Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 58

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“There is a great deal of busywork to a writer’s life, as to a professor’s life, a great deal of work that matters only in that, if you don’t do it, your desk becomes very full of papers” –John Updike.

.

John Hoyer Updike adalah seorang novelis, penulis puisi, penulis cerita pendek, serta kontributor The New Yorker. Dua karyanya mendapatkan penghargaan bergengsi Pulitzer untuk kategori fiksi. Di sepanjang hidupnya, Updike telah menerbitkan lebih dari 20 novel, belasan kumpulan cerita pendek, delapan volume buku kumpulan puisi, dan beberapa buku nonfiksi. 

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari John Updike. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Updike. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Menulis di Waktu Pagi dan Sore

“I try to write in the morning and then into the afternoon. I’m a later riser. I rush into the office around 9:30 and try to put the creative project first. I have a late lunch, and then the rest of the day somehow gets squandered” –John Updike.

Anda penulis tipe burung hantu atau ayam jago? Saya sendiri bisa menjadi keduanya. Kadang saya burung hantu yang harus segera menyelesaikan naskah buku atau naskah untuk blog karena mengejar deadline. Kadang saya ayam jago yang habis Subuh sudah mulai menulis hingga waktu Duha.

John Updike tipe ayam jago, namun ia bukan orang yang bisa berpagi-pagi. “Saya menulis di pagi hari dan kemudian di sore hari”, ujar Updike. Sehari dia menulis dua kali. Pagi hari –meski bukan pagi buta, ia menulis, dilanjutkan sore hari. Rutinitas dua kali sehari menulis ini, membuatnya produktif menghasilkan karya tulis.

Di waktu pagi, ia biasa bangun kesiangan, “Saya bangun lambat. Saya bergegas ke kantor sekitar pukul 9.30 dan mengerjakan projek kreatif terlebih dahulu”. Setelah siang, iapun biasa telat menikmati makan siang. “Saya makan siang terlambat, dan kemudian sisa hari itu entah bagaimana terbuang sia-sia,” ungkapnya.

“I’ve never believed that one should wait until one is inspired because I think that the pleasures of not writing are so great that if you ever start indulging them you will never write again” –John Updike.

Pada sore harinya, ia mulai menulis lagi. Namun Updike mengaku tidak pernah menjadi penulis malam. “Tapi saya tidak pernah menjadi penulis malam, tidak seperti beberapa rekan saya”, ungkapnya. Kebiasaan setiap penulis berbeda, maka kita harus bisa mencermati waktu optimal bagi masing-masing diri kita untuk menghasilkan karya tulis.

Menyiasati Kesibukan

“I try to be a regular sort of fellow – much like a dentist drilling his teeth every morning – except Sunday, I don’t work on Sunday, and of course some holidays I take. A solid routine saves you from giving up” –John Updike.

Didera kesibukan sering membuat orang tidak menulis. Namun jika kesibukan dibiarkan terus menerus mengambil jatah waktu menulis, selamanya kita tidak akan pernah menulis.

“Ada banyak kesibukan dalam kehidupan penulis”, ungkap Updike. “Seperti halnya kehidupan profesor, ada banyak pekerjaan penting yang jika Anda tidak segera menyelesaikannya, meja Anda menjadi sangat penuh dengan kertas”, sambungnya. Menunda-nunda menyelesaikan suatu tugas, akan berdampak kepada terlantarnya tugas-tugas yang lain.

“Ada banyak surat (email) yang harus dijawab dan sejumlah pembicaraan (forum) tertentu, meskipun saya mencoba untuk meminimalkannya”, ungkap Updike. Ini adalah contoh kesibukan harian yang harus dikelola dengan cermat, agar tidak menghanguskan waktu untuk menulis.

Dalam berbagai kesibukan kita, tetaplah menulis, tanpa menunggu datangnya inspirasi tertentu. “Saya tidak pernah percaya bahwa seseorang harus menunggu sampai terinspirasi’, ujarnya. Ini adalah kaidah penting, bahwa Anda tidak perlu menunggu sampai mencapai kondisi tertentu untuk menulis.

Ada orang yang duduk termenung di depan laptop, tidak segera menulis, karena menunggu mood. Ada orang yang duduk termenung tidak menulis apapun, karena menunggu inspirasi. Ada orang yang duduk termenung tidak menulis apapun, karena menunggu ide. Tetaplah menulis, karena segala sesuatu bisa ditulis.

“Menurut saya, kesenangan dari tidak menulis begitu besar”, sambungnya, “sehingga jika Anda mulai memanjakan mereka, Anda tidak akan pernah menulis lagi”. Ada godaan kesenangan dari “tidak menulis” –dan godaan ini begitu besar. Sekali Anda memanjakan godaan itu, ia akan semakin sering datang dan semakin banyak menggoda. Jangan penuhi keinginan untuk “tidak menulis”.

Updike juga memerlukan istirahat atau libur. “Saya mencoba menjadi orang biasa –seperti seorang dokter gigi yang mengebor gigi setiap pagi”, ungkap Updike. “Kecuali hari Minggu, saya tidak bekerja pada hari Minggu, dan tentu saja beberapa hari libur saya ambil”, sambungnya. Pada hari Minggu dan hari libur, ia tidak menulis. Ia gunakan untuk melakukan kegiatan lainnya –seperti orang-orang pada umumnya.

“Rutinitas yang padat menyelamatkan Anda dari menyerah”, ujarnya. Orang sibuk akan semakin pandai mengatur waktu dan berbagai agenda pentingnya.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

A Writers Den, John Updike, https://awritersden.wordpress.com, 20 Desember 2017

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

Sam Tanenhaus, John Updike’s Archive: A Great Writer at Work, https://www.nytimes.com, 20 Juni 2010

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.