Antara Zakat dan Problematika Sosial Umat

Antara Zakat dan Problematika Sosial Umat

🌻🌻🌻

Antara Zakat dan Problematika Sosial Umat

@ummurochimah

 

Islam dengan ajarannya yang sempurna dan menyeluruh, sudah memperhatikan masalah penanggulangan problematika sosial umat semenjak fajarnya baru menyingsing di kota Mekkah, dengan pengikut yang baru berjumlah beberapa orang dan hidup tertekan serta dikejar-kejar kaum musyirikin, belum mempunyai pemerintahan, namun sudah mempunyai kitab suci Al Quran yang memberikan perhatian penuh dan terus menerus terhadap penanggulangan masalah sosial.

Dalam beberapa ayat Al Quran, ditemui redaksi kalimat, “memberi makan dan mengajak memberi makan orang-orang miskin“. Dalam redaksi ayat lain ditemui kalimat, “mengeluarkan sebagian rizki yang diberikan Allah kepadanya“, “memberikan hak orang-orang yang meminta-minta, miskin, dan terlantar dalam perjalanan“, atau dengan kalimat, “membayar zakat“.

Seperti dalam surat al Muddatstsir, yaitu salah satu surat yang turun di awal kenabian. Di ayat 38 – 46 menggambarkan mengenai suatu peristiwa di akhirat, yaitu peristiwa “orang-orang kanan” kaum muslimin di dalam surga yang bertanya mengapa kaum kafir dan pendusta dijebloskan ke dalam neraka.

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya, kecuali golongan kanan, berada di dalam surga, mereka tanya menanya, tentang (keadaan) orang-orang yang berdosa, “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan kami tidak (pula) memberi makan orang miskin, dan adalah kami membicarakan yang bathil, bersama dengan orang-orang yang membicarakannya, dan adalah kami mendustakan hari pembalasan.” (QS. Al Muddatstsir : 38 – 46)

Yusuf Qardawi dalam bukunya Hukum Zakat mengatakan bahwa yang dimaksud memberi makan orang miskin meliputi juga memberi pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan pokok lainnya.

Memberi makan orang miskin dan memperhatikan problematika sosial ini adalah realisasi keimanan seorang mukmin.

Al Quran memberi petunjuk kepada manusia untuk melaksanakan amal ibadah dalam rangka mengatasi problematika sosial ini dengan anjuran berzakat. Petunjuk Al Quran kemudian diperkuat lagi dengan Sunnah Nabi saw sebagai bentuk interpretasi lisan dan amal yang menjelaskan tentang tata cara pelaksanaannya.

Ayat-ayat yang turun di Mekkah tidak hanya menghimbau kaum muslimin untuk memberi perhatian pada masalah problematika sosial ini. Namun juga terdapat ancaman-ancaman bila hal ini diabaikan. Setiap muslim diberi beban untuk ikut memikirkan hal ini.

Dalam Al Quran surat al Haqqah ayat 30 – 34 memuat tentang hukuman Allah bagi mereka yang enggan memikirkan problematika sosial ini.

“(Allah berfirman): ‘Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya.’ Kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dia dahulu tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong (orang lain) untuk memberi makan orang miskin.

Ayat tentang peringatan, ancaman dan hukuman tentang masalah ini ternyata telah mendorong Abu Darda’  meminta istrinya, ” Istriku, Allah telah mempunyai rantai besi yang selalu menyala membakar periuk neraka semenjak ada sampai kiamat nanti. Kita telah terbebas dari ancaman separuh neraka itu karena iman kita. Sekarang mari kita bebaskan diri kita dari separuhnya lagi dengan mengajak orang lain memberi makan orang-orang miskin.”

Tidak ada satu pun kitab suci di dunia ini, kecuali Al Quran yang menggolongkan orang-orang yang tidak mengajak orang lain untuk memikirkan probelematika sosial umat sebagai golongan orang harus dihukum dan dijeboskanke dalam neraka.

Syekh Muhammad Abduh mengatakan bahwa, “Ungkapan ‘menyuruh memberi makan’ maknanya bukan ‘memberi makan’ saja, tapi mengandung arti tegas bahwa setiap anggota masyarakat harus bertanggung jawab dan saling mendorong secara bersama-sama dalam mengerjakan kebajikan dan mencegah hal-hal yang tidak baik, di samping selalu mengerjakan kebajikan dan menghindari mengerjakan keburukan itu sendiri.

 

Zakat adalah Rukun Islam Ketiga 

Dalam hal zakat, sunnah datang untuk memperkuat bahwa zakat itu wajib. Dan ini sudah dipertegas sejak periode Mekkah. Hal ini dapat dilihat dari peristiwa hijrah pertama kaum muslimin ke Habasyah (Ethiopia). Ja’far bin Abu Thalib menjelaskan kepada raja Najasi, raja negeri itu, tentang Nabi Muhammad saw dengan mengatakan, “Ia menyuruh kami mengerjakan shalat , zakat dan puasa.” Yang dimaksudkan di sini dalah shalat, puasa dan zakat, itu saja. Bukan shalat lima waktu, puasa ramadhan dan zakat yang sudah ditentukan nisab dan waktu wajibnya.

Ketentuan mengenai zakat wajib ini diperjelas pada masa periode Madinah. Nabi saw telah menegaskan bahwa zakat itu wajib dan telah ditetapkan kedudukannya dalam Islam. Zakat fitrah diwajibkan bagi kaum muslimin pada tahun ke-2 H bersamaan dengan diwajibkannya puasa ramadhan. Zaat fitrah merupakan sarana penyucian dosa dan perbuatan tidak baik bagi orang yang berpuasa. Juga menjadi solusi bagi problematika sosial masyarakat.

Setelah itu, barulah diwajibkan zakat kekayaan, yaitu zakat yang sudah ditentukan nisab dan besarannya.

 

Wallahu’alam

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan