.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Once you’ve finished your writing, you can easily go over the article again to edit it to have a better taste” –Bamidele, 2021.
.
Bamidele (2021) seorang penulis dan bloger menyatakan, jika Anda dapat menyelesaikan pekerjaan yang sama dalam waktu kurang dari setengah waktu yang biasanya diperlukan, Anda akan dapat melakukan hal-hal lain yang lebih produktif pada setengah waktu yang tersisa.
Bamidele mengaku menulis rata-rata 4 hingga 5 postingan setiap hari. Bahkan pada hari-hari terbaik, ia mampu menulis total 7 artikel. “Saya dapat meningkatkan jumlah artikel yang saya tulis rata-rata setiap hari menjadi sekitar 10, dan saya menulis lebih banyak lagi pada hari-hari terbaik saya tanpa penurunan dari segi kualitas”, ungkap Bamidele.
Bamidele berbagi tips untuk meningkatkan produktivitas menulis. Tentu saja tidak semua tips akan tepat bagi kita. Namun penting bagi kita untuk belajar dari orang yang telah berhasil membuktikan dirinya mampu meningkatkan produktivitas menulis.
Mari kita simak beberapa tips penting dari Bamidele, dari pengalaman pribadinya. Bisa kita ambil yang cocok dan relevan untuk diri kita.
Tips # 8 – Tulis Dulu, Edit Nanti
“So many writers are obsessed with their writing that they keep on proofreading every sentence and paragraph they write – and the worst thing about that is that their work still end up having errors even after that” –Bamidele, 2021.
Salah satu saran yang sudah sering kita dapatkan dari banyak penulis hebat adalah, tulis dulu sampai selesai, baru melakukan editing atau koreksi. Demikian pula, Bamidele menyarankan hal serupa agar kita bisa lebih produktif menghasilkan karya tulis.
Menurut Bamidele, banyak penulis yang terobsesi dengan kualitas tulisan mereka sehingga mereka mengoreksi setiap kata, kalimat dan paragraf yang sedang ditulis. Masalahnya adalah, selain proses menulis menjadi lama, ketika mereka selesai menulis pun, tetap akan ditemukan kesalahan yang harus dikoreksi lagi.
Artinya, cara seperti itu menimbulkan pekerjaan yang berulang-ulang. Menulis sambil mengedit, padahal setelah selesai menulis juga masih harus diedit lagi. Maka tulis dulu, edit nanti menjadi cara yang lebih efektif untuk menghasilkan karya tulis dalam waktu yang lebih efektif.
“Whenever you write, you will experience a free flow of ideas influencing your writing and making it of a high quality, during this free flow it is important not to edit any sentence you write in order to ensure the free flow continues” –Bamidele, 2021.
Ada beberapa penulis yang menyarankan untuk menulis dan mengoreksinya dengan perspektif baru keesokan hari. Berarti harus mengulang menulis, atau menulis hal sama dua kali. Cara seperti ini membuat tidak produktif. Bamidele menyatakan, menulis artikel tanpa harus mengoreksi –dengan jalan menulis ulang– membuatnya lebih produktif.
Bamidele mengingatkan, tulisan Anda tidak akan pernah sempurna, meskipun dilakukan edit dan koreksi beruang kali. Oleh karena itu, bagi Bamidele, tidak ada gunanya terobsesi dengan cara seperti itu.
Mengapa menulis dulu, edit kemudian? Sebab, menurut Bamidele, setiap kali menulis, Anda bisa mengalami proses mengalir –yang membuat tulisan Anda berkualitas. Di saat mengalami proses mengalir ini, penting untuk tidak mengedit kalimat apa pun. Biarkan terus menulis.
Setelah selesai menulis, Anda dapat memeriksa dan mengedit artikel agar memiliki cita rasa yang lebih baik. Dengan cara seperti ini, menulis akan bisa diselesaikan dalam waktu yang lebih cepat. Kualitas tulisan juga bisa lebih baik –karena mengikuti proses mengalir saat menulis.
Tak Ada Teknik Menulis yang Cocok untuk Semua Orang
“The first rule of writing advice is there is no universal writing advice” –Mark D. White, 2017.
Mark D. White, Ph.D. (2017), seorang doktor dan ketua Jurusan Filsafat di College of Staten Island (CUNY), memberikan catatan yang sangat menarik. Menurutnya, dalam konteks menulis, tidak ada satupun saran yang bisa cocok untuk semua orang. Karena setiap orang memiliki kondisi dan kebiasaan yang berbeda-beda.
Ia mendapatkan saran serupa dengan yang diungkap oleh Bamidele, agar menulis terlebih dahulu dan mengedit kemudian. Saran itu ia dapatkan dari mentor menulisnya, John Steinbeck. Sang mentor menyarankan, agar ia “menulis dengan bebas dan secepat mungkin dan menuangkan semuanya di atas kertas. Jangan pernah mengoreksi atau menulis ulang sampai semuanya selesai.”
White mengakui bahwa saran ini akan berhasil untuk banyak orang. Tapi akan selalu ada orang yang tidak bisa cocok untuk menerapkan saran tersebut. Sebab menurutnya, harus kembali kepada “aturan utama” dalam menulis, bahwa tidak ada hal yang bisa menjamin untuk produktif menulis, selain “menulislah.”
Menurut White, setiap saran, nasihat, tips, teknik menulis dari para penulis, layak diperhatikan dan dipertimbangkan. Akan tetapi tidak ada saran yang bisa cocok untuk semua orang, termasuk “tulis dulu, edit nanti.”
“Any advice is worth considering, some more than others—that’s why I read so much of it learn so much from it. But no advice works for everybody, including write first, edit later” –Mark D. White, 2017.
Menulis Sambil Mengedit?
Dalam kasus “tulis dulu, edit nanti,” White memberikan sudut pandang yang berbeda. Ia adalah contoh penulis yang selalu mengedit saat sedang menulis. Baginya, ini adalah satu-satunya cara agar bisa mendapatkan hasil yang lebih dalam menulis.
White menyatakan, “Saya memastikan setiap kalimat persis seperti yang saya inginkan; setiap paragraf terstruktur untuk menjelaskan maksud saya sebaik mungkin; dan saya memastikan paragraf mengalir dengan cara yang membuat argumen saya sejelas dan secermat mungkin”.
White menyatakan tidak bisa move on dari kata-kata yang tidak saya sukai. Ia merasa tidak bisa berjanji kepada diri sendiri untuk memperbaikinya nanti. Maka ia segera memperbaiki setiap kalimat, paragraf dan bagian, tanpa harus menunggu selesai menulis. Dengan memperbaiki hal-hal yang tidak diinginkan tersebut, ia bisa menulis bagian berikutnya dengan cara yang baik.
“I always edit while I’m writing. It’s the only way I can feel good about what I’ve done. I make sure every sentence sounds exactly as I want it to sound; I make sure every paragraph is structured in a way that makes my point as well as I can; and I make sure the paragraphs flow in a way that makes my argument as clearly and carefully as possible” –Mark D. White, 2017.
Ia mengaku, dengan caranya itu mengandung kelemahannya. Ia harus rela menulis draf pertama lebih lambat dibandingkan penulis lain seseorang yang berprinsip enulis secepat mungkin dan mengeditnya nanti. Sedangkan keuntungannya adalah, ketika ia selesai menulis, hanya diperlukan sedikit editing atau revisi sebelum siap untuk dipublikasikan.
Dalam kondisi terbaik, ia hanya memerlukan satu pembacaan akhir untuk menemukan kesalahan ketik yang jelas. Ia menemukan, setidaknya 90% dari apa yang ia tulis dalam kondisi “baik-baik saja”. Hal ini karena ia sudah melakukan editing sembari menulis.
White mendiskusikan proses menulis yang ia lakukan dengan para penulis yang lain. Umumnya mereka menilai, cara White menulis tersebut tidak memungkinkan bagi mereka untuk berpikir ke depan. Mereka lebih suka untuk menuangkan semua pemikiran melalui tulisan sampai selesai, baru membahasnya secara mendetail, menyempurnakan dan membuat tulisan menjadi lebih segar.
