Kembali
Motivasi Menulis

Agar Selalu Produktif Menulis – 91

.

Belajar dari Para Penulis Produktif

Oleh : Cahyadi Takariawan

“Austen spent a lot of time writing to improve her craft” –Stephanie Topacio Long (2016).

.

Jane Austen (1775-1817) adalah novelis Inggris pada era abad ke-18 sampai abad ke-19. Pada saat dia masih hidup, tidak sekali pun namanya dicantumkan pada novel yang ditulis. Semua novel hanya menyebut ditulis oleh ‘seorang wanita’.

Buku karya Austen yang melegenda antara lain novel Sense and Sensibility, Pride and Prejudice, Northanger Abbey, Love and Friendship dan The History of England. Beberapa karya Austen diangkat menjadi film layar lebar.

Rebecca Smith —salah seorang penulis keturunan Austen, mengajak kita mengambil pelajaran dari Jane Austen. Melalui buku “The Jane Austen Writers’ Club: Inspiration and Advice from the World’s Best-Loved Novelist” (2016), Smith memberi banyak pelajaran menulis yang diambil dari kebiasaan Jane Austen.

Kita belajar dari Austen, bagaimana ia produktif menulis. Tentu saja tidak semua hal bisa ditiru dan dieksekusi. Pilih saja yang cocok untuk masing-masing kita, tinggalkan yang tidak bisa atau tidak cocok untuk kita lakukan.

Banyak Membaca untuk Menulis yang Baik

“Reading was one of her big hobbies, and as Smith points out, she thought critically about what did and didn’t work for other writers” –Stephanie Topacio Long (2016).

Salah satu habit positif yang sangat mendukung untuk menjadi penulis produktif adalah dengan banyak membaca. Mas Hernowo sering mengungkapkan hubungan menulis dengan membaca –membaca membuat kita menangkap makna, menulis membuat kita mengikat makna.

Jika kita banyak membaca, maka kita banyak menangkap makna. Namun sebanyak apapun makna yang berhasil kita tangkap dari membaca, apabila tidak kita tuliskan, tak ada yang bisa terikat. Maka ikatlah makna dengan menulis. Ini menjadi hubungan timbal balik antara menulis dengan membaca.

Membaca membuat kita mudah untuk menulis, dan menulis menghajatkan untuk banyak membaca. Dengan kata lain, semakin banyak membaca, membuat kita bisa semakin produktif menulis. Sebaliknya, semakin banyak kita menulis, menimbulkan tuntutan untuk semakin banyak membaca.

Ada dua konteks ‘membaca’ yang sama-sama penting bagi penulis, yang ingin semakin produktif dan semakin profesional. Pertama adalah membaca buku atau rujukan. Kedua adalah membaca realitas. Ini yang sering disebut sebagai teks dan konteks.

“Jane Austen menghabiskan banyak waktu menulis untuk meningkatkan keahliannya. Namun bukan hanya itu saja yang ia lakukan”, ungkap Stephanie Topacio Long (2016). Ternyata, yang banyak dilakukan Austen adalah membaca. Menurut Stephanie, “Membaca adalah salah satu hobi besar Austen”.

Wajar jika Austen memiliki banyak karya tulis, karena dirinya banyak menghabiskan waktu untuk membaca. Setiap malam, ia membaca novel dengan suara keras. Bukan hanya sekedar membaca, namun Austen “berpikir kritis tentang apa yang berhasil dan tidak berhasil untuk penulis lain”, ungkap Stephanie.

“Itu berarti Anda tidak perlu merasa bersalah saat Anda menjauh dari proyek menulis Anda untuk asyik membaca sebuah buku”, sambung Stephanie.

Pastikan Logika Anda Tetap Bekerja

“If a reader notices something and thinks, ‘That wouldn’t happen like that!’ you have lost them” –Rebecca Smith, 2016.

Apapun yang Anda tulis, apakah fiksi atau nonfiksi, Anda harus memastikan bahwa itu bisa masuk akal. Jangan mengira kalau menulis fiksi boleh sembarangan –dengan asumsi bahwa itu hanya khayalan atau imajinasi. Apalagi jika menulis nonfiksi, pasti akan sangat janggal jika tidak logis.

Dalam dunia fiksi, jika mengimajinasikan sesuatu yang tidak masuk akal, pembaca akan kecewa. “Apakah Anda sedang menulis tentang kampung halaman Anda atau tempat yang lahir dalam imajinasi Anda, segala sesuatu di dunia tulisan Anda harus masuk akal”, ujar Stephanie, belajar dari Jane Austen.

“Tubuh Devi sangat kurus, kecil, dan pendek. Berat badan Devi 125 kg. Ini membuat dirinya kesulitan bergerak”. Contoh penggambaran yang tidak masuk akal, bahwa seorang perempuan dengan deskripsi sangat kurus, kecil dan pendek, namun memiliki berat badan 125 kg.

“Sangat penting bahwa ada logika di balik berbagai aspek –mulai dari motivasi karakter Anda hingga aturan masyarakat mereka”, lanjut Stephanie. Menulis fiksi yang tidak logis akan menyebabkan pembaca lari dari Anda. Tidak ada hal yang bisa dinikmati oleh pembaca saat tulisan Anda tidak masuk akal.

“Whether you’re writing about your hometown or a place born in your imagination, everything in your world has to make sense. It’s crucial that there’s logic behind aspects ranging from your characters’ motivations to the rules of their society” –Stephanie Topacio Long (2016).

Rebecca Smith mengomentari gaya menulis Austen, “Jika seorang pembaca memperhatikan sesuatu dan berpikir: ‘Itu tidak akan mngkin terjadi seperti itu!’ Anda telah kehilangan mereka.” Itulah sebabnya, sangat penting untuk menjaga keteraturan logika dalam setiap tulisan Anda, meski tulisan Anda bercorak khayalan.

Bagaimana dengan Anda? Selamat berkarya, selamat mengubah dunia.

Bahan Bacaan

Claudia Gray, Jane Austen’s Advice for Writers, http://www.claudiagray.com, 27 Januari 2013

Katherine Luck, How to Write Like Jane Austen, https://howtowritelike.com, 4 April 2019

Maria Popova, Jane Austen’s Advice on Writing, in Letters to Her Teenage Niece, https://www.themarginalian.org, 16 Desember 2014

Mayo Oshin, The Daily Routine of 20 Famous Writers (and How You Can Use Them to Succeed), https://medium.com, 15 Agustus 2017

Rebecca Smith, The Jane Austen Writers’ Club: Inspiration and Advice from the World’s Best-Loved Novelist, Bloomsbury, USA, 2016

Stephanie Topacio Long, 10 Lessons Every Writer Can Learn From Jane Austen, https://www.bustle.com, 28 September 2016

Ditulis oleh ruangkeluarga

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.