Kembali
Keluarga

Andai Anak Bisa Memilih Ibunya

Andai Anak bisa Memilih Ibunya

@Ummu Rochimah

Setiap manusia yang lahir ke bumi sudah membawa takdir siapa ayahnya, siapa ibunya. Ia tidak bisa memilih hendak dilahirkan oleh ibu yang sesuai kehendaknya. Ibu yang melahirkannya adalah kehendak Allah atasnya.

Ibu, satu kata yang dapat mengharubirukan perasaan seseorang. Ada yang sangat senang dan bahagia dengan sosok ibunya sehingga ia dapat begitu dekat dengan ibunya dan sungguh-sungguh mencintainya. Namun, ada juga mereka yang tidak merasa bahagia dengan sosok ibunya, tidak memiliki kedekatan emosi, bahkan ada juga yang sangat membenci sosok ibu. Siapapun sosok ibu, dan bagaimanapun ibunya itu adalah suatu ketetapan yang tidak bisa ditolak keberadaannya.

Ibu adalah sosok yang menjadi perantara hadirnya seorang anak manusia di muka bumi. Pernahkah kita merenungkan bagaimana saat seorang ibu akan melahirkan, pada saat itu ibu berjuang antara hidup dan mati, namun momen itu adalah momen terindah bagi seorang ibu, semua rasa sakit dan ngilu yang dirasakan saat hendak melahirkan terbayar lunas saat mendengar tangisan sang bayi yang baru saja keluar dari rahimnya. Seketika itu pula Allah alirkan sebuah perasaan kasih dan sayang ibu kepada anaknya.

Dr. Ali Qaimi mengatakan bahwa sosok ibu adalah sumber mata air terpenting yang mengalirkan ketenangan, kebahagiaan, dan kecintaan dalam keluarga. Sosok ibu sangat berperan penting dalam melahirkan ketentraman, kedamaian, kemampuan, kekuatan, dan kebebasan dalam jiwa anak-anak.

Apa yang ibu lakukan terhadap anak-anaknya akan terus terbawa dalam kehidupan sang anak. Ibu yang penuh kasih dapat mengantarkan anak-anaknya menjadi sosok yang lembut penuh cinta dan kasih sayang. Ibu yang pemarah dapat melahirkan sosok manusia yang penuh murka, karena hal seperti itulah yang ia temui sehari-hari.

Ibu adalah sekolah pertama bagi anak-anaknya. Cetak biru seorang anak manusia itu bermula dari sosok seorang ibu.

Ada 4 tipe ibu dalam hubungan kepedulian dengan potensi otak anak :

1. Tipe ibu yang TIDAK TAHU dan TIDAK PEDULI
Ibu tipe ini biasanya tidak memiliki kemampuan, ada keterbatasan atau kesempatan untuk mengakses informasi sehingga ilmu dan pengetahuannya menjadi terbatas, ditambah lagi tidak memiliki kepedulian terhadap anak, sehingga lahir anak-anak yang kurang cakap dan berkarakter buruk.
Ketidakmampuan atau keterbatasan seperti ini bisa terjadi pada ibu-ibu dengan tingkat pendidikan atau taraf ekonomi yang rendah. Namun, tidak menutup kemungkinan
bisa juga ibu tipe ini memiliki latar belakang pendidikan tinggi dan bertaraf ekonomi tinggi namun memiliki latar belakang masalah sosial, seperti melahirkan anak di luar pernikahan, adanya ketidak harmonisan dalam relasi keluarga.

2. Tipe ibu yang TIDAK TAHU tapi PEDULI
Ibu jenis ini terdapat di manapun. Ketidaktahuan terjadi karena berbagai faktor seperti tempat tinggal yang jauh di pedalaman, tingkat pendidikan, status ekonomi, atau murni karena kurangnya informasi. Walau memiliki kekurangan pengetahuan namun ia masih memiliki kepedulian terhadap anaknya, melakukan pendidikan dan pengasuhan serta mendorong potensi anak melalui insting keibuannya.

3. Tipe ibu yang TAHU tapi TIDAK PEDULI
Ibu tipe ini banyak dijumpai di kota-kota besar, memiliki keleluasaan dan kesempatan dalam mengakses informasi namun tidak memanfaatkan sepenuhnya kesempatan tersebut. Adapun ketidakpedulian terjadi karena gaya hidup hedonis, materialistis dan kesibukan bekerja, atau ibu yang terlalu mempercayakan pengasuhan pada sekolah atau pembantu. Ibu dengan karakter yang malas, dan apatis juga kerap menjadi penyebab berkurang atau bahkan hilangnya potensi otak yang dimiliki oleh anak.

4. Tipe ibu yang TAHU dan PEDULI
Tipe ibu seperti ini adalah ibu yang ideal. Ibu jenis ini sangat memahami perannya sebagai pencetak generasi yang akan melanjutkan estafeta peradaban manusia. Ibu yang memahami bahwa dirinya adalah pusat kehidupan seorang anak. Ibu seperti ini akan mampu mengoptimalkan potensi otak anak, sehingga lahir anak-anak yang cerdas dan memiliki karakter yang baik.

Bagaimanapun seorang manusia memandang sosok ibunya, apapun tipe ibunya bahkan seburuk apapun perlakuan ibu terhadapnya yang kemudian meninggalkan luka mendalam dan sulit untuk disembuhkan, tetaplah ia harus memandang bahwa sosok ibu adalah pintu surga yang selalu terbuka untuknya ketika ia memuliakan sosok. Hingga Rasulullah begitu tegas menyatakan untuk memuliakan dan menyayangi ibunya tiga kali lipat dari ayahnya.

Berbahagialah mereka yang masih memiliki ibu, cium lah tangannya, dekap lah erat-erat dan rengkuh segala keberkahan yang dimiliki oleh ibu hingga keberkahan itu membaluri seluruh perjalanan kehidupan.

Sayangi dan cintai ibumu sehingga kau merasa seolah-olah ibumu akan meninggalkanmu selama-lamanya.

Yang sudah menjadi ibu, jadilah ibu yang memahami perannya sebagai pencetak generasi, sehingga tidak pernah berhenti untuk belajar menjadi ibu yang penuh pengetahuan dan ikhlas mendampingi anak-anak hingga anak-anak itu mampu menjalani peranannya sebagai khalifah di muka bumi.

Ingatlah doa untuk orang tua yang diajarkan Rasulullah, “Ya Allah ampunilah aku dan kedua orang tuaku, kasihilah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sejak aku kecil.”
Dalam kalimat kasihi lah mereka sebagaimana mereka mengasihiku sejak kecil, dapat bermakna bahwa apa yang diperbuat dan dilakukan orang tua, baik atau buruk perlakuan orang tua terhadap anak-anaknya saat mereka kecil bisa berbalik kepada dirinya sendiri saat anak-anak sudah dewasa dan orang tua semakin menua. Maka jadilah ibu yang cerdas dan bahagia, penuh kasih sayang, ikhlas dan sabar dalam mendidik serta mengasuh anak-anak.

Selamat Hari Ibu untuk seluruh ibu Indonesia

22 Desember 2021

#sejutaCintauntukIbu

Ditulis oleh Ummu Rochimah

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.