Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 69

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Trollope does also state that in the first ten years of his writing career he didn’t earn enough to buy the pens, inks and paper that he was using. Given that he ended up a multi-millionaire that is quite encouraging, isn’t it?” –Victoria Blake, 2014

.

Anthony Trollope adalah seorang novelis produktif. Ia dikenal memiliki kemampuan menulis dengan kecepatan yang luar biasa. Novel pertamanya terbit pada tahun 1847. Pada kurun masa 38 tahun berikutnya, ia menerbitkan 47 novel, 18 karya nonfiksi, 12 cerita pendek, 2 drama, dan berbagai artikel.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Anthony Trollope. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Trollope. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Siap Menghadapi Kepahitan

“The career (of a novelist) when success has been achieved, is certainly very pleasant; but the agonies which are endured in the search for success are often terrible” –Anthony Trollope. 

Langkah penulis menuju kesuksesan tentu sangat banyak dinamika. Terkadang harus mengalami kegagalan yang pahit. Misalnya naskah ditolak oleh koran dan majalah, naskah buku ditolak oleh penerbit mayor, dengan bertubi-tubi penolakan. Berpuluh tulisan dikirim, tak satupun dimuat koran dan majalah.

Kepahitan semacam itu adalah tempaan untuk membuat langkah perbaikan. Bukan untuk menimbulkan keputusasaan. Trollope menyatakan, “Karir (seorang novelis) ketika sukses telah diraih, tentu sangat menyenangkan; tetapi penderitaan yang dialami dalam pencarian kesuksesan seringkali mengerikan”.

Trollope juga menyatakan bahwa dalam sepuluh tahun pertama karir menulisnya, ia tidak memiliki cukup uang untuk membeli pena, tinta, dan kertas. Sungguh menjadi masa-masa yang sulit. Trollope berjuang, dan akhirnya menikmati hasilnya. Ia menjadi kaya dari keraya tulisnya.

Kita juga bisa belajar dari Damhuri Muhammad. Kegigihannya dalam menulis memberi sangat banyak pelajaran kepada kita, bahwa menulis itu tidak boleh menyerah. Saat ini tulisan Damhuri sering muncul di Kompas, baik berupa cerpen maupun opini. Namun ia harus rela berjuang 11 tahun sampai tulisannya lolos di Kompas.

“Saya mengirim cerpen sejak tahun 1994 dan baru tembus tahun 2005. Membuat cerpen itu harus terluka dulu,” ujar Damhuri.

Mari kita garis bawahi kalimat Damhuri, “Membuat cerpen itu harus terluka dulu”. Tentu saja, ini bukan hanya menulis cerpen, namun berlaku untuk semua jenis tulisan yang ingin dipublikasikan luas. Jika dibuat pernyataan yang lebih umum, “Membuat karya tulis itu harus terluka dulu”.

Maka wajar, jika membuat karya tulis yang berkualitas “harus terluka dulu”. Sayang sekali jika Anda belum terluka, namun sudah menyerah. Itulah yang dicontohkan oleh seorang Trollope. Ia benar-benar sosok pejuang dan pekerja keras, untuk melahirkan karya berkualitas.

Menulis Setiap Hari

Salah satu pelajaran penting yang bisa kita ambil dari Trollope adalah, ia rutin menulis setiap hari. Ya, setiap hari kerja, ia menulis. Sebelum berangkat kerja ke kantornya, ia telah membuat banyak tulisan.

Rutin menulis membuat Trollope mampu melakukan evaluasi atas perkembangan dirinya. Ia akan bisa mengetahui, apakah ada perkembangan kualitas tulisan yang dihasilkan dari hari ke hari. Rutin menulis membuatnya bertambah lancar, dari hari ke hari menulis serasa semakin mudah. Mengalir bagai air, tanpa ada bendungan yang menghalangi alirannya.

Rupanya ungkapan Latin “Nulla dies sine linea” sangat menginspirasi Trollope. “Jangan biarkan hari berlalu tanpa ada baris yang ditulis”, itu semangat yang dimiliki Trollope. Maka ia tunjukkan kedisiplinan, bahwa menulis telah menjadi bagian utuh dari perjalanan kehidupannya.

Setiap pagi ia bangun awal untuk menulis. Secangkir kopi disiapkan pelayan yang dibayar khusus untuk membangunkannya setiap jam lima pagi. Setelah menikmati kopi, pukul 05.30 Trollope sudah asyik menulis, selama tiga jam. Hingga tiba saatnya ia berangkat bekerja.

Ungkapan Latin ini juga begitu menginspirasi Trollope. “Gutta cavat lapidem non vi, sed saepe cadendo”. Setetes air melubangi batu bukan dengan paksa tetapi dengan sering jatuh. Maka menulislah setiap hari, habit akan terbangun dengan baik. Anda akan merasakan kenyamanan dan kelegaan menulis dengan rutinitas harian.

Meski hanya sedikit kata namun rutin menulis setiap hari, lebih bermakna dibandingkan menulis banyak kata namun hanya kadang kala. Menurut saya, inilah cara paling utama untuk menjadi penulis produktif. Yaitu dengan menulis rutin setiap hari. Bukan menulis tiap bulan apalagi tiap tahun.

Bahan Bacaan

Abul Muamar, Benarkah Menulis Itu Bakat? www.geotimes.co.id, 7 April 2018

James Clear, The 15-Minute Routine Anthony Trollope Used to Write 40+ Books, https://jamesclear.com

Maria Popova, Anthony Trollope’s Witty and Wise Advice on How to Be a Successful Writer, https://www.themarginalian.org, 24 April 2014

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Nicole Bianchi, How to Supercharge Your Writing Productivity: Anthony Trollope’s Strategy for Writing 45+ Books, https://nicolebianchi.com, 26 Februari 2016

Victoria Blake, Writing Tips form a Trollope! https://victoriablakewriter.wordpress.com, 3 November 2014

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.