.
Belajar dari Para Penulis Produktif
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Munro has thoughts about what happens once your first draft “has put on rough but adequate clothes.” It’s dressed, sure, but now you need to stand back and take a look at its outfit” –Jennifer Fernandez, 2020.
.
Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.
Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.
Pilihan Menulis Cerpen
“I don’t really understand a novel. I don’t understand where the excitement is supposed to come in a novel, and I do in a story” –Alice Munro.
Banyak orang begitu takjub terhadap para penulis novel yang panjang. Seakan novel adalah kasta tertinggi dari dunia fiksi. Namun Munro memilih jati dirinya, yang lebih nyaman dengan cerita pendek (cerpen). Baginya, cerpen adalah sebuah proses kreatif yang mengantarkannya kepada berbagai ‘penemuan’.
“Saya tidak begitu mengerti sebuah novel. Saya tidak mengerti di mana kegembiraan seharusnya datang dalam sebuah novel, dan saya bisa mendapatkannya dalam sebuah cerpen”, ujar Munro. Saat menulis novel, Munro tidak merasakan ‘penemuan’ yang diinginkan. Namun saat menulis cerpen, penemuan itu didapatkan.
“Ada semacam ketegangan yang saya dapatkan dari cerpen yang tepat. Saya bisa langsung merasakannya”, ungkap Munro. “Saya tidak merasakannya ketika saya mencoba menulis novel. Saya ingin momen yang eksplosif, dan saya ingin semuanya berkumpul di dalamnya”, tambahnya.
“There’s a kind of tension that if I’m getting a story right I can feel right away, and I don’t feel that when I try to write a novel. I kind of want a moment that’s explosive, and I want everything gathered into that” –Alice Munro.
Munro mengajarkan kepada kita untuk menulis hal yang mengantarkan kita kepada ‘penemuan’ diri. Bukan menulis untuk menempatkan diri pada ‘kemegahan’ karena mampu menciptakan sesuatu yang ‘wah’ di mata orang. Munro dengan jujur telah mengakui bahwa ia tidak menemukan sesuatu yang dicari saat menulis novel, maka tidak perlu memaksa menulis novel. Ia menemukannya dalam cerpen.
Ini yang membuatnya selalu produktif menulis, karena berada pada area yang menjadi kemampuannya. Tidak memaksakan diri melakukan hal yang di luar kemampuannya.
Bersikap Terhadap Kualitas Tulisan Sendiri
“See and play with all the mistakes. But you must be willing to continue moving forward because in moving through the mistakes, you’ll find your story’s sense of self” –Jennifer Fernandez, 2020.
Saat Anda menulis sebuah cerita dan berhasil menyelesaikannya, pasti rasanya sangat lega. Seakan telah menyelesaikan sebuah perjuangan yang hebat. Padahal sebenarnya belum selesai. Justru itu baru permulaan dari pekerjaan besar. Anda harus meneliti dan melakukan berbagai penyesuaian.
Menurut Alice Munro, setelah draf pertama cerita berjasil Anda tulis, kondisinya seperti ‘has put on rough but adequate clothes’, mengenakan pakaian kasar tapi memadai. Selesainya sebuah cerita, itu seperti selesai mengenakan pakaian, namun sekarang Anda harus mundur dan melihat kondisi pakaiannya.
Jangan puas hanya karena sudah berpakaian, namun Anda harus mencermati seperti apa pakaian yang sebenarnya sedang Anda kenakan. Selesainya sebuah tulisan, bukan berarti Anda bisa langsung memublikasikan. Ibarat pakaian, Anda harus mempertimbangkan keserasian, kelayakan, kepatutan dan lain sebagainya. Inilah pekerjaan besar yang menanti Anda.
Proses meneliti ini kadang terasa menyakitkan. Jika seorang penulis menemukan bagian-bagian tertentu yang tidak sesuai harapan, atau terasa sangat jauh dari kelayakan, terkadang merasakan keputusasaan. Saat menemukan ada paragraf yang tidak relevan, atau bahkan sub bab yang tidak menyambung, terpikir pilihan, apakah lebih baik membuangnya sama sekali, atau melakukan revisi seperlunya saja?
Bersedia Melakukan Penyesuaian
Dalam tahap penyesuaian, kita bisa melakukan ‘penggemukan’, ‘pengurusan’, pemolesan, pemotongan, atau penambahan di sana-sini. Di saat usaha ini terjadi, cerita Anda justru berisiko kehilangan nyawa. Munro menyebut kondisi ini sebagai “kecerobohan yang putus asa” –sehingga dipikir satu-satunya cara untuk menyelamatkan adalah membuang naskah sama sekali.
“The danger she says is that you come to see it as so “hopelessly misbegotten” that the only way to save it is to throw it out altogether” –Jennifer Fernandez, 2020.
Sebenarnya ada sangat banyak cara penyelamatan –tidak harus dengan kejam membuang semua naskah yang sudah selesai ditulis. Cermati bagian demi bagian, lihat pada bagian mana yang bisa dilakukan perbaikan. Munro menyarankan berbagai alternatif misalnya menulis halaman baru, mencari sudut pandang baru, memasukkan karakter kecil ke depan, lalu memindahkannya kembali.
Gunakan berbagai peluang dan kemungkinan untuk perbaikan. Yang paling penting, Anda harus bersedia untuk terus maju. Bukan mundur ke belakang. Ketika berusaha untuk memperbaiki kualitas tulisan, Anda akan sampai kepada ‘rasa diri’ yang Anda kehendaki dari tulisan Anda.
Bahan Bacaan
Jennifer Fernandez, Writing Advice From Alice Munro, https://www.writeordietribe.com, 9 November 2020
Keith Wagstaff, Alice Munro: 7 Insights on Writing from the Nobel Prize Winner, https://theweek.com, 9 Januari 2015
Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com