Kembali
Motivasi Menulis

Apa Alasan Anda untuk Tidak Menulis? (6)

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When you’re the mom at the playground scribbling into a notebook instead of chatting with other moms” –Christy Decker.

.

Apa alasan Anda untuk tidak menulis? “Saya hanyalah seorang ibu rumah tangga yang sibuk dengan urusan kerumahtanggaan”, mungkin sebagian dari Anda akan menyatakan demikian.

Jewel Eliese (2018), seorang bloger produktif menyatakan, Anda mungkin menjadi ibu rumah tangga yang sekaligus penulis, namun menghadapi beragam jenis kendala. Seperti apa profil ibu rumah tangga yang sekaligus penulis? Eliese menggambarkan beragam kondisi ibu rumah tangga yang ingin produktif menulis.

Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis produktif, ketika “Anda begadang membaca atau menulis, lalu menyelinap ke tempat tidur pada pukul 3 pagi dan berpura-pura seakan baru saja di kamar mandi –padahal telah menulis selama berjam-jam”.

“When people glare at you when for being on your phone without knowing you’re just trying to save an idea for later so you can spend time with your kids now” –Jewel Eliese, 2018.

Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis produktif, ketika “orang-orang memelototi Anda saat menggunakan ponsel, tanpa mengetahui bahwa Anda hanya menyimpan ide diponsel, untuk ditulis nanti saat senggang –sehingga Anda dapat menghabiskan waktu bersama anak-anak sekarang”.

Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis produktif, ketika “Anda menjadi ibu di taman bermain, menulis di buku catatan –hingga tidak sempat mengobrol dengan ibu lain”. Anda adalah ibu rumah tangga sekaligus penulis produktif, ketika “seorang anak kecil tertelungkup di laptop Anda”.

Menjadi ibu rumah tangga, benar-benar menguras sangat banyak waktu, pikiran dan tenaga. Namun benarkan ibu rumah tangga tidak bisa produktif menulis dan menghasilkan karya hebat mendunia? Tentu saja mereka bisa, dan sudah banyak contohnya.

Barbara Kingsolver : “Keluarga Membuat Saya Menjadi Manusia Normal”

“You stay up late reading or writing and sneak into bed at 3am and pretend like you were just in the bathroom instead of writing for hours” –Jewel Eliese, 2018.

Barbara Kingsolver adalah salah satu contoh penulis produktif dan best seller, yang mampu menyemimbangkan pekerjaan dengan rumah tangga. “Sebagai ibu rumah tangga yang bekerja, tentu waktu saya terbatas”. Ia sepenuhnya menyadari keterbatasan ini. Namun ia pandai menyiasati.

Ini sekaligus membuktikan, mereka yang produktif menulis bukanlah para pengangguran yang tidak memiliki aktivitas. Para penulis produktif adalah mereka yang waktunya terbatas, namun mampu mengelola dengan sangat efektif. Meski hanya 20 atau 30 menit sehari, mereka mampu alokasikan dengan disiplin untuk menulis dan menghasilkan karya.

Keluarga memiliki makna sangat penting bagi Kingsolver. Baginya, keluarga membuat dirinya manusia ‘normal’. Dengan memiliki keluarga, ia memiliki banyak sisi yang bisa diceritakan dan diangkat menjadi karya. Kisah kejadian sehari-hari dalam kehidupan berumah tangga, adalah ide dan inspirasi yang sangat berarti.

“Saya sangat berterima kasih kepada keluarga karena telah menormalkan hidup saya. Mereka membuat saya mengakhiri hari dengan membuat makan malam. Ini hal yang sehat. Saya bisa menyelesaikan  menulis, menyiapkan makan malam dan menikmatinya bersama keluarga”, ujarnya.

Menjadi penulis novel, ia harus merasakan kehidupan nyata dalam kehidupan keluarga. Maka ia selalu bersyukur telah memiliki keluarga yang membantunya memahami berbagai aspek kemanusiaan. Semua suka duka dalam keluarga adalah nyata. Maka ia menjadi mampu menulis dengan berpijak kepada realita.

“Sungguh bahagia memiliki keluarga dalam hidup saya. Mereka telah membantu saya menjalani rutinitas kehidupan yang bermakna. Mereka membuat saya terhubung dengan dunia yang lebih luas, dan juga masa depan”, ungkapnya.

Kingsolver telah menunjukkan bahwa keluarga sangat bermakna dalam kehidupan menulisnya. Karena berada dalam sebuah keluarga, dirinya terhubung dengan ‘dunia yang lebih luas’, juga memiliki harapan yang jelas tentang masa depan. Sebuah gambaran kehidupan yang utuh. Meski menulis fiksi, kehidupan penulis berada dalam alam realita yang nonfiksi.

Demikian pula kehadiran anak-anak, membuat dirinya merasa semakin bermakna. “Anak-anak telah mengajari saya tentang arti kehidupan, dan tentang orang seperti apa yang saya inginkan di dunia ini. Being a mother has made me a better writer. Menjadi seorang ibu telah membuat saya menjadi penulis yang lebih baik”, ungkapnya.

Ini sebuah ungkapan yang sangat bagus untuk kita ingat. “Menjadi ibu telah membuat saya menjadi penulis yang lebih baik”. Tak ada yang perlu dipertentangkan. Semua bisa sejalan. Menjadi ibu rumah tangga membuat Andamenjadi lebih humanis, lebih bermakna dan lebih bahagia. Itu semua menjadi inspirasi untuk bahan tulisan sehari-hari.

Bagaimana dengan Anda? Apa alasan Anda untuk tidak menulis?

Bahan Bacaan

James Clear, The Daily Routines of 12 Famous Writers, www.jamesclear.com

Jewel Eliese, You Know You’re a Writer Mom When… https://writingcooperative.com, 3  Desember 2018

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.