Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 47

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I’m always trying. Between every book, I think, ‘Well now, it’s time to get down to the serious stuff” –Alice Munro.

.

Alice Munro adalah penulis fiksi produktif dan penerima penghargaan Nobel bidang sastra tahun 2013. Munro terkenal dengan gaya tulisan yang sederhana dan bersahaja. Mayoritas karya tulisnya berupa cerita pendek, namun dengan ukuran yang panjang untuk setiap cerpennya.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari Alice Munro. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Munro. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Terus Berproses dan Bertumbuh

“We all want to grow as writers. We want to improve in our craft. We want to get down to the serious stuff sooner or later” –Brian Rowe, 2020.

Pada saat sedang belajar menulis, kita sering merasa gagap –apakah tulisan saya ini ada manfaatnya? Apakah tulisan ini memiliki makna? Rasa tidak percaya diri segera menyergap diri, sehingga selalu ragu-ragu untuk menulis, apalagi untuk memosting tulisan.

Seorang peserta kelas menulis buku menyampaikan kepada saya, bahwa apa yang akan ia tulis “hanyalah” kisah kehidupannya sendiri. Kisah remeh temah tentang masa kecil hingga dewasa. “Apa ada orang mau membaca buku yang isinya seperti itu?” ujarnya penuh pesimisme. Ia memikirkan untuk mundur, tidak jadi ikut kelas. Merasa tidak layak, karena ceritanya hanya remah-remah sederhana.

Saya sampaikan kepada peserta tersebut, bahwa menulis adalah proses. Tentu saja proses harus dilewati dan ditempuh, karena kita bukan jenis ‘unicorn’ yang sekali menulis buku langsung bagus, langsung best seller. Kita hanyalah jenis manusia biasa, yang untuk menjadi hebat memerlukan sejumlah latihan, sejumlah kedisiplinan dan kesungguhan.

“Jika Anda tidak menulis sekarang, Anda kehilangan kesempatan untuk bertumbuh dan berkembang. Buku pertama adalah proses ‘pecah telur’, supaya Anda memiliki pengalaman menulis buku”, jawab saya.

“If you’re dedicating part of your day to a new creative endeavor that comes from your heart, that you feel passion for, that you hope to one day enter the world for people to see and feel, you’re already being serious” –Brian Rowe, 2020.

Inilah yang diungkapkan oleh Munro, “Saya selalu berusaha. Di antara setiap buku, saya berpikir, ‘Nah sekarang, saatnya untuk membahas hal-hal yang serius.’” Setiap kali menulis buku, ada proses yang sedang berlangsung. Ada pertumbuhan dan perkembangan. Disadari atau tidak, kita telah menjalani proses untuk menuju kondisi yang lebih baik.

Awalnya, menulis buku “sekedar” cerita-cerita remah di dalam hidup keseharian. Kadang muncul keraguan, apakah tulisan ini sesuatu yang ada gunanya untuk menjadi buku? Namun ketika proses kita lewati, lalu menulis buku kedua, buku ketiga dan seterusnya, akan muncul titik dimana kita menemukan hal-hal yang lebih tepat dalam sisi penulisan. “Sekarang saatnya membahas hal-hal serius”, ungkap Munro.

Fokus dan Mengerucut

“What we’re writing now isn’t very literary, but the next one will be. What we’re writing now is more of a popular kind of entertainment, but that next one I write next year will be the one that’s finally embraced my critics and audiences alike” –Brian Rowe, 2020.  

Proses belajar membuat kita mendapatkan lebih banyak insight kepenulisan. Jika saat awal menulis kita ‘sekedar’ menyampaikan hal-hal sederhana, namun itu benar-benar sebuah tindakan yang akan menyebabkan kita menjadi fokus dan makin mengerucut. Makin lama makin mengerti, makin lama makin ahli.

Benarlah ungkapan Richard Bach, “A professional writer is an amateur who didn’t quit”. Tidak ada orang mendadak profesional. Penulis hebat adalah pemula yang tak berhenti menulis. Terus menulis, terus berproses, terus bertumbuh. Ada titik di mana mereka akan semakin mengerucut menjadi para profesional.

Dulu saya penulis segala sesuatu. Semua tema saya tulis, fiksi maupun nonfiksi saya jalani. Namun akan ada titik di mana saya mulai fokus dan mengerucut. Fokus dan mengerucut ini setelah mengalami melebar, yang pada akhirnya mengerti harus memilih. Di titik itu saya memilih. Rumpun nonfiksi, tema family, gaya populer.

‘Well now, it’s time to get down to the serious stuff”, ujar Alice Munro. Seperti itulah akhirnya. Dari tulisan ringan, dari proses pembelajaran, ternyata bisa menjadi sesuatu yang serius. Saya menulis banyak buku bertema family, dan akhirnya diminta menuliskan modul serta kurikulum pembinaan ketahanan keluarga untuk pemerintah provinsi.

“Kita semua ingin tumbuh sebagai penulis. Kita ingin meningkatkan keahlian. Kita ingin sampai kepada hal-hal yang serius, cepat atau lambat”, ujar Brian Rowe (2020).  “Buku atau cerita pendek yang kita tulis saat ini ringan dan menyenangkan, tetapi jangan khawatir — kita akan berusaha lebih keras lagi, sehingga suatu ketika nanti menjadi lebih bermakna”.

“Apa yang kita tulis sekarang mungkin tidak terlalu sastrawi, tetapi karya berikutnya akan lebih baik. Apa yang kita tulis sekarang mungkin lebih merupakan jenis hiburan yang populer, tetapi karya-karya berikutnya akan menjadi salah satu perhatian serius pembaca”, lanjut Rowe.

“If you’re working hard on your writing every day and doing everything you can to improve, if you’re getting rejected a lot and feeling failure often, if you’re getting up each morning and trying again anyway, you’re a serious writer, and you’re going to make it one day. Just believe in yourself and keep going” –Brian Rowe, 2020.  

Kunci utama tetap ada pada kesediaan menjalani proses. Bahkan menjalani proses itupun merupakan peristiwa serius –bukan sebuah permainan. Semakin tekun kita belajar, semakin tekun kita mengasah kemampuan menulis, semakin tekun kita membuat karya, akan semakin fokus dan mengerucut pada pilihan terbaik.

“Jika Anda mendedikasikan sebagian dari hari Anda untuk menulis kreatif yang bermula dari hati, sesuatu yang Anda sukai, yang Anda harapkan suatu hari nanti bisa menjadi perhatian dan dirasakan orang, Anda sudah serius”, ujar Rowe. “Hanya karena Anda tidak menulis novel paling sastra di dunia, bukan berarti bahwa cerita fantasi yang Anda tulis sekarang tidak serius”.

Maka teruslah berproses, teruslah bertumbuh. Anda akan sampai kepada fokus dan semakin mengerucut. “Jika Anda bekerja keras untuk menulis setiap hari dan melakukan semua usaha yang Anda bisa untuk meningkatkannya, jika tulisan Anda sering ditolak dan sering merasa gagal, jika Anda bangun setiap pagi dan tetap mencoba lagi, maka Anda adalah orang yang serius”, ungkap Rowe.

“Anda akan berhasil suatu hari nanti. Percayalah pada diri sendiri dan terus menulis”, demikian pesan Rowe.

Bahan Bacaan

Brian Rowe, 5 Quotes by Alice Munro to Make You a Better Writer, https://medium.com, 31 Maret 2020

Jeanne McCulloch & Mona Simpson, Alice Munro : The Art of Fiction No. 137, https://www.theparisreview.org, Issue 131, Summer 1994

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.