.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“How can you get your finger on it, feel that life beating?” –Alice Munro.
.
Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dari Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Bersikap Terhadap Kritik
Di zaman cyber saat ini, hampir semua orang memiliki gadget dan tersambung dengan internet. Mereka bisa memperoleh banyak bacaan melalui situs berita, blog, web maupun fitur-fitru media sosial. Di saat yang sama, mereka bisa memberikan komentar, kritik maupun pujian.
Banyak penulis pemula yang takut dikritik. Belum mulai menulis dan memosting tulisan, sudah dibayangi oleh banyaknya kritikan. Dampaknya, semangat menulis menurun, bahkan hilang. Laptop ditutup, dan berganti aktivitas lain. Bagaimana kita harus bersikap terhadap kritik?
Munro memiliki perspektif tersendiri tentang kritik. Menurutnya, “Pendapat atau kritik terhadap karya kita bisa penting, bisa juga tidak”. Artinya, kita tidak bisa memastikan atau memutlakkan sikap. Bahwa kritik pasti bermanfaat, atau kritik pasti merugikan. Sebagian kritik ada manfaatnya, sebagian yang lain tidak ada manfaatnya.
“Sebagai penulis”, ujar Munro, “Tidak ada yang bisa kita pelajari dari kritik pembaca; bahkan kita bisa mengalami perasaan sakit hati dari kritik”. Inilah yang sesungguhnya terjadi. Penulis besar sekaliber Munro juga merasakan hal yang sama. Kritik cenderung melahirkan sakit hati.
Mengapa kritik mudah menimbulkan sakit hati? “Bila karya kita dinilai tidak bagus, kita cenderung merasa dipermalukan di depan umum. Meski kita meyakinkan diri bahwa tidak ada kritik yang perlu untuk diperhatikan, namun ujung-ujungnya kita selalu berusaha untuk mencari tahu”, ungkap Munro.
Kita merasa sudah bersungguh-sungguh menulis, sudah mengedit dengan serius, namun ternyata dikecam pembaca. Rasa-rasanya meruntuhkan bangunan rasa percaya diri yang sedang ditumbuhkan. Saat kritik itu ditulis di ruang publik, misalnya di kolom komentar yang bisa dibaca semua orang, rasanya seperti dipermalukan di depan umum. Tentu akan sangat malu.
Maka Munro mengajarkan untuk menjawab kritik dengan terus belajar dan terus berkarya. Bukan menjawab kritik dengan apologi atau dengan pembelaan diri. Bukan menyikapi kritik dengan sakit hati, dan mengundurkan diri dari tulis menulis. Namun justru dengan banyak belajar, banyak menelaah karya para penulis hebat, dan terus berkarya.
“Perbanyak menelaah buku dari berbagai ragam jenis, agar bisa menambah wawasan dan membuka pintu pengetahuan yang luas. Jangan malas untuk membaca, karena hanya dengan membaca kita akan mengetahui dimana letak kekurangan dan kelebihan tulisan kita”, sarannya. “Jadikan buku-buku itu sebagai pelita dalam mengevaluasi hasil karya tulis yang sudah kita lahirkan”, lanjutnya.
Kapan Kita Harus Menulis?
Jika kita perhatikan, kebiasaan para penulis berbeda-beda dalam menemukan waktu menulis. Ada banyak penulis yang terbiasa menulis di pagi hari. Stephen King, Ray Bradbury, Ernest Hemingway, Toni Morrison, Steven Kotler, Steven Pressfield, Paul Shirley, Joanna Penn dan banyak penulis lainnya, termasuk tipe penulis pagi.
Alice Munro menulis di pagi hari sebelum anak-anaknya bangun. Demikian pula novelis Beryl Bainbridge, ia bangun pukul lima pagi dan menulis sembari mengoperasikan mesin cuci. Anthony Trollope bangun pagi, dan menulis antara pukul 05.30 dan 08.30. Ia mengharuskan dirinya untuk menulis 250 kata setiap seperempat jam.
Namun ada banyak penulis lainnya yang memilih malam hari untuk bekerja menuangkan ide ke dalam tulisan. Ursula K. LeGuin menulis setelah anak-anaknya tidur. Danielle Steel menulis mulai jam sebelas malam hingga pagi. Franz Kafka duduk di mejanya pada pukul 10.30 atau 11.00 malam, dan menulis sampai pukul satu atau pukul tiga pagi.
Thomas Wolfe mulai menulis tengah malam. Bob Dylan lebih sering menulis di malam hari. Michael Chabon menulis mulai pukul 10 malam sampai pukul tiga pagi. Masih banyak lagi deretan penulis produktif yang bekerja di malam hari, seperti Reinaldo Arenas, Marcel Proust, Honore de Balzac, Kathryn Schulz, Gabriel Garcia Marquez, Liana Maeby, dan lain-lain.
Berbeda lagi dengan Patricia Highsmith, ia biasa menulis sepulang kerja di sore hari. Saya kira masih sangat banyak contoh, kebiasan para penulis yang berbeda-beda dalam menemukan titik optimal waktu menulis. Semua berpulang kepada diri kita sendiri, tidak ada waktu ‘paling tepat’ yang bisa berlaku bagi semua orang.
Alice Munro menyarankan agar kita menjauhi berbagai hal yang “harus” (Jennifer Fernandez, 2020). Misalnya, harus menulis pada waktu pagi, harus menulis pada waktu malam, harus menulis pada waktu siang, dan lain sebagainya. Maka menulislah ketika Anda bisa melakukannya. Menulislah di pagi hari jika Anda memiliki waktu, menulislah di bus, menulislah di tengah malam, sesuai kondisi Anda (Jennifer Fernandez, 2020).
Maka, cermati kondisi Anda masing-masing, dan menulislah sesuai kondisi dan situasi yang Anda miliki. Yang paling penting adalah : rutin menulis. Soal tempat dan waktu, soal target jumlah tulisan, semua kembali kepada masing-masing kita.
Selamat berkarya.
Bahan Bacaan
Anthony Ehlers, How 5 Famous Authors Found The Time To Write At Night, https://www.writerswrite.co.za
Jeanne McCulloch & Mona Simpson, Alice Munro : The Art of Fiction No. 137, https://www.theparisreview.org, Issue 131, Summer 1994
Jennifer Fernandez, Writing Advice From Alice Munro, https://www.writeordietribe.com, 9 November 2020
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com
.
Ilustrasi : https://favim.com/