Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 75

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Consider nothing impossible, then treat possibilities as probabilities” –Charles Dickens.

.

Charles Dickens adalah seorang novelis produktif asal Inggris. Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin dan marginal. Ia mengangkat realitas ketimpangan masyarakat dalam novel, untuk menjadi kritik konstruktif bagi pemerintah Inggris.

Novel Oliver Twist , David Copperfield, dan A Christmas Carol adalah karya monumental Dickens yang disukai banyak masyarakat dunia, dan mengangkat namanya. Menulis novel bagi Dickens, adalah proses menyuarakan realitas kehidupan. Maka ia memilih gaya penulisan yang ia sebut sebagai ‘natural’.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Charles Dickens. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Dickens. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Dickens: Nothing Is Impossible

“One needs a certain level of daily ambition to be a successful writer. When writing a pitch  (or submitting a story), the writer has to have some faith that their idea will reach the right place” –Alex J. Coyne, 2021.

Spirit Dickens adalah “tidak ada yang tidak mungkin” –bila Anda adalah seorang penulis. Inilah kutipan quotes yang diambil Coyne (2021) dari novel Dickens yang berjudul ‘David Copperfield’ : Anggap tidak ada yang mustahil, lalu perlakukan kemungkinan sebagai peluang.

Salah satu penyakit yang banyak menghinggapi penulis pemula adalah rasa tidak percaya diri. Saat menulis, mereka sudah pesimis “apakah tulisan ini nanti ada yang membaca?”. Saat memosting tulisan di media sosial, mereka sudah ragu, “Apakah tulisan ini layak diposting?” Saat mengirim tulisan ke media massa, mereka sudah bimbang, “Apakah mungkin diterima redaksi?”

Demikian pula saat memulai menulis buku, baru mendapat kalimat pertama sudah diserang kekhawatiran, “Apakah ideku ini layak dibukukan? Apakah aku pantas menjadi penulis buku?” Rasa tidak percaya diri sering kali menjadi penghambat berkarya, dan akhirnya menghambat produktivitas.

Untuk bisa produktif menulis, menurut Coyne, “seseorang membutuhkan tingkat ambisi harian tertentu untuk menjadi penulis yang sukses”. Inilah yang dicontohkan oleh Charles Dickens. Tampak ketekunan dan kesungguhan Dickens dalam menyusun agenda harian, sehingga bisa produktif menulis.

Saat menulis atau mengirimkan cerita, penulis harus memiliki keyakinan bahwa ide mereka akan mencapai tempat yang tepat. Jika Anda yakin tidak mungkin atau mustahil bahwa penawaran dan cerita Anda akan berhasil, maka Anda telah menyiapkan diri untuk gagal (Alex J. Coyne, 2021).

Dickens menganggap tidak ada hal yang mustahil. Itu sebabnya ia bangun setiap hari dengan keyakinan bahwa sesuatu yang baik akan terjadi. Ia terus menulis dengan jam yang tetap setiap harinya.

Dickens : Selalu Ingin Tahu

“Writers draw on their experiences and research to be good writers who portray these experiences well to readers” –Alex J. Coyne, 2021.

Salah satu kunci produktivitas menulis adalah mengembangkan rasa ingin tahu. Salah satu kutipan yang diambil Coyne dari novel Dickens berjudul Little Dorrit adalah, ‘We lawyers are always curious, always inquisitive, always picking up odds and ends for our patchwork minds, since there is no knowing when and where they may fit into some corner.’ 

Dickens menuliskan, ‘Kami pengacara selalu ingin tahu, selalu ingin mengerti, selalu mengambil peluang dan tujuan untuk pikiran tambal sulam kami, karena tidak ada yang tahu kapan dan di mana mereka bisa masuk ke sudut tertentu.’ Tampak semangat untuk selalu ingin tahu banyak hal.

Dickens memang tertarik pada tema hukum. Pengacara adalah sosok yang selalu ingin tahu. Namun gambaran ini berlaku pula untuk para penulis. Para penulis harus memanfaatkan pengetahuan, pengalaman dan penelitian mereka untuk menghasilkan karya tulis berkualitas.

Kebiasaan Dickens untuk berjalan-jalan tiga jam setiap siang di kota London, atau masuk ke gang-gang di pedesaan, adalah manifestasi dari rasa ingin tahu tersebut. Dengan cara seperti itu, Dickens memiliki banyak pengetahuan dan pengalaman. Bahkan dari hal-hal sepele dan penemuan tentang topik-topik unik. Hal ini mampu membuat tulisannya kaya akan nuansa aktual, lebih menarik, dan lebih akurat dalam detail penggambarannya.

“Do you have enough bits and pieces of life experiences, trivia, and research about odd topics to make sure your writing is rich, interesting, and accurate in its details? Collect facts, experiences, and words like a sponge when you’re a writer. That’s if you want to be any good at it” –Alex J. Coyne, 2021.

Coyne menyarankan, “Kumpulkan fakta, pengalaman, dan kata-kata seperti spons saat Anda menjadi penulis”. Mengembangkan rasa ingin tahu membuat seorang penulis banyak membaca, mengamati, berdiskusi, dan bertanya. Mereka akan menemukan fakta, data, pengetahuan dan pengalaman untuk memperkaya bahan tulisan.

Bagaimana dengan Anda?

Bahan Bacaan

Alex J. Coyne, 7 Bits Of Writing Advice From The Works Of Charles Dickens, https://www.writerswrite.co.za, 7 Februari 2021

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.