Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 77

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When readers encounter a character in your story, they should always feel something. Love, hate, disgust, curiosity, interest, wonder, lust, something. Otherwise, you are just not doing your job as a writer” –Alex J. Coyne, 2021.

.

Charles Dickens adalah seorang novelis produktif asal Inggris. Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin dan marginal. Ia mengangkat realitas ketimpangan masyarakat dalam novel, untuk menjadi kritik konstruktif bagi pemerintah Inggris.

Novel Oliver Twist , David Copperfield, dan A Christmas Carol adalah karya monumental Dickens yang disukai banyak masyarakat dunia, dan mengangkat namanya. Menulis novel bagi Dickens, adalah proses menyuarakan realitas kehidupan. Maka ia memilih gaya penulisan yang ia sebut sebagai ‘natural’.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Charles Dickens. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Dickens. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Hadirkan “Hype” untuk Menarik Pembaca

“It is a hopeless endeavour to attract people to a theatre unless they can be first brought to believe that they will never get in” –Charles Dickens

Ketika kita melihat sangat banyak buku di rak, hal apakah yang membuat kita mengambil salah satu dan membacanya? Ketika kita menemukan sangat banyak tulisan di blog, web ataupun situs online, hal apakah yang membuat kita memilih salah satu dan membaca tulisan itu?

Daya tarik, inilah yang disebut oleh Alex J. Coyne (2021) sebagai “hype”. Menurut Coyne, novelis Charles Dickens pandai menghadirkan hype dalam setiap tulisannya. Pembaca seperti tersihir untuk melahap karya Dickens, dari satu paragraf ke paragraf berikutnya, dari satu chapter ke chapter berikutnya, hingga habis semua dibaca.

Dalam novel Nicholas Nickleby, Dickens menuliskan, “Adalah upaya sia-sia untuk menarik orang ke teater, kecuali mereka dapat terlebih dahulu diyakinkan bahwa mereka tidak akan pernah masuk”. Mungkin cukup sulit untuk mengajak orang memasuki arena teater yang Anda ciptakan. Namun ketika Anda menyatakan bahwa orang-orang itu tidak mungkin memasukinya, justru membuat mereka tertantang untuk masuk.

“Hype is what gets people to click, read, and share – and in writing terms, ‘hype’ can be your hook or your first paragraph or your first page” –Alex J. Coyne, 2021.

Saya kira, buku “Bukan untuk Dibaca” karya mbak Deassy M. Destiani adalah contoh keberadaan hype itu. Saat buku itu menyatakan bahwa dirinya bukan untuk dibaca, membuat orang semakin penasaran untuk membaca. Sangat berbeda dengan apabila buku itu diberi judul kalimat perintah “Bacalah Buku Ini”.

Menurut Coyne, “Jika Anda mempromosikan diri sebagai penulis, atau mempromosikan karya tulis, hype adalah salah satu kata kunci penting”. Lebih lanjut Coyne menjelaskan, “Hype adalah apa yang membuat orang mengklik, membaca, dan berbagi. Secara teknis, hype dapat berupa pengait, paragraf pertama atau halaman pertama buku Anda”.

Maka sangat penting membuat paragraf pertama yang ‘nendang’, atau halaman pertama dari buku yang memiliki daya tarik tinggi. Inilah yang membuat pembaca peduli. Dalam bahasa Dickens, hal ini yang mampu “membawa kerumunan untuk masuk ke arena teater”.

Karya tulis yang memiliki hype di dalamnya, akan mampu mendatangkan kerumunan. Para pembaca tersentak, atau tergelitik, atau tertarik untuk meneruskan membaca bagian-bagian selanjutnya, setelah menemukan hype ini. Ketika tidak menemukan hype, orang bisa memutuskan untuk berhenti membaca.

Ciptakan Kedalaman Karakter

“Little Red Riding Hood was my first love. I felt that if I could have married Little Red Riding Hood, I should have known perfect bliss” –Charles Dickens.

Di dunia Barat, berkembang dongeng Little Red Riding Hood (Gadis Kecil Bertudung Merah) karya legendaris Brothers Grimm. Dalam cerita ini, Brothers Grimm mengajak pembaca berimajinasi tentang seorang anak kecil yang ingin mengunjungi rumah neneknya di tengah hutan dan harus bertemu dengan seekor serigala yang menyamar.

Karena sangat ingin menyantap gadis kecil itu, segala tipu muslihat dilakukan sang serigala. Namun di akhir cerita, gadis kecil bertudung merah berhasil selamat. Ternyata Charles Dicken sangat terinspirasi oleh dongeng ini.

“Little Red Riding Hood adalah cinta pertamaku. Aku merasa bahwa jika aku bisa menikah dengan Little Red Riding Hood, aku akan mendapatkan kebahagiaan yang sempurna”, ujar Dickens dalam novel The Old Curiosity Shop.

Dickens tampak begitu menghayati karakter si “little red riding hood”, sampai berimajinasi untuk menikahinya. Padahal itu hanya kisah fiksi, hanya dongeng, yang tidak benar-benar ada dalam kehidupan nyata. Gadis kecil bertudung merah hanyalah tokoh fiktif, namun seakan demikian hidup.

Demikianlah tulisan kita. Pembaca akan memiliki ‘engagement’ yang kuat dengan karya kita jika kita mampu memberikan karakter yang kuat dan hidup. Terlebih dalam tulisan fiksi, tokoh yang dihadirkan harus memiliki kedalaman, karakter kuat, yang membuat disukai (protagonis) ataupun dibenci (antagonis) oleh pembaca.

“Ketika pembaca menemukan karakter yang kuat dalam cerita Anda, mereka akan selalu merasakan sesuatu. Cinta, benci, jijik, penasaran, minat, heran, nafsu, sesuatu. Jika tidak, Anda tidak melakukan pekerjaan sebagai penulis”, ujar Coyne.

Bagaimana dengan karya Anda? Selamat berkarya, selamat berimajinasi, selamat berkontribusi untuk dunia.

Bahan Bacaan

Alex J. Coyne, 7 Bits Of Writing Advice From The Works Of Charles Dickens, https://www.writerswrite.co.za, 7 Februari 2021

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.