Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 60

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“My only duty was to describe reality as it had come to me — to give the mundane its beautiful due” –John Updike.

.

John Hoyer Updike adalah seorang novelis, penulis puisi, penulis cerita pendek, serta kontributor The New Yorker. Dua karyanya mendapatkan penghargaan bergengsi Pulitzer untuk kategori fiksi. Di sepanjang hidupnya, Updike telah menerbitkan lebih dari 20 novel, belasan kumpulan cerita pendek, delapan volume buku kumpulan puisi, dan beberapa buku nonfiksi. 

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif menulis dari John Updike. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Updike. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Kemampuan Menggambarkan Realitas

“He turned a sentence better than anyone else” –Ian McEwan.

Salah satu dialektika yang sering mengemuka dalam penulisan fiksi adalah tentang penggambaran realitas. Sebab ada realitas yang patut digambarkan –secara norma, namun ada pula realitas yang secara norma dianggap tak patut untuk dinyatakan apa adanya. Realitas jenis kedua ini, diperlukan kemampuan menggambarkan tidak secara vulgar.

Untuk model novel realitas, yang berpijak pada kehidupan keseharian –seperti dalam film pendek berbahasa Jawa berjudul “Tilik”, kemampuan menggambarkan realitas menjadi sentuhan yang sangat menarik. Film yang disutradarai oleh Wahyu Agung Prasetyo dari skenario karya Bagus Sumartono tersebut berkisah tentang serombongan ibu-ibu yang pergi menggunakan truk untuk menjenguk Bu Lurah yang sedang dirawat di rumah sakit.

Kekuatan film Tilik, salah satunya terletak pada kejelian menggambarkan realitas. Sangat banyak masyarakat yang menyatakan, beberapa karakter yang dibangun dalam film itu benar-benar hidup dan ada dalam kehidupan nyata. Para penonton serasa diajak mentertawakan diri sendiri.

Saya kira, inilah yang dimaksud oleh Updike, ketika ia menyatakan, “Satu-satunya tugas saya adalah menggambarkan kenyataan seperti yang telah datang kepada saya –untuk memberikan kepada dunia haknya yang indah”.  

Mike Springer (2013) memuji kejelian Updike dalam menggambarkan realitas. “Dengan mata yang tajam disertai kecerdasan, Updike menyusun kembali detail kehidupan sehari-hari menjadi prosa liris yang mengalir”, ungkap Springer. Tak berlebihan jika Ian McEwan menyatakan, “Updike menggubah kalimat lebih baik daripada orang lain.”

Hal senada disampaikan oleh Philip Roth, “John Updike adalah sastrawan terhebat di zaman kita, sebagai kritikus sastra dan penulis esai yang brilian, ia juga novelis dan penulis cerita pendek. Dia menjadi hasanah kekayaan nasional, dibandingkan pendahulunya di abad ke-19, Nathaniel Hawthorne. Kematiannya merupakan kerugian bagi literatur kita yang tak terukur.”

Semangat Berkontribusi

“Other than that, don’t try to get rich on the other hand. If you want to get rich, you should go into investment banking or being a certain kind of a lawyer” –John Updike.

John Updike menyampaikan pesan yang juga telah sering disampaikan oleh banyak penuilis, “Baca apa yang membuat Anda bersemangat.” Menurut Updike, nasihat ini akan membero manfaat. Meskipun Anda tidak meniru bacaan tersebut, namun Anda akan banyak belajar darinya.

“Semua novel misteri yang saya baca, saya pikir memberi saya beberapa pelajaran tentang menjaga plot tetap kencang, mencoba untuk bergerak maju atau membuat pembaca merasa bahwa ketegangan sedang dicapai, seutas tali ditarik kencang”, ungkap Updike.

Bacaan yang bagus bagi para penulis –terutama penulis pemula, adalah bacaan yang memberikan semangat untuk berkontribusi. Semangat untuk berbagi, semangat untuk sharing, semangat untuk menginspirasi dan memotivasi. Bacalah buku yang membuat Anda bersemangat untuk menulis, dan berkontribusi melalui tulisan.

Menulis adalah memberikan kontribusi untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Ini misi yang sangat besar. Saya kita saran Updike ini menjadi relevan, “Jangan mencoba menjadi kaya di sisi lain. Jika Anda ingin menjadi kaya, Anda harus masuk ke perbankan investasi atau menjadi pengacara”.

Menulis mungkin tidak memberikan kekayaan harta secara instan, namun akan memberikan sangat banyak kekayaan dalam berbagi bentuk yang lain. Saya sangat berbahagia menjadi penulis, karena mendapatkan aneka jenis “kekayaan” –seperti banyaknya teman, sahabat, kenalan, link, yang bisa saling berbagi. Saya memiliki sahabat literasi di semua provinsi, ini dibangun dengan menulis. Bukankah ini merupakan kekayaan yang tak ternilai harganya?

Yang lebih jelas lagi adalah kekayaan intelektual. Semakin banyak menulis, dituntut untuk banyak membaca. Semakin banyak membaca dan menulis, semakin berkembang intelektualitas kita. Ini tentu menjadi kekayaan yang tak bisa dinilai dengan harta, karena akan terus menerus tumbuh dan berkembang setiap saat seiring banyaknya karya.

Maka optimalkan upaya menciptakan karya tulis, untuk jalan kontribusi bagi perbaikan diri, keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Apapun tulisan Anda –fiksi maupun nonfiksi, adalah jalan kontribusi.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

A Writers Den, John Updike, https://awritersden.wordpress.com, 20 Desember 2017

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

Mike Springer, John Updike’s Advice to Young Writers : Reserve an Hour a Day, https://www.openculture.com, 20 Juli 2013

Sam Tanenhaus, John Updike’s Archive: A Great Writer at Work, https://www.nytimes.com, 20 Juni 2010

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.