Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 70

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“I am not sure that the construction of a perfected plot has been at any period within my power” –Anthony Trollope.

.

Anthony Trollope adalah seorang novelis produktif. Ia dikenal memiliki kemampuan menulis dengan kecepatan yang luar biasa. Novel pertamanya terbit pada tahun 1847. Pada kurun masa 38 tahun berikutnya, ia menerbitkan 47 novel, 18 karya nonfiksi, 12 cerita pendek, 2 drama, dan berbagai artikel.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Anthony Trollope. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Trollope. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Kekuatan Imajinasi, Bukan Plot

“Now I stretch out my hand, and from the further shore I bid adieu to all who have cared to read any among the many words I have written” –Anthony Trollope.

Salah satu perbedaan karya fiksi dan nonfiksi ada pada proses penulisannya. Pada karya fiksi, penulis lebih banyak menggunakan kekuatan imajinasi untuk mengembangkan cerita. Semakin kuat daya imajinasi seseorang, akan semakin mampu mengambangkan cerita yang menarik bagi pembaca. Maka dalam dunia fiksi, plot atau alur atau kerangka tulisan bukanlah hal yang penting.

Berbeda dengan tulisan nonfiksi, yang lebih mengedepankan sistematika dan pembahasan logis. Tanpa outline, bisa jadi tulisan nonfiksi akan berantakan dan tidak sistematis. Maka dalam penulisan nonfiksi, kerangka tulisan atau outline adalah sebuah keharusan. Terutama untuk jenis tulisan nonfiksi yang panjang –seperti untuk membuat buku.

Ketika menulis novel, Trollope cenderung menggunakan kekuatan imajinasi, bukan kekuatan plot. “Saya tidak yakin bahwa penulisan plot yang sempurna ada pada periode mana pun dalam tulisan saya”, ujar Trollope. Menyusun plot yang kaku, kadang menjadi belenggu dalam pembangunan sebuah cerita fiksi. Maka ia biarkan imajinasi menuntunnya menciptakan karya.

Kerja Keras Adalah Kunci

“This isn’t a man to wait for the muse to descend or to offer much sympathy to a stuck writer. His response would probably be to thrust a pen and ink bottle into your hand, place some paper in front of you and lock you in a room” –Victoria Blake, 2014

Menurut Victoria Blake (2014), Trollope memiliki masa kecil yang kelam. Ia sering mendapat bullying di sekolah. Bahkan ayahnya nyaris berputus asa untuk menolongnya. “Sentuhan tangannya menciptakan kegagalan”, ujar sang ayah. Masa kecil yang keras, mungkin itu pengalaman hidup yang berkesan bagi Trollope.

Maka ia cenderung menjadi pekerja keras, termasuk dalam menulis. Ia tidak menciptakan ribuan trik dan tips menulis, saat banyak orang bertanya kepada dirinya tentang bagaimana menulis yang baik. Ia tidak menyimpan rahasia terkait teknik jitu yang bisa dipakai semua penulis untuk menciptakan karya bermutu.

Jika Anda bertanya tentang tips menulis, “Sepertinya, Trollope akan menyodorkan pena dan botol tinta ke tangan Anda, meletakkan beberapa kertas di depan Anda dan mengunci Anda di sebuah ruangan”, ungkap Blake.

Kegigihan Trollope dalam menciptakan karya adalah kunci sukses. Tanpa ribuan trik atau tips menulis, ia terus menerus bekerja keras. Disiplin sangat tinggi untuk bangun setiap jam lima pagi, saat seorang pelayan membangunkannya dengan secangkir kopi. Selanjutnya ia akan mulai mengetik karya pada pukul 05.30 selama tiga jam, sebelum akhirnya ia berangkat ke kantor tempatnya bekerja.

Belajar menulis dari Trollope, bukan tentang teknik-teknik tertentu. Kita tengah belajar dari Trollope tentang:

  • Kedisiplinan

Benar-benar ia disiplin untuk bangun pagi. Ia disiplin untuk mulai menulis pada waktu yang telah ditentukan sendiri.

  • Konsistensi

Ia konsisten memastikan jumlah kata yang berhasil disusun, tiap 15 menit. Ia konsisten  untuk menulis tiga jam setiap pagi.

  • Komitmen

Ia berkomitmen tinggi terhadap penciptaan karya. Tidak semata-mata sibuk menulis, namun ia berkomitmen menciptakan karya yang bisa dinikmati pembaca.

  • Rutinitas

Membangun habit rutin menulis setiap hari, membuatnya lebih mudah mengontrol kuantitas dan kualitas karya tulis.

  • Kesungguhan

Ia memiliki manajemen kontrol, dengan menuliskan progres menulis harian atau pekanan pada sebuah buku catatan. Inilah kesungguhan yang ditunjukkan, dalam menyelesaikan sebuah karya.

  • Menikmati proses

Ia tidak saja bicara tentang hasil. Ia sangat menghargai proses. Maka ia rela membayar pelayan yang bertugas membangunkannya setiap pagi dengan secangkir kopi.

  • Manajemen waktu

Di tengah kesibukannya sebagai pegawai kantor pos, ia selalu menulis tiga jam sebelum berangkat bekerja. Ia juga memiliki waktu libur dan menikmati liburan sebagaimana pegawai dan pekerja lainnya.

Tentu saja, semua itu memerlukan kerja keras. Masa kecil yang berat, membuatnya menjadi pekerja keras dalam kehidupan. Sungguh sebuah pelajaran yang penting, bahwa tanpa harus berpikir tentang tips atau trik, tanpa harus menguasai ribuan teknik atau cara jitu –rupanya kerja keras akan memberikan hasil yang pantas.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

James Clear, The 15-Minute Routine Anthony Trollope Used to Write 40+ Books, https://jamesclear.com

Maria Popova, Anthony Trollope’s Witty and Wise Advice on How to Be a Successful Writer, https://www.themarginalian.org, 24 April 2014

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), 15 Agustus 2017, https://medium.com/

Nicole Bianchi, How to Supercharge Your Writing Productivity: Anthony Trollope’s Strategy for Writing 45+ Books, https://nicolebianchi.com, 26 Februari 2016

Victoria Blake, Writing Tips form a Trollope! https://victoriablakewriter.wordpress.com, 3 November 2014

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.