Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 11

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“George RR. Martin has created an environment that, instead of trying to manage his writing productivity and work around the various distractions that are pulling many off course, simply set himself up with a system that eliminates the need to worry about pings and notifications” –Scott Allan, 2020.

.

Pada sepuluh postingan terdahulu, saya sajikan tips produktif menulis dari seorang penulis dan bloger produktif, Bamidele. Pada postingan kali ini, saya mengajak Anda untuk belajar dari para penulis produktif, bagaimana mereka menciptakan produktivitas menulis.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.

Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Seri # 1 – Belajar Produktif dari George RR. Martin

Kali ini kita akan belajar dari George RR. Martin, seorang penulis yang sangat produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

George Raymond Richard Martin lahir di New Jersey, AS, pada 20 September 1948. Martin adalah penulis novel fantasi A Song of Fire and Ice, yang dijadikan rujukan serial televisi Game of Thrones. Ia telah senang menulis dari kecil, dan bahkan mengambil kuliah di jurusan Jurnalistik. Martin juga hobi membaca.

Martin mendapatkan gelar Sarjana jurusan Jurnalistik dari Northwestern University, Evanston, Illinois pada 1970. Setahun kemudian ia menyelesaikan Master di bidang Jurnalistik dari universitas yang sama.

Naskah komersial pertama karya Martin dijual pada 1970, ketika ia berusia 21 tahun. Saat itu ia menjual naskah The Hero pada penerbit Galaxy, yang kemudian terbit pada Februari 1971. Berikutnya, Martin menulis novel pertamanya Dying of the Light yang terbit pada tahun 1977.

Di sepanjang tahun 1970, Martin menulis paruh waktu, dan menjadi instruktur jurnalistik. Pada 1979, ia memutuskan menjadi penulis full time. Martin mendantangani kontrak sebagai editor cerita untuk Twilight Zone di CBS Television pada 1986. Setahun berikutnya, ia menjadi Exective Story Consultant untuk Beauty and the Beast di CBS.

Pada tahun 1988, ia menjadi Producer Beauty and the Beast, kemudian Co-Supervising Producer. Kariernya terus naik, hingga Martin menjadi Executive Producer untuk Doorways, seri yang ia tulis untuk Columbia Pictures Television, yang kemudian difilmkan selama 1992 sampai 1993.

Martin tamat sekolah menengah pada tahun 1962. “Honor, Not Honors” adalah moto sekolahnya. Dari moto tersebut, muncul inspirasi tokoh rekaan Eddard Stark. “Saya harus meminjam moto tersebut sebagai salah satu kerajaan di Westeros,” ujarnya.

Tidak hanya dari sekolah, Martin juga mendapat ispirasi dari kucing piaraannya yang ia beri nama Mulligan aka Mully. Martin kemudian menamakan salah satu karakter Night’s Watch dari nama tersebut.

Dalam menuliskan Game of Thrones, Martin melakukan banyak riset dari sejumlah buku. Di antaranya The Medieval Soldier karya Gerry Embleton & John Howe, A Distant Mirror karya Barbara Tuchman, Medieval Swordmanship karya John Clements, The Medieval Warfare Source Book karya David Nicolle, Life in a Medieval Castle and Life in a Medieval City, keduanya karya Joseph and Frances Gies, dan masih banyak buku lagi.

Menulis dalam “Kesunyian”

“First of all, George doesn’t use the same computer for writing that he does for checking email or web surfing. How did one of the best selling authors of the past two decades manage to write 5 mega-bestselling books with a word count close to two million words?” –Scott Allan, 2020.

Hal pertama yang perlu kita ketahui tentang George Martin adalah, dia selalu menggunakan komputer yang berbeda untuk menulis dan untuk memeriksa email atau menjelajahi web. Dia memisahkan dengan jelas perangkat-perangkat itu untuk keperluan yang berbeda.

Khusus untuk menulis, ia menggunakan komputer tersendiri, yang tidak terhubung internet. Martin juga tidak menggunakan aplikasi seperti Scrivener atau Google Documents. Martin benar-benar “sunyi” saat menulis. Ia berteman dengan satu perangkat yang setia, dan tanpa distraksi.

Lalu bagaimana penulis yang berhasil menulis 5 buku terlaris dengan jumlah kata mendekati dua juta kata ini bisa produktif? Untuk aktivitas menulis, Martin menggunakan sistem kuno yang dikenal sebagai Wordstar 4.0, mesin DOS lama yang hanya bagus untuk satu hal: menulis.

