Kembali
Kapita Selekta

Apa Arti Mudik Lebaran Bagi Saya?

Oleh: Cahyadi Takariawan

Setiap orang memiliki apresiasi tersendiri tentang mudik, sebagaimana juga saya. Bisa jadi kita memaknai mudik dengan cara yang berbeda-beda, dengan tingkat kedalaman dan keluasan yang tidak sama.

Kita memiliki cara pandang yang berbeda terkait makna mudik. Semuanya tergantung tujuan dan cakupan aktivitas yang kita lakukan selama mudik. Makin dalam ikatan primordial dengan kampung halaman, makin dalam pula makna mudik bagi seseorang.

Mudik bagi saya adalah sebuah ritual yang melengkapi ibadah Ramadan dan Idulfitri. Saya sekeluarga selalu melakukan mudik setelah usai melaksanakan shalat Ied dan mengikuti kegiatan ‘Syawalan Bersama’ masyarakat kampung di masjid sebelah rumah kami.

Setiap tahun, masyarakat kampung kami –kampung Mertosanan Kulon desa Potorono kapenewon Banguntapan kabupaten Bantul DIY—selalu berkumpul di masjid setelah usai melaksanakan shalat Idulfitri.

Kami saling maaf memaafkan secara massal di masjid, dengan maksud agar tidak harus pergi mengunjungi dari rumah ke rumah. Usai syawalan di masjid kampung, saya punya tradisi openhouse untuk tetangga dan sahabat. Seharian tak henti menerima tamu yang datang pergi.

Usai semua prosesi itu, saatnya mudik bagi keluarga saya. Kami mengunjungi rumah orangtua dan mertua. Selalu begitu.

Makna Spiritual dan Emosional

Mudik bagi saya memiliki makna spiritual yang mendalam. Setiap orang memiliki ikatan emosional yang sangat kuat dengan orang tua dan keluarga besar.

Setiap orang memiliki ikatan-ikatan primordial dengan kampung halaman dan tanah kelahiran. Setiap orang punya ikatan emosional dengan orang, makanan, tempat, kejadian, ataupun situasi di kampung halaman. Semua itu tidak mudah dilupakan sepanjang hidup manusia.

Ada ingatan saya tentang makanan Idulfitri yang wajib ada di rumah orang tua, lontong opor dengan racikan khas ibu saya. Ini menjadi menu wajib lebaran hingga sekarang. Setiap saya melihat lontong, yang terbayang adalah lebaran di rumah ibu.

Setiap lebaran di rumah ibu, yang terbayang adalah lontong opor. Secara pribadi, saya tidak punya ikatan emosional dengan ketupat, karena tradisi di rumah orang tua saya adalah lontong, bukan ketupat.

Ada ingatan kepada teman-teman waktu saya kecil, teman SD, teman sepermainan di kampung halaman. Ada ingatan tentang guru mengaji yang sering memberi pelajaran di masjid saat saya masih kecil –meskipun saya tidak mengikutinya.

Ada ingatan tentang halaman Sekolah Dasar yang dulu selalu menjadi tempat bermain favorit bersama anak-anak kampung lainnya. Ada ingatan tentang makam kampung, yang saat saya kecil dulu sering mengunjungi untuk mencari rumput bagi makanan ternak.

Ada ingatan tentang jalan, gang, tikungan, perempatan, jembatan kecil, sungai bening, sawah luas, pohon besar, batu-batu unik, ikan-ikan sungai. Semua penuh kenangan indah.

Ada ingatan tentang pohon-pohon jambu mete yang berjajar di sepanjang jalan kampung. Kami berlomba untuk mengambil jambu-jambu saat mulai tampak merah meranum.

Ada ingatan tentang pohon-pohon turi yang berjajar di jalan menuju Sekolah Dasar. Ibu selalu mengajakku mengambil bunga turi saat sudah mulai tampak merekah putih, untuk dijadikan sayur pecel yang sangat lezat.

Ada ingatan tentang “punthuk”, semacam bukit kecil, di sebelah selatan kampung yang dulu dikenal sangat “wingit”, dan ternyata sekarang sudah menjadi milik seorang juragan kaya. Ada ingatan tentang “ledhok”, sebuah perkampungan kecil yang letaknya di bagian bawah, dengan jalan yang menurun sangat tajam. Dulu kami berburu buah durian di kampung ini.

Semua ingatan itu membentuk kerinduan untuk mengunjungi dan menengoknya kembali. Minimal setahun sekali. Dan itulah makna mudik bagi saya pribadi.

Syawal kali ini, mudik kami agak berbeda. Ayah dan ibu sudah tidak ada. Biasanya saya menginap beberapa hari di rumah orangtua. Kini rumah induk itu sudah berubah menjadi rumah industri.

Adik saya menjadikan rumah peninggalan orangtua untuk bisnis makanan berbasis ketela pohon yang –alhamdulillah, sukses. Namanya Getuk Semar. Silakan sahabat mampir ke rumah kelahiran saya, yang sekarang telah berubah menjadi pusat oleh-oleh khas Tawangmangu dan Karanganyar. Cari saja di google maps dengan kata kunci “pusat produksi Getuk Semar Karangpandan Karanganyar”.

Meskipun tidak lagi menginap, namun kami tetap mudik. Saya akan kembali mengunjungi tempat, makanan, teman dan suasana yang dirindu dan tak terlupakan seumur hidup. Itulah mengapa, lebaran menjadi kurang bermakna –jika tanpa mudik.

Selamat pagi, selamat beraktivitas di hari lebaran. Hati-hati di jalan, selamat mudik sampai tujuan.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.