Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 45

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Sometimes I get the start of a story from a memory, an anecdote, but that gets lost and is usually unrecognizable in the final story” –Alice Munro.

.

Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra (2013). Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Memulai Tulisan dari Hal Sederhana

“Let the story take you where it wants to take you. And just let whatever started the story in the first place slip from your mind” –Brian Rowe, 2020.

Dari mana Anda mendapatkan ide menulis? Sesungguhnya, segala sesuatu bisa menjadi ide untuk ditulis. Bagi penulis, semua kejadian, pengalaman, kenangan, anekdot, bisa menjadi inspirasi untuk ditulis. Baik penulis fiksi maupun nonfiksi, berbagai kejadian sehari-hari adalah ide yang bagus untuk dijadikan bahan tulisan.

Demikian pula pada Alice Munro. “Kadang-kadang saya mendapatkan awal cerita dari sebuah kenangan, sebuah anekdot” ujar Munro. Ini memberi pelajaran, menulis bisa kita awali dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Misalnya, kenangan, atau anekdot –sebagaimana diungkapkan Munro. Bukankah itu sesuatu yang sederhana saja?

Meski id bermula dari  satu kenangan atau satu anekdot, “tapi itu akan hilang, dan biasanya tidak dikenali di akhir cerita,” ungkap Munro. Ide menulis bisa didapatkan dari sebuah kenangan akan peristiwa tertentu, namun dalam proses menulis –terlebih kisah fiksi, kejadian tersebut tidak lagi tampak sebagai apa adanya. Bahkan “tidak dikenali” –kata Munro.

Brian Rowe (2020) mengomentari tips menulis ala Munro ini dengan pembuktian terhadap pengalaman dirinya. “Saya telah menulis banyak buku selama bertahun-tahun”, ujar Rowe. “Sekitar setengahnya dimulai dengan ingatan atau anekdot, atau pengalaman pribadi yang memiliki semacam efek jangka panjang dalam diri saya,” lanjutnya.

“I’ve written a lot of books throughout the years and I would say about half of them started with a memory or an anecdote, or a personal experience that had some kind of long-lasting effect on me” –Brian Rowe, 2020.  

“Saya pernah menulis novel yang sebenarnya otobiografi, namun disamarkan sebagai karya fiksi”, ujar Rowe. Ini menunjukkan bahwa awal kisah fiksi yang ditulis Rowe adalah pengalaman dan kisah kehidupannya sendiri. Dengan dipoles di berbagai bagian, jadilah sebuah kisah fiksi yang berbeda dengan kisah aslinya. Tidak lagi dikenali bahwa itu adalah biografi.

“Biarkan cerita membawa Anda ke arah yang ia kehendaki. Dan biarkan apa pun yang memulai cerita itu terlepas dari pikiran Anda”, ujar Rowe. Artinya, kendati kita menulis dari sebuah peristiwa atau kejadian nyata, bisa diolah sedemikian rupa –dalam konteks kisah fiksi, sehingga tidak lagi berpegang kepada kejadian aslinya. Kisah asli yang menjadi sumber inspirasi sudah tidak lagi dikenali.

Jangan takut menulis, dari ide-ide sederhana di sekitar kita. Bahkan dari sebuah kenangan, atau dari sebuah anekdot.

Melampaui Batas Kebiasaan

“Some of the stories I admire seem to zero in on one particular time and place. There isn’t a rule about this. But there’s a tidy sense about many stories I read. In my own work, I tend to cover a lot of time and to jump back and forward in time, and sometimes the way I do this is not very straightforward” –Alice Munro.

Setiap kali menulis, umumnya kita memiliki kecenderungan untuk mengikuti kebiasan-kebiasaan yang berlaku. Misalnya, saat menulis cerpen, kita cenderung menulis kisah dengan sedikit karakter, pada satu tempat dan dalam satuan waktu yang pendek. Hal ini untuk menjaga ‘wilayah perbatasan’ dengan novel.

Kebiasaan seperti ini kita ikuti, karena –mungkin, khawatir atau takut dikatakan sebagai tidak paham konteks. Atau tidak percaya diri saat tulisan kita dianggap berbeda. Tidak demikian dengan Munro. “Beberapa cerita pendek yang saya kagumi tampaknya membidik pada satu waktu dan tempat tertentu”, ujar Munro.

“Tidak ada aturan tentang ini. Tapi ada kesan rapi dari banyak cerita pendek yang saya baca”, lanjut Munro. “Saya cenderung menggunakan banyak waktu dan melompat-lompat dalam waktu”, tambahnya.

Sebagai legenda dalam penulisan cerpen, Alice Munro konsisten dengan pilihannya. Dalam karir menulis yang panjang dan populer, ia tidak pernah menulis novel –padahal novel sering dianggap sebagai puncak tulisan fiksi. Ia memilih menekuni cerita pendek sepanjang hidupnya.

“But the truth is you can write your short fiction any way you want. Munro liked to cover a lot of time and jump forward and backward” –Brian Rowe, 2020.   

“Ketika berbicara tentang cerita pendek, begitu banyak orang berpikir satu-satunya cara untuk menulisnya adalah dengan membidik satu waktu dan tempat tertentu”, ujar Rowe. Kebiasaan yang berlaku dalam penulisan cerita pendek adalah menempatkan pada rentang waktu yang terbatas dan tempat yang tertentu.

“Saya akui itulah cara menulis sebagian besar dari cerita pendek saya. Selusin atau lebih cerpen yang saya tulis pada beberapa tahun terakhir, kebanyakan fokus pada satu karakter di satu tempat dalam waktu yang sangat singkat,” lanjut Rowe.

“Saya khawatir jika membuka cerita sedikit saja, akan berubah menjadi novel. Banyak ide cerita pendek saya di masa lalu yang akhirnya berkembang menjadi novel”, ungkap Rowe.

Pelajaran penting dari tips menulis Munro adalah, jangan takut berbeda. Kita bisa melampaui batas-batas kebiasaan yang berlaku. Justru hal ini bisa menjadi tulisan yang menarik, karena berbeda dari kebiasaan. “Cobalah sesuatu di luar kebiasaan dan itu bisa menjadi cerita yang mendapat penjualan dan publikasi cepat!” ungkap Rowe.

“Try something outside the box and maybe that will be the story that gets a fast sale and publication!” –Brian Rowe, 2020.   

Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Brian Rowe, 5 Quotes by Alice Munro to Make You a Better Writer, https://medium.com, 31 Maret 2020

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.

Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 45

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Sometimes I get the start of a story from a memory, an anecdote, but that gets lost and is usually unrecognizable in the final story” –Alice Munro.

.

Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra (2013). Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Memulai Tulisan dari Hal Sederhana

“Let the story take you where it wants to take you. And just let whatever started the story in the first place slip from your mind” –Brian Rowe, 2020.

Dari mana Anda mendapatkan ide menulis? Sesungguhnya, segala sesuatu bisa menjadi ide untuk ditulis. Bagi penulis, semua kejadian, pengalaman, kenangan, anekdot, bisa menjadi inspirasi untuk ditulis. Baik penulis fiksi maupun nonfiksi, berbagai kejadian sehari-hari adalah ide yang bagus untuk dijadikan bahan tulisan.

Demikian pula pada Alice Munro. “Kadang-kadang saya mendapatkan awal cerita dari sebuah kenangan, sebuah anekdot” ujar Munro. Ini memberi pelajaran, menulis bisa kita awali dari hal-hal sederhana di sekitar kita. Misalnya, kenangan, atau anekdot –sebagaimana diungkapkan Munro. Bukankah itu sesuatu yang sederhana saja?

Meski id bermula dari  satu kenangan atau satu anekdot, “tapi itu akan hilang, dan biasanya tidak dikenali di akhir cerita,” ungkap Munro. Ide menulis bisa didapatkan dari sebuah kenangan akan peristiwa tertentu, namun dalam proses menulis –terlebih kisah fiksi, kejadian tersebut tidak lagi tampak sebagai apa adanya. Bahkan “tidak dikenali” –kata Munro.

Brian Rowe (2020) mengomentari tips menulis ala Munro ini dengan pembuktian terhadap pengalaman dirinya. “Saya telah menulis banyak buku selama bertahun-tahun”, ujar Rowe. “Sekitar setengahnya dimulai dengan ingatan atau anekdot, atau pengalaman pribadi yang memiliki semacam efek jangka panjang dalam diri saya,” lanjutnya.

“I’ve written a lot of books throughout the years and I would say about half of them started with a memory or an anecdote, or a personal experience that had some kind of long-lasting effect on me” –Brian Rowe, 2020.  

