Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 30

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Style is truth. Once you nail down what you want to say about yourself and your fears and your life, then that becomes your style” –Ray Bradbury.

.

Ray Douglas Bradbury (1920 –2012) adalah penulis Amerika yang terkenal karena cerita pendek dan novelnya yang sangat imajinatif. Ia mampu memadukan gaya fiksi, kritik sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada tiga postingan sebelumnya, sudah kita bahas beberapa tips produktif menulis dari Bradbury. Kali ini saya tanbahkan lagi tips produktif menulis dan Ray Bradbury.

Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Menikmati ‘Pekerjaan’ Menulis

“Beginning now you should become not its slave, which is too mean a term, but its partner. Once you are really a co-sharer of existence with your work, that word will lose its repellent aspects” –Ray Bradbury.

Menulis itu hal yang menyenangkan, maka jangan menjadi beban. Seperti ketika Anda menyukai olahraga angkat besi, ia akan menjadi menyenangkan bagi Anda. Meskipun bentuk kegiatannya adalah ‘mengangkat beban’ namun Anda sangat senang melakukannya. Bukan menjadi beban.

Demikian pula ketika Anda ingin menekuni dunia tulis menulis sebagai karier dalam kehidupan. Jangn menjadikan itu sebagai beban. Nikmati proses menulis, seakan Anda tengah berwisata, traveling atau kuliner yang menyenangkan.

“Mari kita lihat lebih jauh kata bekerja yang agak mengerikan itu. Ini adalah tentang karier Anda yang akan berputar seumur hidup. Mulai sekarang Anda seharusnya tidak menjadi budaknya, tetapi menjadi mitranya. Begitu Anda benar-benar menjadi rekan sejawat dengan pekerjaan Anda, kata itu akan kehilangan aspek penolaknya”, ungkap Bradbury.

Jangan menjadi ‘budak’ dari pekerjaan –apapun jenis pekerjaan kita. Namun bersikap sebagai mitra. Ini akan membuat kita happy dan bisa menikmati.

Belajar dari Karya Para Master

“In one sweep she gave you the feel of the room, the sense of the woman’s character, and the action itself. All in twenty words. And you say, how’d she do that? What adjective? What verb? What noun? How did she select them and put them together?” –Ray Bradbury.

Saat saya masih sekolah SMA, saya senang membaca puisi dan cerpen karya Darmanto Jatman dan budayawan nyentrik Remy Sylado. Saat kuliah, saya suka membaca puisi Sapardi Djoko Damono dan Sutardji Calzoum Bachri. Saya juga penikmat esai karya Emha Ainun Nadjib. Dari mereka semua saya belajar.

Begitulah cara kita untuk belajar produktif menulis. Ada sangat banyak ‘master’ menulis yang bisa kita ambil ilmunya. Kita akan berkembang jika bersedia belajar dari para master. Karena ilmu menulis bukan sesuatu yang sangat akademis untuk dipelajari di bangku sekolah ataupun perguruan tinggi.

“Saya dulu belajar Eudora Welty”, ujar Bradbury. “Dia memiliki kemampuan luar biasa dalam memberi suasana, karakter, dan gerakan dalam satu baris. Dalam satu baris! Anda harus mempelajari hal-hal ini untuk menjadi penulis yang baik,” ujarnya. Bradbury belajar dari para penulis yang sudah eksis, agar ketrampilan menulisnya terus berkembang.

“Welty menghadirkan sosok seorang perempuan masuk ke sebuah ruangan dan melihat-lihat. Dalam satu sapuan pandangan mata, Welty akan menceritakan kepada Anda nuansa ruangan, rasa karakter perempuan, dan tindakan itu sendiri. Semuanya ditulis hanya dalam dua puluh kata”, ungkap Bradbury.

“Anda akan berkata, ‘Bagaimana ia melakukan itu? Memilih kata sifat yang mana? Kata kerja apa? Kata benda apa? Lalu bagaimana ia memilih dan menyatukannya dalam kalimat?” lanjut Bradbury.

Ambil Gaya Menulismu Sendiri

“Style is truth. Once you nail down what you want to say about yourself and your fears and your life, then that becomes your style and you go to those writers who can teach you how to use words to fit your truth” –Ray Bradbury.

Meskipun kita bisa belajar menulis dari sangat banyak penulis hebat, namun gaya menulis kembali kepada diri kita sendiri. Kita tidak menjadi para penulis yang kita pelajarai karyanya. Kita tidak akan menjadi ‘kw’ dari Ray Bradbury, Stephen King, Ernest Hemingway, ataupun Buya Hamka, Moctar Lubis, dan Taufik Ismail.

Gaya menulis harus orisinil, benar-benar milik kita sendiri. Bukan milik orang lain. Ini yang dimaksud Bradbury, “Style is truth”. Itu benar-benar suara Anda sendiri. Benar-benar gaya Anda sendiri. Bukan suara dan gaya orang lain.

“Gaya menulis adalah kebenaran. Setelah mengetahui apa yang ingin Anda katakan tentang diri, ketakutan dan hidup Anda, maka itu menjadi gaya Anda”, ujar Bradbury. Artinya, semua gaya dan corak kepenulisan, adalah jatidiri kita masing-masing. Setiap penulis memiliki jatidiri ini.

Ada penulis ‘ideologis’, ada penulis romantis, ada penulis mistis, ada penulis Islami, ada penulis Kristiani, ada penulis pragmatis, dan lain sebagainya. Semua gaya dan corak tersebut sangat orisinil –kembali kepada jatidiri masing-masing. Di sisi ini, setiap penulis adalah unik dan tidak bisa saling dibandingkan.

“Anda bisa menemui para penulis senior yang dapat mengajari Anda bagaimana menggunakan kata-kata agar sesuai dengan kebenaran Anda sendiri”, lanjutnya. Namun tetap pada orisinalitas gaya Anda sendiri. Bukan menjadi orang lain.

Bahan Bacaan

Emily Temple, Ray Bradbury’s Greatest Writing Advice, https://lithub.com, 22 Agustus 2018

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Sue Weems, How to Bust Excuses and Focus on Your Writing Like Ray Bradbury, https://thewritepractice.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.