.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Bradbury explained in his letter that he didn’t have an office. One day, he was in the library at UCLA and heard typing downstairs. He followed the sound to the basement and realized he could pay to use a typewriter for ten cents per half hour” –Sue Weems, 2021.
.
Ray Douglas Bradbury (1920 –2012) adalah penulis Amerika yang terkenal karena cerita pendek dan novelnya yang sangat imajinatif. Ia mampu memadukan gaya fiksi, kritik sosial, ilmu pengetahuan dan teknologi.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas beberapa tips produktif menulis dari Bradbury. Kali ini saya tanbahkan lagi tips produktif menulis dan Ray Bradbury.
Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Tetap Menulis di Tengah Keterbatasan Sarana
“A science-fiction magazine published “The Fireman,” but Bradbury’s editor at Ballentine later asked him to expand it into a novel. Bradbury returned to the library basement with another bag of dimes and finished 25,000 more words to complete the draft in nine more days” –Sue Weems, 2021.
Betapa mudahnya kita menulis hari ini. Hampir semua orang memiliki gadget. Hampir semua orang tersambung ke internet. Sumber-sumber referensi terbuka luas melalui perpustakaan online. Hanya satu saja yang kurang, tekad untuk menulis dan menghasilkan karya tulis.
Sue Weems (2021) menceritakan, Bradbury tidak memiliki kantor. Ini menjadi pelajaran penting bagi kita semua, bahwa menulis tidak harus berada di sebuah kantor tertentu. Apalagi harus menyewa ruang untuk dijadikan kantor tempat menulis. Tanpa memiliki kantor, Bradbury bisa menjadi penulis yang dikenal di berbagai penjuru dunia.
“Suatu hari”, ujar Weems, “Bradbury berada di perpustakaan UCLA (University of California, Los Angeles). Ia mendengar suara seseorang tengah mengetik di lantai bawah. Ia mengikuti arah suara itu ke ruang bawah tanah, dan akhirnya menyadari bahwa ia bisa membayar untuk menggunakan mesin tik seharga sepuluh sen per setengah jam”.
Bukan hanya tidak punya kantor, Bradbury juga tidak punya mesin tik sendiri untuk menulis. Namun semangat menulis megalahkan keterbatasan sarana. Ia tidak putus asa. Mendengar suara mesin tik yang sedang bekerja, ia segera memiliki pemikiran untuk menyewa.
“Ia kembali ke perpustakaan dengan sekantong uang receh, dan menghabiskan sembilan hari untuk menulis 25.000 kata pertama dari naskah cerita ‘The Fireman’”, ujar Weems. Inilah semangat pantang menyerah yang dicontohkan Bradbury. Tidak memiliki mesin tik, bukanlah masalah. Tidak memiliki tekad, ini baru masalah.
“Tidak memiliki mesin tik, bukanlah masalah. Tidak memiliki tekad, ini baru masalah” –Cahyadi Takariawan.
Mari kita hitung. Selama 9 hari, Bradbury menyelesaikan naskah 25.000 kata untuk (calon) novel The Fireman. Berarti, rata-rata setiap hari ia menulis sebanyak 2.778 kata dengan mesin tik yang disewa di perpustakaan. Lagi-lagi, ini bukan soal kuantitas –sebanyak apa tulisan bisa dihasilkan oleh Bradbury. Namun lebih kepada kualitas yang telah terbukti.
“Sebuah majalah fiksi ilmiah menerbitkan naskah ‘The Fireman’ tersebut, namun editor Bradbury di Ballentine memintanya untuk mengembangkan naskah itu menjadi sebuah novel yang lebih lengkap”, ujar Weems. Sebuah tantangan dan sekaligus kesempatan yang tak ingin disia-siakan Bradbury.
“Bradbury kembali ke ruang bawah tanah perpustakaan dengan sekantong uang receh; dan menyelesaikan 25.000 kata lagi untuk menyelesaikan draf dalam sembilan hari”, ujar Weems. Luar biasa semangat berkarya Bradbury. Keterbatasan tidak membuatnya putus asa, bahkan menjadi penyemangat untuk bekerja.
Inspirasi dari Tempat Menulis
“Bradbury was a champion of libraries, an avid reader, and a joyful writer. He is a terrific example of how to overcome obstacles and excuses to get the draft done. Instead of listing all the reasons the library might be distracting or limiting, he ran out for a bag of dimes and got started” –Sue Weems, 2021.
Jika ada penulis yang sangat cinta dan sangat akrab dengan perpustakaan, ialah Ray Bradbury. Sangat banyak waktu ia habiskan di perpustakaan. “Bradbury adalah juara perpustakaan, pembaca yang rajin, dan penulis yang ceria”, ujar Weems. Dalam banyak perbincangan yang sempat direkam media, Bradbury selalu menyebut perpustakaan dan menyarankan untuk “tidur di perpustakaan”.
Bagi beberapa penulis yang mampu membeli banyak buku referensi, mungkin mereka akan menghabiskan banyak dana untuk memiliki buku-buku yang diperlukan. Mereka tidak perlu ke perpustakaan. Tidak demikian dengan Bradbury. Keterbatasan justru melejitkan semangat untuk mengalahkan.
“Dia adalah contoh hebat tentang bagaimana mengatasi rintangan dan alasan untuk menyelesaikan tulisan”, ungkap Weems. Bradbury tidak perlu membuat alasan, namun ia berusaha mengalahkan setiap alasan yang melintas di pikiran.
Karena rajin dan akrab dengan perpustakaan, sangat banyak inspirasi dan referensi ia dapatkan dari buku-buku. “Ia mendapat inspirasi dari perpustakaan itu sendiri, dan ia memasukkan banyak kutipan di seluruh buku yang membuktikan banyaknya bacaan,” ujar Weems.
“Wherever we’re writing, we can draw from the quirky details, the ambiance, and the character studies that surround us” –Sue Wems, 2021.
Kita tidak harus menulis di perpustakaan. Kita tidak harus mencari inspirasi di perpustakaan. “Di mana pun kita menulis, kita dapat mengambil dari detail unik, suasana, dan studi karakter yang mengelilingi”, ungkap Weems.
Bahan Bacaan
Emily Temple, Ray Bradbury’s Greatest Writing Advice, https://lithub.com, 22 Agustus 2018
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/
Sue Weems, How to Bust Excuses and Focus on Your Writing Like Ray Bradbury, https://thewritepractice.com