“Saya pernah menulis novel yang sebenarnya otobiografi, namun disamarkan sebagai karya fiksi”, ujar Rowe. Ini menunjukkan bahwa awal kisah fiksi yang ditulis Rowe adalah pengalaman dan kisah kehidupannya sendiri. Dengan dipoles di berbagai bagian, jadilah sebuah kisah fiksi yang berbeda dengan kisah aslinya. Tidak lagi dikenali bahwa itu adalah biografi.

“Biarkan cerita membawa Anda ke arah yang ia kehendaki. Dan biarkan apa pun yang memulai cerita itu terlepas dari pikiran Anda”, ujar Rowe. Artinya, kendati kita menulis dari sebuah peristiwa atau kejadian nyata, bisa diolah sedemikian rupa –dalam konteks kisah fiksi, sehingga tidak lagi berpegang kepada kejadian aslinya. Kisah asli yang menjadi sumber inspirasi sudah tidak lagi dikenali.

Jangan takut menulis, dari ide-ide sederhana di sekitar kita. Bahkan dari sebuah kenangan, atau dari sebuah anekdot.

Melampaui Batas Kebiasaan

“Some of the stories I admire seem to zero in on one particular time and place. There isn’t a rule about this. But there’s a tidy sense about many stories I read. In my own work, I tend to cover a lot of time and to jump back and forward in time, and sometimes the way I do this is not very straightforward” –Alice Munro.

Setiap kali menulis, umumnya kita memiliki kecenderungan untuk mengikuti kebiasan-kebiasaan yang berlaku. Misalnya, saat menulis cerpen, kita cenderung menulis kisah dengan sedikit karakter, pada satu tempat dan dalam satuan waktu yang pendek. Hal ini untuk menjaga ‘wilayah perbatasan’ dengan novel.

Kebiasaan seperti ini kita ikuti, karena –mungkin, khawatir atau takut dikatakan sebagai tidak paham konteks. Atau tidak percaya diri saat tulisan kita dianggap berbeda. Tidak demikian dengan Munro. “Beberapa cerita pendek yang saya kagumi tampaknya membidik pada satu waktu dan tempat tertentu”, ujar Munro.

“Tidak ada aturan tentang ini. Tapi ada kesan rapi dari banyak cerita pendek yang saya baca”, lanjut Munro. “Saya cenderung menggunakan banyak waktu dan melompat-lompat dalam waktu”, tambahnya.

Sebagai legenda dalam penulisan cerpen, Alice Munro konsisten dengan pilihannya. Dalam karir menulis yang panjang dan populer, ia tidak pernah menulis novel –padahal novel sering dianggap sebagai puncak tulisan fiksi. Ia memilih menekuni cerita pendek sepanjang hidupnya.

“But the truth is you can write your short fiction any way you want. Munro liked to cover a lot of time and jump forward and backward” –Brian Rowe, 2020.   

“Ketika berbicara tentang cerita pendek, begitu banyak orang berpikir satu-satunya cara untuk menulisnya adalah dengan membidik satu waktu dan tempat tertentu”, ujar Rowe. Kebiasaan yang berlaku dalam penulisan cerita pendek adalah menempatkan pada rentang waktu yang terbatas dan tempat yang tertentu.

“Saya akui itulah cara menulis sebagian besar dari cerita pendek saya. Selusin atau lebih cerpen yang saya tulis pada beberapa tahun terakhir, kebanyakan fokus pada satu karakter di satu tempat dalam waktu yang sangat singkat,” lanjut Rowe.

“Saya khawatir jika membuka cerita sedikit saja, akan berubah menjadi novel. Banyak ide cerita pendek saya di masa lalu yang akhirnya berkembang menjadi novel”, ungkap Rowe.

Pelajaran penting dari tips menulis Munro adalah, jangan takut berbeda. Kita bisa melampaui batas-batas kebiasaan yang berlaku. Justru hal ini bisa menjadi tulisan yang menarik, karena berbeda dari kebiasaan. “Cobalah sesuatu di luar kebiasaan dan itu bisa menjadi cerita yang mendapat penjualan dan publikasi cepat!” ungkap Rowe.

“Try something outside the box and maybe that will be the story that gets a fast sale and publication!” –Brian Rowe, 2020.   

Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Brian Rowe, 5 Quotes by Alice Munro to Make You a Better Writer, https://medium.com, 31 Maret 2020

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.