Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 55

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Memories, impressions, and emotions from your first 20 years on earth are most writers’ main material; little that comes afterward is quite so rich and resonant” –John Updike.

.

John Hoyer Updike adalah seorang novelis, penulis puisi, penulis cerita pendek, serta kontributor The New Yorker. Dua karyanya mendapatkan penghargaan bergengsi Pulitzer untuk kategori fiksi. Di sepanjang hidupnya, Updike telah menerbitkan lebih dari 20 novel, belasan kumpulan cerita pendek, delapan volume buku kumpulan puisi, dan beberapa buku nonfiksi. 

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari John Updike. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Updike. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Menetapkan Batasan Menulis

“When you have a quota, whether it’s two pages or–three is how I think of it, three pages–that it’s a fairly modest quota, but nevertheless if you do it, really do it, the stuff will accumulate” –John Updike.

Kuota menulis adalah sebuah cara membatasi diri –agar tidak terlalu membebani diri, namun juga tidak terlalu santai. Bukan saja tentang target menulis harus mencapai berapa kata atau berapa halaman setiap harinya, namun juga jangan melampauinya. Masing-masing kita mengetahui kuota yang paling tepat untuk diri kita sendiri.

Aktivitas keseharian kita sangat banyak, sementara waktu sangat terbatas. Maka perlu ada kuota, yang membuat kita tetap rutin menulis setiap hari, karena ada target yang harus dicapai, namun juga tidak menghabiskan waktu hanya untuk menulis. Ada waktu untuk keluarga, ada waktu untuk sahabat, ada waktu untuk tetangga, dan lain sebagainya.

“Saya dikejutkan oleh fakta”, ujar John Updike, “bahwa Bernard Shaw –yang menjadi penulis drama setelah menulis lima novel, akan duduk di British Museum”. Tentu hal yang sangat istimewa, bahwa seorang tokoh ditempatkan sejarahnya di museum yang terhormat dan bergengsi.

Apa yang istimewa dari Bernard Shaw? “Ruang baca dan kuotanya mungkin sekitar lima halaman sehari”, ujar Updike. “Ketika sampai kata terakhir di halaman terakhir—apakah itu di tengah kalimat—dia akan berhenti menulis”, lanjut Updike. Inilah kuota itu. Sangat disiplin Bernard Shaw membatasi diri dalam menulis.

Bagi seorang penulis produktif, lima halaman sehari bukanlah hal istimewa. Itu biasa saja, bahkan mungkin sangat sederhana. Namun kedisplinan untuk membatasi diri pada kuota yang telah ditentukan, adalah sesuatu yang luar biasa.

“Ketika Anda memiliki kuota, apakah itu dua atau tiga halaman, adalah bagaimana memikirkannya”, ungkap Updike. “Tiga halaman itu adalah kuota yang cukup sederhana, tetapi jika Anda benar-benar melakukannya, tulisan itu akan bertumpuk”, ungkapnya.

“The reading room, and his quota was something like maybe five pages a day, but when he got to the last word on the last page–whether it was the middle of a sentence–he would stop” –John Updike.

Artinya, jangan menyepelekan kuota menulis yang “hanya” dua halaman atau tiga halaman. Sebab bukan soal hitungan “mengapa hanya menulis sedikit halaman?” –namun tentang konsistensi. Jika Anda konsisten menulis dua atau tiga halaman setiap hari, pasti sangat banyak tulisan terakiumulasikan setelah beberapa waktu tertentu.

Maka sangat penting bagi kita semua untuk memiliki batasan menulis, sesuai situasi dan kondisi masing-masing. Tidak harus mengejar sepuluh atau duapuluh halaman setiap hari. Bahkan ketika Anda hanya bisa menulis dua atau tiga halaman setiap hari, itu sudah sangat cukup untuk produktif menghasilkan karya tulis berkualitas.

Sumber Inspirasi Menulis

“You are full of your material–your family, your friends, your region of the country, your generation–when it is fresh and seems urgently worth communicating to readers. No amount of learned skills can substitute for the feeling of having a lot to say, of bringing news” –John Updike.

Beberapa penulis pemula bingung dengan bahan yang akan ditulis. “Saya tidak memiliki ide untuk menulis”, ujar seorang peserta Kelas Menulis Online (KMO) Basic. Padahal, semua hal yang ada di dalam diri kita dan di sekitar ada, adalah ide yang orisinil untuk ditulis. Tidak perlu bingung atau mencari inspirasi yang jauh, karena yang sangat dekat dengan kita adalah inspirasi tiada henti.

“Anda penuh dengan materi menulis”, ujar Updike. “Keluarga, teman, wilayah tempat tinggal, anak-anak Anda— adalah materi segar dan sangat berharga untuk dikomunikasikan kepada pembaca”, sambungnya.

Bagi penulis, semua hal adalah ide yang bisa dikembangkan menjadi tulisan –baik fiksi maupun nonfiksi. “Tidak ada pelajaran keterampilan yang dapat menggantikan perasaan memiliki banyak hal untuk dituliskan”, ujar Updike. Keterampilan menulis hanyalah soal teknis, namun memiliki sangat banyak materi, adalah kekayaan yang tak ternilai harganya.

“Kenangan, kesan, dan emosi duapuluh tahun pertama kehidupan di muka bumi adalah bahan utama dari sebagian besar penulis”, ungkap Updike. “Sedikit saja bahan yang datang sesudahnya”, sambungnya. Menggali pengalaman kehidupan dari duapuluh tahun pertama kehidupan, adalah inspirasi paling utama dalam menulis cerita.

“By the age of 40, you have probably mined the purest veins of this precious lode; after that, continued creativity is a matter of sifting the leavings” –John Updike.

“Pada usia 40”, ujar Updike, “Anda mungkin telah menambang urat paling murni dari lapisan yang berharga ini; setelah itu, melanjutkan kreativitas adalah soal menyaring yang tersisa”. Maka jangan sia-siakan berbagai materi penting yang bisa diolah menjadi bahan tulisan berharga.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

A Writers Den, John Updike, https://awritersden.wordpress.com, 20 Desember 2017

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

Sam Tanenhaus, John Updike’s Archive: A Great Writer at Work, https://www.nytimes.com, 20 Juni 2010

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.