawab, serta untuk berbelas kasih. Hal ini penting untuk menghitung, untuk membela sesuatu, untuk membuat beberapa perbedaan bahwa Anda benar-benar hidup”.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya.

Bahan Tulisan

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

National Geographic, Penelitian Menunjukkan Relawan Lebih Panjang Umur, dalam https://nationalgeographic.grid.id, 21 September 2011

Story Artist, 12 Habits That Made Tolstoy a Highly Profilic Author – Conquer the Writing Battle, https://storyartist.me, diakses 1 Desember 2021

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.

Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 106

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Joy can only be real if people look upon their life as a service and have a definite object in life outside themselves and their personal happiness” –Leo Tolstoy.

.

Leo Tolstoy (1828 – 1910) adalah novelis produktif asal Rusia. Karyanya yang terkenal antara lain War and Peace dan Anna Karenina. Lahir di Rusia pada 1828, Tolstoy menjadi terkenal ke seluruh dunia karena kepribadian serta keyakinannya yang dianggap “rumit dan paradoks”.

Salah satu yang bisa kita pelajari dari produktivitas menulis Tolstoy adalah kemampuannya untuk menjaga rutinitas menulis. Ia harus memastikan bahwa setiap hari ada tulisan yang dihasilkan, tanpa gagal. “I must write each day without fail”, ujar Leo Tolstoy.

Ada banyak pelajaran menulis yang bisa kita pelajari dari Tostoy. Tentu tidak semua tepat untuk Anda. Ambil yang sesuai, tinggalkan yang tidak sesuai.

Leo Tolstoy : Perbanyak Membantu Orang Lain

“If one day, you can look upon your life and see that it has served people in any way outside yourself, you will realize that writing is more than putting words on paper. And you will be motivated to write today, hoping to be of service to the people around you” –Story Artist, 2021.

Penulis bukanlah pribadi yang individualis, yang hanya mengurus diri sendiri. Justru penulis akan merasakan kebermaknaan apabila selalu berusaha membantu orang lain. Fokus kepada orang lain dalam memberikan bantuan, ternyata menyebabkan kehidupan lebih berkualitas.

Inilah salah satu kunci produktivitas menulis yang diajarkan Tolstoy. Hidup bukan sekedar untuk mengurus diri sendiri. Bukan sekedar peduli diri sendiri. Namun harus memberikan pelayanan dan kemanfaatan kepada orang lain. Harus ada sesuatu di luar diri sendiri yang menjadi perhatian.

Prinsip Tolstoy ini ternyata sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Sara Konrath bersama rekan-rekan dari University of Michigan. Penelitian mengambil sampel acak sebanyak 10.317 orang dari Wisconsin Longitudinal Study. Para partisipan merupakan lulusan SMA tahun 1957, pada tahun 2008 usia mereka sekitar 69 tahun, dan sekitar setengah dari mereka adalah perempuan.

Pada tahun 2004 para partisipan didata seputar seberapa sering mereka menjadi relawan dalam 10 tahun sebelumnya. Mereka juga ditanyai alasan menjadi relawan, atau jika ada yang belum pernah dan baru berencana menjadi relawan, apa alasan yang memotivasi rencana mereka.

Hasil survei menunjukkan bahwa orang-orang yang menolong dengan alasan yang berfokus pada orang lain, bisa hidup lebih lama dibanding orang-orang yang tidak suka menolong. Akan tetapi, jika kegiatan menolong dilakukan dengan fokus diri sendiri, “bonus” umur panjang tidak akan berlaku.

Beberapa partisipan menyatakan alasan mereka lebih berorientasi pada orang lain, seperti “saya rasa menolong orang lain itu penting” atau “menjadi relawan adalah kegiatan penting untuk orang-orang yang saya kenal baik”.

Akan tetapi ada juga responden yang jawabannya lebih berorientasi pada diri sendiri seperti “menjadi relawan merupakan pelarian yang baik untuk masalah yang saya alami,” atau “menjadi relawan membuat saya merasa lebih baik.”

