Apa Bekalmu Esok?
@ummurochimah
Dua hari kemarin berturutan mendapatkan kabar duka dari orang-orang dalam lingkar pertemanan. Ada kematian teman yang dia itu seorang istri, ibu. Ada juga kabar kematian suaminya teman. Sedih mendengarnya.
Terlepas dari sebab kematiannya, tapi ketika berita itu sampai ke telinga, rasanya seperti ditampar, diingatkan, “Hei!! Kamu harus siap-siap. Kapan saja namamu akan dipanggil entah kamu siap atau tidak siap!.”
Sejatinya, manusia mungkin ngga akan pernah siap saat waktunya tiba, selalu ada penyesalan yang melesak dalam jiwa.
Manusia sering dilenakan oleh waktu. Ahh.. aku aku masih muda, aku masih sehat, aku masih kaya, aku masih lapang, dan ahh-ahh yang lain. Tanpa disadari, tiba-tiba waktu itu datang tanpa peringatan tanpa pemberitahuan. Lalu timbul penyesalan.
Waktu laksana pedang. Jika kita tidak menebaskannya maka kita yang akan tertebas olehnya.
Islam menempatkan waktu sebagai perkara penting dan mendasar sehingga jika tidak dimanfaatkan dengan baik, maka kerugianlah yang akan diperoleh. Lebih dari kerugian materi, menyia-nyiakan waktu bisa berakibat terbengkalainya sisi akhirat seorang hamba.
Kita tak pernah tahu sampai sebatas mana waktu yang Allah berikan untuk kita mempersiapkan bekalan di akhirat nanti. Maka, jangan pernah sedikitpun berpikir untuk berhenti melakukan kebaikan-kebaikan sebagai bekalan di akhirat nanti.
Hadits ini mungkin bisa menjadi pengingat diri :
“Apabila Allah menghendaki kebaikan bagi hamba-Nya, maka Dia akan memakainya. Para sahabat bertanya, “Bagaimana Allah akan memakainya ya Rasulullah? Rasulullah saw menjawab, “Allah akan memberinya taufik untuk sibuk dalam beramal salih sebelum dia meninggal.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)