Antara Zakat dan Shalat

Antara Zakat dan Shalat

🌻🌻🌻

Antara Zakat dan Shalat

@ummurochimah

 

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, bahwa kata zakat dalam Al Quran disebutkan sebanyak tiga puluh kali, dua puluh tujuh di antaranya disebutkaan dalam satu ayat bersama dengan kata shalat. Dari ketiga puluh kali kata zakat disebutkan, delapan di antaranya terdapat dalam surat-surat Makkiyah, yaitu surat yang turun di kota Mekkah, dan selebihnya berada dalam surat-surat Madaniyah, surat yang turun di kota Madinah.

Ayat-ayat tentang zakat yang turun di Madinah menegaskan bahwa zakat iru wajib dalam bentuk perintah yang tegas dan aturan pelaksanaannya juga jelas.

Dalam surat Al Baqarah ayat 110, Allah jelas mengatakan, “Dirikanlah oleh kalian shalat dan bayarlah zakat.” dan terdapat beberapa ayat lainnya yang senada.”

Terdapat satu surat dalam Al Quran yang banyak berbicara tentang kewajiban zakat, yaitu surat Al Taubah. Surat ke-9 setelah surat Al Anfal. Satu-satunya surat yang tidak diawali dengan basmalah. Sebagian ulama berpendapat, bahwa surat Al Taubah masih berkaitan erat dengan surat sebelumnya, dan merupakan sambungan dari surat Al Anfal.

Surat Al Taubah ini merupakan satu surat dalam Al Quran yang menunjukkan perhatian yang besar pada persoalan zakat. Ayat-ayat mengenai zakat selalu berhubungan dengan shalat, dan sangat jarang sekali zakat disebutkan tanpa shalat.

Yusuf Qardawi dalam bukunya Hukum Zakat mengutip Ibnu Zaid yang mengatakan, “Shalat dan zakat diwajibkan bersama, tidak secara terpisah-pisah. Shalat tidak akan diterima tanp zakat.”

Benarlah Abu Bakar Ash Shiddiq ketika memerintahkan untuk memerangi orang-orang munafik yang enggan untuk membayar zakat sepeninggalnya Rasulullah saw. Beliau sangat keras terhadap masalah ini, walau sebagian sahabat berpendapat untuk sedikit melunak terhadap masalah zakat. Para sahabat lain ini mempunyai pemikiran untuk menjaga jumlah kaum muslimin saat itu. Mereka khawatir jika Abu Bakar sebagai Khalifah Rasulullah terlalu keras saat itu, akan membuat mereka yang baru memeluk Islam menjadi berbalik kepada kekafiran.

Namun, dengan tegas Abu Bakar mengatakan, “Aku tidak akan memisah-misahkan dua hal yang disatukan sendiri oleh Allah!”. 

Dari sini bisa dipahami bahwa shalat adalah pembeda antara mukmin dan kafir, sedangkan zakat menjadi pembeda antara mukmin dan munafik.

Dalam surat ini pula terdapat penjelasan tentang orang-orang yang berhak untuk menerima zakat. Penjelasan ini merupakan jawaban bagi orang-orang yang rakus, bakhil, dan terpesona ketika melihat kekayaan zakat yang tanpa hak.

Di ayat ke-60 surat At Taubah ini, secara jelas dirinci mengenai orang-orang yang berhak menerima zakat. Terdapat delapan golongan orang yang berhak menerima zakat, yaitu :

1. Fakir

2. Miskin

3. Para amil zakat

4. Muallaf

5. Hamba sahaya

6. Orang yang memiliki hutang

7. Orang yang berjihad di jalan Allah

8. Orang yang berada dalam perjalanan

Demikianlah, hal-hal tentang zakat yang dibawa oleh Al Quran, khususnya surat At Taubah yang merupakan surat Madaniyah. Surat ini dapat menjelaskan tentang penekanan bahwa zakat itu wajib bagi seorang mukmin.

Dalam pandangan Al Quran, manusia itu belum bisa meraih kebajikan, belum bisa disebut sebagai orang baik dan masuk dalam golongan orang-orang mukmin ketika ia belum membayar zakat.

Tanpa zakat, seseorang tidak bisa dibedakan dari orang-orang musyrik yang tidak membayar zakat dan tidak menyakini hari kiamat.

Tanpa zakat, seseorang belum bisa dibedakan dari orang-orang munafik yang enggan untuk membayar zakat.

Tanpa zakat, seseorang tidak akan memperoleh rahmat Allah,

Dan rahmat-Ku akan meliputi segala sesuatu. Aku menetapkan rahmat-Ku hanya untuk orang-orang yang bertakwa, membayar zakat, dan percaya akan ayat-ayat Kami.” (QS. Al A’raf : 156)

Tanpa zakat, seseorang tidak berhak mendapatkan pertolongan dari Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman, “Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka tunduk (kepada Allah). Dan barangsiapa mengambil Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman menjadi penolongnya, maka sesungguhnya pengikut (agama) Allah itulah yang pasti menang.” (QS. Al Ma’idah : 55-56)

 

Wallahu’alam

17 Ramadhan 1442 H

Ummu Rochimah

Tinggalkan Balasan