.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Abandon the idea that you are ever going to finish. Lose track of the 400 pages and write just one page for each day, it helps. Then when it gets finished, you are always surprised” –John Steinbeck.
.
Sebagaimana telah saya sampaikan pada beberapa postingan terdahulu, pada dasarnya tidak ada satu cara atau teknik untuk produktif menulis yang bisa berlaku secara umum. Setiap penulis bisa memiliki cara dan teknik yang paling cocok untuk dirinya. Ini seperti yang diungkap oleh Mark D. White, Ph.D.
Namun Bamidele juga mengingatkan, bahwa tidak semua orang berbeda secara keseluruhannya. Selalu akan ditemukan orang-orang dengan sifat dan karakter yang sama atau hampir sama. Selalu ada orang-orang dengan situasi dan kondisi yang sama atau hampir sama. Untuk itu kita bisa saling belajar.
Tips berikutnya untuk bisa produktif menulis, adalah dengan banyak belajar dari para penulis produktif. Mereka sudah terbukti memiliki banyak karya, maka kita belajar kepada mereka bagaimana bisa mendapatkan produktivitas dalam menulis. Tidak semua tips cocok untuk kita, namun akan ada hal yang bisa kita ambil sebagai inspirasi.
Seri # 11 – Belajar Produktif dari John Steinbeck
“If you are using dialogue — say it aloud as you write it. Only then will it have the sound of speech” –John Steinbeck.
Kali ini kita akan belajar dari John Steinbeck, seorang novelis yang produktif. Siapakah jati dirinya? Mari kita simak.
John Steinbeck adalah seorang novelis produktif. Lahir di Amerika, 27 Februari 1902, dan meninggal dunia 20 Desember 1968. Sebelum menjadi penulis sukses, ia bekerja sebagai buruh kasar. Ini memberikan pengalaman tentang penderitaan buruh migran.
Ia mendapat penghargaan Pulitzer, atas novel karyanya The Grapes of Wrath, East of Eden, dan Of Mice and Men. The Grapes of Wrath juga memenangkan Penghargaan Buku Nasional dan diangkat ke layar lebar pada tahun 1940.
Selama masa Perang Dunia II, ia menulis propaganda untuk pemerintah, di antaranya novel The Moon Is Down, pada tahun 1942. Novel tersebut menggambarkan orang-orang Norwegia di bawah Nazi. Steinback menulis 27 buku dan lima kumpulan cerita pendek. Ia mendapat anugerah Hadiah Nobel untuk Sastra pada tahun 1962.
“In writing, habit seems to be a much stronger force than either willpower or inspiration. To be a truly productive writer, you must write word by word, sentence by sentence, from one day to the next” –Kiefer, 2016.
Steinbeck mengajak kita untuk membangun kebiasaan menulis setiap hari. Terbangunnya habit menulis secara rutin ini, adalah syarat utama untuk produktif menulis. Tidak cukup hanya dengan berbekal suntikan motivasi, namun harus membangun kebiasaan rutin menulis harian.
Dalam menulis, kebiasaan (habit) menjadi kekuatan yang jauh lebih dahsyat daripada kemauan atau inspirasi. Untuk menjadi penulis yang benar-benar produktif, Anda harus menulis kata demi kata, kalimat demi kalimat, dari hari ke hari. Inilah habit menulis itu. Benar-benar menulis setiap hari.
Kiefer (2016), seorang bloger, menyatakan awal dari sebuah proyek penulisan besar bisa sangat menakutkan. Bagaimana Anda akan menyelesaikan 20 postingan di blog, misalnya. Padahal ini bisa diatasi dengan jalan membagi proyek tersebut menjadi potongan-potongan kecil.
Jika Anda fokus untuk rutin menulis, walau sedikit, pasti akan ada kemajuan setiap hari. Steinbeck menulis setidaknya satu halaman setiap hari. Bukan target yang muluk-muluk, namun ia rutin melakukannya.
6 Tips Produktivitas Menulis John Steinbeck
“In writing, your audience is one single reader. I have found that sometimes it helps to pick out one person — a real person you know, or an imagined person and write to that one” –John Steinbeck.
Berikut adalah enam hal yang dapat kita pelajari dari produktivitas menulis John Steinbeck. Tips ini ia sampaikan dalam sebuah surat pada tahun 1962 kepada aktor dan penulis, Robert Wallsten. Belakangan tips ini dimasukkan dalam buku “Steinbeck: A Life in Letters”.
1. Abaikan keinginan bahwa Anda akan pernah selesai. Lupakan 400 halaman dan tulis hanya satu halaman setiap hari. Ketika selesai menulis, Anda akan terkejut.
2. Tulislah dengan bebas dan cepat. Tuangkan semua ide Anda di atas kertas. Jangan mengoreksi atau menulis ulang sampai semuanya selesai. Mengedit dalam proses menulis, biasanya digunakan sebagai alasan untuk tidak melanjutkan menulis. Tindakan ini juga akan mengganggu ritme kenyamanan menulis,
3. Lupakan segmen umum Anda. Pembaca tanpa nama dan tanpa wajah mungkin akan menakuti Anda selamanya. Dalam menulis, segmen Anda adalah satu pembaca tunggal. Kadang-kadang perlu memilih hanya satu orang –seseorang yang nyata, yang Anda kenal, atau seseorang imajiner, dan seakan Anda tengah menulis surat kepada orang itu.
4. Jika ada suatu kejadian atau bagian yang Anda inginkan menjadi lebih baik namun Anda masih memikirkannya—abaikan saja, dan lanjutkan menulis. Ketika telah menyelesaikan keseluruhan tulisan, Anda bisa kembali ke bagian tersebut. Anda mungkin bisa menemukan alasan mengapa hal itu menimbulkan gangguan, adalah karena bagian itu tidak seharusnya ada di sana.
5. Waspadalah terhadap adegan/bagian yang terlalu Anda sayangi, lebih dari bagian yang lain. Bagian seperti itu biasanya akan keluar dari kerangka tulisan yang telah dipikirkan sebelumnya.
6. Jika Anda menggunakan dialog, ucapkan dengan lantang saat Anda menulisnya. Hanya dengan begitu ia akan memiliki suara ucapan.
John Steinbeck menutup dengan ungkapan, “Saya tahu bahwa tidak ada dua orang yang memiliki metode yang sama. Namun, ini sebagian besar bekerja untuk saya”.
Bahan Bacaan
Amanda Patterson, John Steinbeck’s 6 Writing Tips, https://www.writerswrite.co.za, 27 Februari 2020
Katie Grant, Learn to Write from John Steinbeck Himself, https://medium.com
Kiefer, The Importance of Writing Habits for Content Creators: Advice from John Steinbeck, https://www.mailpoet.com, 27 Januari 2016
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/