“I can’t move on from words I’m not happy with, promising myself to fix it later; instead, I need to get each sentence, paragraph, and section right so I can write the next one in a way that flows from it” –Mark D. White, 2017.
Menurut White ada alasan bagus untuk menulis dulu, edit nanti. Prinsip ini dapat memotivasi penulisan sejak awal, terutama jika penulis tengah menghadapi halaman atau layar kosong. Mereka menulis dari nol, dan tengah menyusun kalimat pertama. Jika sudah dibebani dengan mengedit, tentu akan lebih menyulitkan.
Namun, bagi White, memastikan bahwa kita memiliki kalimat pertama yang tepat sebelum menulis kalimat kedua, akan mampu memberikan bobot yang lebih pada pada kalimat pertama. White menyarankan, lebih baik hanya menulis beberapa kata, bahkan jika harus menghapus semuanya untuk diganti dengan kata-kata yang lebih baik.
“I will continue to read advice on how to be a better, more productive, and more satisfied writer, and I encourage you to do the same. But there’s no secret, universal trick to writing well, in terms of quality or quantity, or being successful or happy with what and how you write” –Mark D. White, 2017.
White mengajak kita untuk terus membaca nasihat dan saran tentang bagaimana menjadi penulis yang lebih baik, lebih produktif, dan lebih bahagia. Tetapi sekali lagi, tidak ada rahasia atau trik universal yang cocok untuk semua orang. Maka yang dapat kita lakukan adalah mencoba berbagai hal, mengadopsi yang cocok bagi kita, dan mengabaikan yang tidak cocok untuk kita.
Memilih Teknik yang Tepat
Saya melihat konteks yang berbeda antara Bamidele dengan Mark D. White. Bamidele adalah penulis jenis populer dan bloger, jadi ia menulis dengan sangat leluasa. Tidak terikat oleh kaidah-kaidah baku dalam dunia akademik. Sedangkan White –ia telah menulis lebih dari 60 naskah akademik—memerlukan koreksi yang mendetail.
Maka kita perlu cermat meletakkan setiap saran pada konteksnya. Sebagaimana ungkapan White, setiap penulis harus memilih saran yang paling tepat untuk dirinya. Saya termasuk penulis yang melakukan –serta mengajarkan—agar menulis dulu, edit kemudian. Karena saya penulis bergenre populer. Namun saya tidak menjadikan saran itu sebagai cara tunggal.
Saya membedakan antara menulis yang selesai dalam ‘sekali duduk’, dengan menulis jangka panjang, yang memerlukan waktu beberapa pekan hingga beberapa bulan. Contoh menulis sekali duduk adalah menulis untuk postingan di blog, sekitar 500 kata; atau menulis untuk koran dan majalah, sekitar 1.000 kata. Sedangkan contoh menulis jangka panjang adalah menulis buku atau novel. Ini bisa memerlukan berpekan-pekan waktu sampai berbulan-bulan.
Untuk menulis sekali duduk, saya menyarankan, agar menulis sampai selesai, baru mengedit. Karena tulisan hanya ringkas, sehingga mudah dilakukan. Sedangkan untuk menulis jangka panjang, bisa melakukan editing pada tiap bab atau tiap chapter. Tidak harus menunggu semua tulisan selesai baru mengedit.
Lagi-lagi, semua harus ditimbang oleh setiap penulis. Cara mana yang terbukti paling produktif menghasilkan karya tulis, itulah yang diilih. Namun, apapun pilihan cara Anda, tetaplah menulis. Tetaplah produktif. Jangan hanya berdebat atau berwacana.
Bahan Bacaan
Bamidele, 10 Productivity Tips for Writers, https://www.writersincharge.com, diakses pada 28 Agustus 2021
Mark D. White, Should You “Write First, Edit Later”? 17 September 2017, https://www.psychologytoday.com