Kembali
Positive Writing

Agar Selalu Produktif Menulis – 79

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Trollope does also state that in the first ten years of his writing career he didn’t earn enough to buy the pens, inks and paper that he was using. Given that he ended up a multi-millionaire that is quite encouraging, isn’t it?” –Victoria Blake, 2014

.

Charles Dickens adalah seorang novelis produktif asal Inggris. Ia dikenal memiliki kepedulian terhadap masyarakat miskin dan marginal. Ia mengangkat realitas ketimpangan masyarakat dalam novel, untuk menjadi kritik konstruktif bagi pemerintah Inggris.

Novel Oliver Twist , David Copperfield, dan A Christmas Carol adalah karya monumental Dickens yang disukai banyak masyarakat dunia, dan mengangkat namanya. Menulis novel bagi Dickens, adalah proses menyuarakan realitas kehidupan. Maka ia memilih gaya penulisan yang ia sebut sebagai ‘natural’.

Pada beberapa postingan sebelumnya, sudah kita bahas tips produktif dari Charles Dickens. Kali ini saya tambahkan lagi tips produktif menulis dan Dickens. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru. Pilih yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa kita lakukan.

Dickens : Lebih Mudah Membuat Tulisan Baru Daripada Memoles Tulisan Lama

“It’s easier to write a new, better book than successfully squeeze new life from older books that never took off” –Derek Murphy, 2021.

Derek Murphy (2021) menceritakan tentang kehidupan Dickens yang sempat terpuruk setelah mencapai puncak popularitas. Dickens hampir sampai pada titik keputusasaan, bertanya apakah masih bisa bangkit menjadi penulis populer? Sementara banyak tagihan yang harus ia bayarkan kepada pihak penerbit.

Dickens sempat berpikir untuk merombak dan memoles tulisan lama agar kembali muncul dan cemerlang. Namun ide itu ia tinggalkan. Hingga akhirnya ia menemukan bahwa “lebih mudah untuk menulis buku baru yang hebat, daripada memeras tenaga untuk memoles buku-buku lama yang kandas”.

Pada kenyataannya, mengedit tulisan-tulisan lama, bisa jadi memerlukan waktu lebih panjang dibandingkan dengan menciptakan karya tulis baru. Saya sering mengalami peristiwa seperti ini. Saat saya mencoba memoles naskah-naskah lama yang sudah saya terbitkan pada masa terdahulu, rasanya memerlukan energi dan waktu yang jauh lebih besar dibandingkan menulis buku baru.

Saya memilih untuk menulis buku baru, dan membiarkan saja buku-buku lama terkubur oleh zamannya. Setiap zaman, harus ada buku yang berbeda. Maka bagi saya lebih mudah membuat buku baru, dibandingkan harus mengolah ulang atau memoles buku-buku lama.

Dickens : Saat Menulis, Abaikan Hal Lain

“The easiest way to write more books is to do less of other things. If you want to write, you need to be selfish with your time and spend it wisely” –Derek Murphy, 2021.

Ketika Anda dalam projek penulisan buku, ataupun projek penulisan apapun yang ada tenggat waktunya, miliki zona waktu menulis (ZWM). Ini adalah zona waktu eksklusif bagi Anda untuk menulis. Optimalkan benar-benar hanya untuk menulis.

Misalnya, Anda menetapkan target 30 hari untuk menyelesaikan satu buku, maka Anda harus memecahnya menjadi pekerjaan dan target harian. Dalam sehari, Anda harus menyelesaikan berapa ribu kata atau berapa ribu karakter. Maka Anda tetapkan ZWM yang paling mungkin bagi Anda.

Saat Anda tengah berada dalam zona waktu tersebut, jangan ada hal lain yang mengganggu Anda. Telepon, chating, media sosial, ajakan kuliner, dan lain sebagainya –harus dihindarkan.

Belajar dari Dickens, Murphy menyatakan, “Cara termudah untuk menulis lebih banyak buku adalah dengan melakukan lebih sedikit hal lain”. Jika Anda tergoda untuk melakukan hal-hal lain di saat memasuki zona menulis, pasti akan menimbulkan gangguan pada produktivitas Anda.

“Jika tengah menulis, Anda harus egois dengan waktu Anda dan menghabiskannya dengan bijak. Investasikan waktu untuk membangun pola hidup yang Anda inginkan”, lanjut Murphy.

“Dickens is not ready to hear this advice however, and he says ‘how can I say no if I can be useful, if I can lighten the burden of another?” –Derek Murphy, 2021.

Saat Dickens mendapatkan nasihat ini, awalnya ia merasa keberatan. “Bagaimana saya bisa mengatakan tidak, jika saya bisa berguna, jika saya bisa meringankan beban orang lain?” ujar Dickens. Namun ketika dihadapkan pada tenggat waktu, ia tidak memiliki pilihan.

Maka ia memilih untuk berkonsentrasi penuh untuk menyelesaikan karya, di masa keterpurukannya. Terbukti ia mampu menghasilkan karya bermutu, selain –tentu saja, menyelesaikan semua tanggungan hutangnya kepada penerbit.

Dickens : Memotivasi dengan Tenggat Waktu

“Nothing motivates like a hard deadline, with other people counting on you to finish, and real consequences for failure” –Derek Murphy, 2021.

Sebagian orang merasa stres saat dihadapkan pada deadline menulis. Bagi Dickens, tenggat waktu harus dimanfaatkan untuk memotivasi diri menyelesaikan karya tulis. Editor dan penerbit telah menunggu karyanya, maka ia harus disiplin terhadap tenggat waktu yang telah ditetapkan.

“Tidak ada yang lebih memotivasi seperti tenggat waktu yang sulit, di mana orang lain mengandalkan Anda untuk menyelesaikannya, dan harus berhadapan dengan konsekuensi kegagalan” ujar Murphy.

Dickens bertanya, “Apakah Anda keberatan memberi tahu saya sesuatu?” Ia sharingkan ide dan imajinasinya dengan orang lain. Dickens harus menepati deadline, sementara ia belum memiliki cukup kaya ide untuk dikembangkan. Maka ia sempatkan berdiskusi agar bisa mendapatkan kekayaan imajinasi.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Alex J. Coyne, 7 Bits Of Writing Advice From The Works Of Charles Dickens, https://www.writerswrite.co.za, 7 Februari 2021

Derek Murphy, 30 Writing Tips from Charles Dickens That Will Help You Have a Merry Christmas, https://www.creativindie.com

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.