Aku dan Kamu Satu Hati

Aku dan Kamu Satu Hati

Oleh: Ummu Rochimah

“Wah, saya ngga pernah tuh ngobrol dengan suami, ngga sempat, pagi-pagi sudah sama-sama berangkat kerja, pulang ke rumah sudah malam, capek langsung tidur.”

 

Demikian ucapan seorang ibu di hadapan saya ketika saya tanya, “kapan terakhir ngobrol santai dengan suami?

Pernikahan itu dibangun oleh dua anak manusia yang memiliki hati dan perasaan, bukan oleh mesin atau robot, sehingga menjadi suatu yang aneh ketika mendengar ada pasangan suami istri yang tinggal seatap, tidur sekasur, bisa bicara normal tapi tidak pernah mengobrol satu sama lain, apalagi saling curhat. Masing-masing sibuk dengan dunia nya sendiri, tidak mempunyai bahan obrolan yang sama ketika mereka sedang bersama, sehingga tidak ada bahan perbincangan yang dapat mendekatkan hati keduanya. Masing-masing merasa tidak menyambung ketika berada dalam suatu obrolan, sehingga obrolan itu menjadi tidak asyik, bahkan terkadang hanya satu arah sehingga terkesan menjadi seperti ceramah.

 

Pernikahan seharusnya dapat mengakrabkan dua insan yang mungkin pada awalnya belum saling mengenal.

 

Bagaimana dapat mengakrabkan diri jika keduanya tidak pernah mengobrol santai dari hati ke hati? Obrolan atau komunikasi menurut Onong Uchjana Effendy adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain untuk memberitahu, mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik secara lisan (langsung) ataupun tidak langsung (melalui media).

 

Salah satu penopang tegaknya sebuah pernikahan adalah adanya komunikasi yang baik di antara suami dan istri. Tidak ada jarak bagi keduanya untuk masing-masing mengungkapkan apa yang tersimpan dalam hati, tidak ada rasa sungkan untuk membicarakan apapun di antara mereka, bahkan mulai dari pembicaraan yang sangat sepele hingga pembicaraan yang sangat penting. Tidak ada keberatan dari seorang suami untuk mendengarkan dan menanggapi istri ketika ia berbicara tentang kegiatannya berbelanja ke pasar atau cerita tentang reunian dengan teman sekolahnya dulu. Atau sang istri yang begitu setia mendengarkan dan sesekali menanggapi ketika suami berbicara tentang hobinya, keinginan-keinginannya, dan sebagainya

 

Dari obrolan-obrolan yang sifatnya ringan ini ternyata dapat menambah kekuatan ikatan hati di antara keduanya. Kenyamanan berkomunikasi di antara suami istri justru akan didapat ketika keduanya intens dalam melakukan obrolan-obrolan yang ringan. Tidak ada perasaan sungkan atau merasa jatuh harga dirinya manakala keduanya terlibat dalam suatu obrolan ringan.

 

Saat suami istri sudah merasa nyaman dalam berkomunikasi, maka apapun masalah yang datang dalam perjalananan rumah tangganya akan dapat diselesaikan dengan baik.

 

Namun bila di antara mereka tidak merasakan kenyamanan dalam komunikasi, seringan apapun masalah yang menghampiri akan menjadi sulit untuk diselesaikan.

 

Di dalam beberapa riwayat hadits digambarkan bagaimana Rasulullah s.a.w, sebagai seorang suami yang terbiasa berbincang-bincang dan bercengkerama dengan istri-istrinya di sela-sela kewajiban beliau menunaikan tugas-tugas kenabiannya, namun sebagai seorang manusia beliau tidak melupakan sisi-sisi kemanusiaan dalam menjalankan fungsinya sebagai seorang suami dan ayah bagi anak-anaknya. Di antaranya seperti yang di riwayatkan dalam shahih Bukhari Bab Nikah, ketika Rasulullah s.a.w mendengarkan Aisyah berkisah tentang Ummu Zara’ yang begini dan begitu, dan redaksinya begitu panjang digambarkan dalam hadits tersebut, Aisyah baru berhenti berbicara sesaat setelah terdengar suara adzan, karena Rasulullah langsung beranjak untuk melaksanakan shalat. Dari hadits yang panjang ini didapat suatu gambaran bagaimana Rasulullah tidak sedikitpun memotong pembicaraan istrinya ketika sedang berbicara walau boleh jadi apa yang dibicarakan bukan sesuatu yang penting dalam tugas kenabiannya, namun beliau paham bahwa kemauannya untuk mendengarkan dengan begitu seksama setiap perkataan istrinya menjadi sesuatu yang penting dalam menjaga hubungan mereka.

 

Pada masa kini sering ditemui suatu kondisi dimana pasangan suami-istri sulit menemukan waktu untuk berkomunikasi satu sama lain dengan berbagai kondisi, misalnya suami istri bekerja di luar rumah, atau suami istri yang tinggal berjauhan satu sama lain, waktu menjadi sesuatu yang sangat berharga. Ditambah lagi ketika sudah memiliki anak, maka waktu yang sudah terbatas untuk mengobrol semakin sulit saja untuk didapat. Keterbatasan waktu untuk bersama ini tentunya bisa mendatangkan masalah. Apalagi jika ternyata pasangan tidak melakukan komunikasi yang berkualitas saat akhirnya bisa punya waktu bersama. Maka menjadi sesuatu yang penting bagi pasangan suami istri untuk membangun komunikasi yang efektif untuk kebaikan rumah tangganya.

 

Bicaralah, karena semua akan menjadi jelas dengan berbicara atau mendengarkan. Pasanganmu bukan card reader yang bisa otomatis membaca  semua pesan dan pikiran yang ada di kepalamu.

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan