Kembali
Kapita Selekta

Amal Istimewa, Pahala Tak Ada Batasnya

Oleh: Cahyadi Takariawan

Allah demikian baik kepada hambaNya. Selalu menghendaki kebaikan dan keselamatan kepada semua hamba. Maka Allah berikan balasan amal perbuatan dengan berlipat-lipat. Ada yang dilipatkan sepuluh kali lipat, bahkan sampai dengan 700 kalilipat.

Nabi saw telah bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).

Di luar itu, Allah masih memberikan kemurahanNya kepada hamba. Allah berikan balasan pahala tanpa hitungan, tanpa batas, tidaklagi bisa dihitung. Paling tidak ada tiga amal istimewa, yang pahalanya tidak terbatas.

Pertama, mudah memaafkan

Memaafkan orang-orang yang berbuat salah kepada kita, bukanlah tindakan yang mudah. Ketika kita disakiti, dizalimi, difitnah, dirugikan, keinginan terbesar manusia adalah membalasnya. Sangat sulit memaafkan.

Padahal telah banyak perintah Al-Qur’an agar kita mudah memaafkan kesalahan orang lain. Allah berfirman,

فَٱعْفُوا۟ وَٱصْفَحُوا

“Maka maafkanlah dan berlapang dadalah” (QS. Al-Baqarah: 109).

Demikian pula firmanNya,

فَٱعْفُ عَنْهُمْ وَٱسْتَغْفِرْ لَهُمْ

“Karena itu maafkanlah mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka” (QS. Ali Imran: 159).

Karena memaafkan adalah tindakan yang berat, maka Allah sediakan balasan yang sangat khusus. Balasan tak terbatas, sesuai dengan kehendakNya. Firman Alla

 وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ ۚ إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

“Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang zalim” (QS. Asy-Syura: 40).

Kedua, sabar

Banyak orang menganggap sabar adalah sikap lemah, padahal sesungguhnya sabar adalah kekuatan. Sabar benar-benar memberikan kekuatan dan keajaiban dalam kehidupan. Sabar adalah sifat positif, bahkan menjadi salah satu sifat yang dicintai oleh Allah, sebagaimana dalam firmanNya,

وَٱللَّهُ يُحِبُّ ٱلصَّٰبِرِينَ

“Dan Allah mencintai orang-orang yang sabar” (QS. Ali Imran : 146).

وَلَنَجْزِيَنَّ ٱلَّذِينَ صَبَرُوٓا۟ أَجْرَهُم بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ

“Dan sesungguhnya Kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang sabar dengan pahala yang lebih baik dari apa yang mereka kerjakan” (QS. An-Nahl : 96).

Bagi hamba yang mampu menetapi kesabaran dalam kehidupan, Allah akan memberikan pahala tanpa batas. Pahala tak terhingga. Sebagaimana firmanNya,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas” (QS. Az-Zumar : 10).

Ketiga, puasa dengan benar

Puasa adalah amal ibadah yang istimewa. Allah memberikan sangat banyak keutamaan di dalamnya. Dari Jabir bin ‘Abdillah ra, Rasulullah saw bersabda,

إِنَّمَا الصِّيَامُ جُنَّةٌ يَسْتَجِنُّ بِهَا الْعَبْدُ مِنَ النَّارِ

”Puasa adalah perisai yang dapat melindungi seorang hamba dari siksa neraka” (HR. Ahmad 3: 396. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan hadits tersebut sahih).

Dari Abu Sa’id ra, Rasulullah saw bersabda,

مَنْ صَامَ يَوْمًا فِى سَبِيلِ اللَّهِ بَعَّدَ اللَّهُ وَجْهَهُ عَنِ النَّارِ سَبْعِينَ خَرِيفًا

“Barangsiapa melakukan puasa satu hari di jalan Allah (dalam melakukan ketaatan pada Allah), maka Allah akan menjauhkannya dari neraka sejauh perjalanan 70 tahun” (HR. Bukhari no. 2840).

Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda,

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi” (HR. Bukhari no. 1904, 5927 dan Muslim no. 1151).

Sungguh luar biasa Allah memberikan kemuliaan kepada orang-orang yang berpuasa. Dalam puasa, seseorang berusaha bersabar dari hal-hal yang berat seperti rasa lapar, dahaga, dan lemahnya badan. Itulah mengapa amalan puasa bisa meraih pahala tak terhingga sebagaimana sabar (Lathaif Al-Ma’arif, hlm. 268-290).

Demikianlah tiga amal istimewa yang mendapatkan balasan tak terhingga. Semua jenis amal ini akan menyelamatkan manusia di saat hari perhitungan kelak. Allah akan menolong hamba yang memiliki amal istimewa ini, untuk menyelamatkan mereka di saat timbangan kebaikannya masih sangat sedikit. Allah akan penuhi dengan pahala amal tanpa batas ini, sehingga timbangan kebaikannya menjadi lebih berat.

Ibnu Mas‘ud menjelaskan, “Pada hari kiamat, manusia akan dihisab. Siapa saja yang amal baiknya lebih banyak dari amal buruknya, walau hanya selisih satu amal, maka ia akan masuk surga. Sementara orang yang amal buruknya lebih banyak dari amal baiknya, walau hanya selisih satu amal, maka ia akan masuk neraka.”  

Kemudian Ibnu Mas‘ud membacakan ayat,

وَالْوَزْنُ يَوْمَئِذٍ الْحَقُّ ۚ فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ بِمَا كَانُوا بِآيَاتِنَا يَظْلِمُونَ

“Timbangan pada hari itu ialah kebenaran (keadilan), maka barangsiapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, disebabkan mereka selalu mengingkari ayat-ayat Kami” (QS. Al-A‘raf: 8-9).

Ibnu Mas‘ud melanjutkan, “Sesungguhnya timbangan amal baik bisa ringan atau kalah walau hanya kurang seberat biji sawi. Sehingga orang yang imbang antara amal baik dan buruknya, maka dia termasuk ashabul a’raf (orang-orang yang diberi pengetahuan). Mereka berdiri di hadapan ash-Shirath. Dari situ, mereka tahu para penghuni surga dan penghuni neraka.

“Ketika melihat para penghuni surga, mereka menyeru, ‘Salam keselamatan untuk kalian.’ Saat menoleh ke arah kiri, mereka melihat para penghuni neraka, lantas berdoa, sebagaimana dalam ayat, ‘Ya Tuhan kami, janganlah Engkau tempatkan kami bersama-sama orang-orang yang zalim itu’ (QS Al-A‘raf: 47).  

Berikutnya Ibnu Mas‘ud berpesan, “Sesungguhnya seorang hamba, jika melakukan satu kebaikan, maka akan dicatat untuknya sepuluh kali lipat. Dan jika ia melakukan satu keburukan, maka akan dicatat untuknya satu kali lipatnya. Maka celakalah orang yang satu kali lipatnya mengalahkan sepuluh kali lipatnya” (Ibnu Al-Mubarak, Az-Zuhd wa Ar-Raqa’iq).

Beruntunglah hamba yang memiliki amal-amal istimewa. Mereka mendapatkan pahala yang tak terhingga dan bisa menyelamatkan dari api neraka, dengan rahmatNya.

وينادي مُنادٍ يوم البعث: أين الذين أجرهم على الله؟ فـيقبل الصابرون والصائمون والعافون عن الناس

Pada hari kebangkitan kelak ada penyeru yang memanggil di manakah orang-orang yang pahalanya atas tanggungan Allah? Maka menghadaplah orang-orang yang sabar, orang-orang yang berpuasa dan orang-orang yang mudah memberi maaf kepada orang lain.

Semoga kita termasuk di dalamnya. Aamiin.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.