“George isn’t connected to social media, he doesn’t use distraction free apps, and he works on a machine that doesn’t send email” –Scott Allan, 2020.

Martin tidak terhubung ke media sosial, dia tidak menggunakan aplikasi bebas gangguan, dan dia bekerja di perangkat yang tidak bisa mengirim email. Jadi, benar-benar tidak ada ganggyuan yang muncul dari perangkat menulis. Ia bisa konsentrasi menulis tanpa gangguan apapun.

George Martin telah berhasil menciptakan lingkungan menulis yang sangat kondusif bagi dirinya. Tidak ada ‘ping’, tidak ada keributan notifikasi email, twitter, facebook, instagram, youtube, atau tiktok. Di zamannya memang belum ada berbagai fitur media sosial seperti itu. Namun dengan cara seperti itulah, ia bisa produktif menghasilkan karya tulis.

Dia menulis dalam ‘kesunyian’ dan dia mampu menghasilkan banyak tulisan. Belajar dari Martin, membuat kita bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya berapa banyak teknologi yang kita perlukan untuk menulis? Berapa banyak aplikasi yang harus kita unduh agar produktif ? Lingkungan terbaik seperti apa yang perlu kita ciptakan untuk tetap fokus dan menyelesaikan tulisan?

“So, this brings us to the question: How much technology do I need to write? How many apps must I download? What is the best environment I need to create to stay focused and get the work done?” –Scott Allan, 2020.

Marilah kita jujur ke​​pada diri sendiri. Kita tidak akan membeli Wordstar 4.0 bahkan seandainya itu menjadi solusi akhir untuk menulis. Kita hidup di zaman cyber, di zaman medsos. Semua perangkat kita terhubung dengan internet. Maka pertanyaan pentingnya, bagaimana kita menciptakan produktivitas menulis tanpa harus menjauhkan diri sepenuhnya dari internet?

Masing-masing kita yang bisa menjawabnya.

Bahan Bacaan

Rahman Indra, Sembilan Fakta Unik George R.R. Martin, CNN Indonesia, 20 September 2016, https://www.cnnindonesia.com

Scott Allan, How to Boost Your Writing Productivity and Write Your Book, 13 Desember 2020, https://self-publishingschool.com

.

Ilustrasi : https://www.esquire.com/

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.

Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 11

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“George RR. Martin has created an environment that, instead of trying to manage his writing productivity and work around the various distractions that are pulling many off course, simply set himself up with a system that eliminates the need to worry about pings and notifications” –Scott Allan, 2020.

.

Pada sepuluh postingan terdahulu, saya sajikan tips produktif menulis dari seorang penulis dan bloger produktif, Bamidele. Pada postingan kali ini, saya mengajak Anda untuk belajar dari para penulis produktif, bagaimana mereka menciptakan produktivitas menulis.

Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.

Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.

Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.

Seri # 1 – Belajar Produktif dari George RR. Martin

Kali ini kita akan belajar dari George RR. Martin, seorang penulis yang sangat produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.

George Raymond Richard Martin lahir di New Jersey, AS, pada 20 September 1948. Martin adalah penulis novel fantasi A Song of Fire and Ice, yang dijadikan rujukan serial televisi Game of Thrones. Ia telah senang menulis dari kecil, dan bahkan mengambil kuliah di jurusan Jurnalistik. Martin juga hobi membaca.

Martin mendapatkan gelar Sarjana jurusan Jurnalistik dari Northwestern University, Evanston, Illinois pada 1970. Setahun kemudian ia menyelesaikan Master di bidang Jurnalistik dari universitas yang sama.

Naskah komersial pertama karya Martin dijual pada 1970, ketika ia berusia 21 tahun. Saat itu ia menjual naskah The Hero pada penerbit Galaxy, yang kemudian terbit pada Februari 1971. Berikutnya, Martin menulis novel pertamanya Dying of the Light yang terbit pada tahun 1977.

Di sepanjang tahun 1970, Martin menulis paruh waktu, dan menjadi instruktur jurnalistik. Pada 1979, ia memutuskan menjadi penulis full time. Martin mendantangani kontrak sebagai editor cerita untuk Twilight Zone di CBS Television pada 1986. Setahun berikutnya, ia menjadi Exective Story Consultant untuk Beauty and the Beast di CBS.

Pada tahun 1988, ia menjadi Producer Beauty and the Beast, kemudian Co-Supervising Producer. Kariernya terus naik, hingga Martin menjadi Executive Producer untuk Doorways, seri yang ia tulis untuk Columbia Pictures Television, yang kemudian difilmkan selama 1992 sampai 1993.

Martin tamat sekolah menengah pada tahun 1962. “Honor, Not Honors” adalah moto sekolahnya. Dari moto tersebut, muncul inspirasi tokoh rekaan Eddard Stark. “Saya harus meminjam moto tersebut sebagai salah satu kerajaan di Westeros,” ujarnya.

Tidak hanya dari sekolah, Martin juga mendapat ispirasi dari kucing piaraannya yang ia beri nama Mulligan aka Mully. Martin kemudian menamakan salah satu karakter Night’s Watch dari nama tersebut.

Dalam menuliskan Game of Thrones, Martin melakukan banyak riset dari sejumlah buku. Di antaranya The Medieval Soldier karya Gerry Embleton & John Howe, A Distant Mirror karya Barbara Tuchman, Medieval Swordmanship karya John Clements, The Medieval Warfare Source Book karya David Nicolle, Life in a Medieval Castle and Life in a Medieval City, keduanya karya Joseph and Frances Gies, dan masih banyak buku lagi.

Menulis dalam “Kesunyian”

“First of all, George doesn’t use the same computer for writing that he does for checking email or web surfing. How did one of the best selling authors of the past two decades manage to write 5 mega-bestselling books with a word count close to two million words?” –Scott Allan, 2020.

Hal pertama yang perlu kita ketahui tentang George Martin adalah, dia selalu menggunakan komputer yang berbeda untuk menulis dan untuk memeriksa email atau menjelajahi web. Dia memisahkan dengan jelas perangkat-perangkat itu untuk keperluan yang berbeda.

Khusus untuk menulis, ia menggunakan komputer tersendiri, yang tidak terhubung internet. Martin juga tidak menggunakan aplikasi seperti Scrivener atau Google Documents. Martin benar-benar “sunyi” saat menulis. Ia berteman dengan satu perangkat yang setia, dan tanpa distraksi.

Lalu bagaimana penulis yang berhasil menulis 5 buku terlaris dengan jumlah kata mendekati dua juta kata ini bisa produktif? Untuk aktivitas menulis, Martin menggunakan sistem kuno yang dikenal sebagai Wordstar 4.0, mesin DOS lama yang hanya bagus untuk satu hal: menulis.

“George isn’t connected to social media, he doesn’t use distraction free apps, and he works on a machine that doesn’t send email” –Scott Allan, 2020.

Martin tidak terhubung ke media sosial, dia tidak menggunakan aplikasi bebas gangguan, dan dia bekerja di perangkat yang tidak bisa mengirim email. Jadi, benar-benar tidak ada ganggyuan yang muncul dari perangkat menulis. Ia bisa konsentrasi menulis tanpa gangguan apapun.

George Martin telah berhasil menciptakan lingkungan menulis yang sangat kondusif bagi dirinya. Tidak ada ‘ping’, tidak ada keributan notifikasi email, twitter, facebook, instagram, youtube, atau tiktok. Di zamannya memang belum ada berbagai fitur media sosial seperti itu. Namun dengan cara seperti itulah, ia bisa produktif menghasilkan karya tulis.

Dia menulis dalam ‘kesunyian’ dan dia mampu menghasilkan banyak tulisan. Belajar dari Martin, membuat kita bertanya kepada diri sendiri. Sebenarnya berapa banyak teknologi yang kita perlukan untuk menulis? Berapa banyak aplikasi yang harus kita unduh agar produktif ? Lingkungan terbaik seperti apa yang perlu kita ciptakan untuk tetap fokus dan menyelesaikan tulisan?

“So, this brings us to the question: How much technology do I need to write? How many apps must I download? What is the best environment I need to create to stay focused and get the work done?” –Scott Allan, 2020.

Marilah kita jujur ke​​pada diri sendiri. Kita tidak akan membeli Wordstar 4.0 bahkan seandainya itu menjadi solusi akhir untuk menulis. Kita hidup di zaman cyber, di zaman medsos. Semua perangkat kita terhubung dengan internet. Maka pertanyaan pentingnya, bagaimana kita menciptakan produktivitas menulis tanpa harus menjauhkan diri sepenuhnya dari internet?

Masing-masing kita yang bisa menjawabnya.

Bahan Bacaan

Rahman Indra, Sembilan Fakta Unik George R.R. Martin, CNN Indonesia, 20 September 2016, https://www.cnnindonesia.com

Scott Allan, How to Boost Your Writing Productivity and Write Your Book, 13 Desember 2020, https://self-publishingschool.com

.

Ilustrasi : https://www.esquire.com/

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.