Para peneliti lalu membandingkan alasan para responden dengan informasi kesehatan fisik yang dikumpulkan pada 1992. Mereka juga memperhatikan status sosial ekonomi, kesehatan mental, dukungan sosial, status pernikahan dan faktor risiko kesehatan meliputi kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, dan indeks masa tubuh.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada 2008 mereka yang menjadi relawan dengan titik berat pada kondisi orang lain punya tingkat mortalitas yang lebih rendah dibanding partisipan yang tidak menjadi relawan. Dari 2.384 partisipan non-relawan, 4,3 % diantaranya meninggal empat tahun kemudian, sementara hanya 1,6 % responden relawan yang meninggal pada tahun yang sama.

Sementara itu, partisipan yang mengaku menjadi relawan dengan fokus pada diri sendiri punya tingkat mortalitas yang hampir sama yaitu 4 persen dibanding mereka yang tidak menjadi relawan sama sekali.

“Cukup beralasan jika seseorang menjadi relawan demi keuntungan diri sendiri, akan tetapi hasil penelitian kami menunjukkan bahwa, ironisnya, jika keuntungan diri sendiri adalah motivasinya, mereka tidak mendapatkan keuntungan tersebut sama sekali,” kata salah seorang peneliti Andrea Fuhrel-Forbis.

Tolstoy : Hidup untuk Melayani

“I cannot believe that the purpose of life is to be happy. I think the purpose of life is to be useful, to be responsible, to be compassionate. It is, above all, to matter, to count, to stand for something, to have made some difference that you lived at all” –Gary Keller, The One Thing.

Tolstoy meyakini, “Kegembiraan hanya bisa menjadi nyata jika orang memandang hidup mereka sebagai layanan, dan memiliki objek yang pasti dalam kehidupan di luar diri mereka dan kebahagiaan pribadi mereka.”

Keyakinan yang sama pernah dinyatakan oleh penulis kitab tafsir Fi Zhilalil Qur’an. Beliau menyatakan, “Jika hidupmu hanya untuk mengurus diri sendiri, betapa pendek usiamu”. Kita bisa memperpanjang usia dengan berkontribusi untuk kepentingan orang banyak.

Cobalah membawa perhatian kepada sesuatu yang ada di luar Anda –misalnya teman, anak-anak, komunitas, serta perubahan yang ingin Anda hadirkan kepada masyarakat. Harriet Beecher Stowe pernah menulis sebuah buku yang berdampak luas, mampu mengubah cara pandang banyak manusia.

Pada tahun 1852, buku “Uncle Tom’s Cabin” karya Stowe berhasil mengubah cara pandang orang Amerika tentang perbudakan. Dengan karya itu, dia memberikan tinggalan yang jauh lebih besar dari kekayaan pribadinya sendiri.

“Jika suatu hari, Anda dapat melihat hidup Anda dan melihat bahwa itu telah melayani orang dengan cara apa pun di luar diri Anda, maka Anda akan menyadari bahwa menulis lebih dari sekadar meletakkan kata-kata di atas kertas. Anda akan termotivasi untuk terus menulis hari ini, berharap dapat bermanfaat bagi orang-orang di sekitar Anda” (Story Artist, 2021).

Demikianlah yang diungkapkan oleh Gary Keller dalam buku The One Thing. “Saya tidak percaya bahwa tujuan hidup adalah untuk bahagia. Saya pikir tujuan hidup adalah untuk menjadi berguna, bertanggung jawab, serta untuk berbelas kasih. Hal ini penting untuk menghitung, untuk membela sesuatu, untuk membuat beberapa perbedaan bahwa Anda benar-benar hidup”.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya.

Bahan Tulisan

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

National Geographic, Penelitian Menunjukkan Relawan Lebih Panjang Umur, dalam https://nationalgeographic.grid.id, 21 September 2011

Story Artist, 12 Habits That Made Tolstoy a Highly Profilic Author – Conquer the Writing Battle, https://storyartist.me, diakses 1 Desember 2021

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.