Kembali
Keluarga

Arti Dekapan Seorang Ayah

Arti Dekapan seorang Ayah

@Ummu Rochimah

 

Yang sedang berjabat tangan dengan Bapak Ali Sadikin, Gubernur DKI saat itu adalah ayah saya. Beliau seorang PNS di kala itu, sosok yang tidak banyak berbicara, pekerja keras dan loyal pada pimpinan. Tak banyak petuah-petuah yang beliau sampaikan kepada 10 orang anak-anaknya.

Salah satu kenangan masa kecil yang masih saya ingat ketika usia saat itu masih berbilang satu digit yaigu, setiap beliau pulang sore hari dari bekerja, kami selalu menyambut dan mengelilinginya. Mengapa kami antusias dalam menyambutnya?

Begini ceritanya…

Saat itu kami sudah ada 7 bersaudara, dua di antaranya masih batita dan bayi. Jadi ada lima orang yang selalu menyambut dan mengelilingi beliau. Didekapnya kami satu persatu, dekapan yang tak lebih dari semenit setiap anak. Tapi dekapan itu masih hangat saya rasakan hingga saat ini. 

Kemudian beliau duduk di kursi, lalu melepaskan sepatunya sambil berkata,

“Coba tebak, Ayah bawa apa?”

Kami berebut menjawab pertanyaannya sesuai dengan harapan dan keinginan masing-masing.

Kami menunggu-nunggu dengan harap-harap cemas apa yang beliau lakukan selanjutnya. Beliau akan membuka kaos kakinya dan tiba-tiba ada sesuatu yang beliau keluarkan dari dalam kaos kakinya. Terkadang berupa telur rebus, sebatang coklat, atau segenggam permen.

Dengan berjingkrak-jingkrak kesenangan kami semua berteriak, “Buat aku..buat aku…!!”

Tapi karena jumlah kami banyak, kadang tak cukuplah oleh-oleh yang beliau bawa. Hingga akhirnya beliau memilih salah satu di antara kami untuk mendapatkan oleh-oleh hari itu. Beliau memberikan oleh-olehnya secara bergiliran setiap harinya. 

Kenangan indah yang tak akan pernah dapat dilupakan.

Baru terbayang oleh kami saat ini, -ketika sudah berada pada posisi sebagai orang tua- betapa beliau begitu gembira menantikan momen bersama anak-anak, sampai merencanakan untuk memberi kejutan kepada anak-anaknya yang sepertinya sepele. Tapi, justru mengundang antusiasme anak-anak dan menjadi kenangan yang tak terlupakan.

 

***

Jika kita mencermati lebih mendalam, kita akan temui bahwa legenda dan simbol pendidikan anak yang diabadikan dalam Al Quran adalah seorang ayah, yaitu Luqman al Hakim. Sampai-sampai dijadikan nama sebuah surat, surat Luqman, surat ke-31 dalam Al Quran. Beliau adalah orang salih yang dikisahkan metode pendidikan anaknya, dan menjadi pelajaran penting bagi semua umat manusia beriman. Legendanya adalah Luqman, bukan istrinya Luqman. Ini menandakan peran ayah yang sangat penting dalam mendidik anak.

Al Qur’an mengisyaratkan pentingnya dialog ayah dengan anak, jika dihitung dari jumlah ayat tentang dialog orang tua dengan anak yang diabadikan di dalam Al Qur’an. Dalam sebuah studi yang dilakukan oleh Sarah binti Halil bin Dakhilallah Al-Muthiri terkait tema ini, beliau mencatat bahwa dialog orang tua dengan anak ada pada 17 tempat yang tersebar di 9 surat dalam Al Quran. Sedang dialog ibu dengan anak tercatat ada di 2 tempat. Sangat jauh lebih banyak dialog ayah dengan anak ketimbang ibu dengan anak.

Hasil penelitian ini dapat menjadi motivasi bagi para ayah untuk lebih banyak melibatkan diri bersama anak-anak. Lebih menyadari bahwa peran ayah sangat penting bagi perkembangan jiwa anak. 

Hal ini menandakan bahwa pengasuhan dan pendidikan anak bukan hanya urusan ibu. Namun harus ada peran seimbang dari kedua orang tua. Ayah harus menyempatkan waktu untuk banyak berdialog dengan anak-anak, karena itu adalah bagian penting dalam proses pendidikan dan pengasuhan anak. Ayah tidak boleh diam dan menyerahkan semua komunikasi dengan anak hanya kepada ibu. Pendidikan anak harus menjadi tanggung jawab yang seimbang antara ayah dengan ibu karena anak memerlukan sosok keduanya.

Dalam teori pengasuhan anak tentang kebutuhan anak pada masa tumbuh kembang disebutkan bahwa ada perbedaan peran ayah dan ibu dalam setiap fase usia anak.

Di fase usia 0-7 tahun, anak perempuan dan laki-laki membutuhkan bundanya jauh lebih besar dari pada ayah. Di sini peran ayah adalah sebagai pendukung, mengayomi dan menentramkan istri agar tetap dalam ‘kewarasan’. Menggantikan bunda dalam membersamai anak saat bunda terlihat lelah hayati. Dari sini anak bisa belajar arti rasa kasih sayang, bunda mencurahkan kasih sayangnya yang tulus kepada anak, dan ayah menunjukkan kasih sayang kepada bundanya.

Di fase usia 7-14 tahun, anak perempuan dan laki-laki mulai membutuhkan peran ayah yang lebih besar daripada bundanya. Sikap bunda pada  fase ini untuk anak perempuan adalah memberi dukungan dan mendampingi suami agar lebih mudah saat menjalankan peran keayahan bagi anak perempuannya. Pada fase ini anak perempuan mulai belajar untuk mempercayai seorang laki-laki yang bisa membuatnya nyaman dan tentram. 

Sedang bagi anak laki-laki, di fase usia 7-14 tahun ini, bunda harus mundur selangkah dan menyediakan ruang lebih banyak bagi ayah dan anak laki-lakinya untuk lebih dekat. Di fase inilah seorang ayah harus mengajarkan tentang arti qowwam, arti kepemimpinan seorang laki-laki, agar kelak anak laki-laki mereka mampu menjalankan peran kelelakiannya.

Jika peran ayah dan bunda di fase ini terabaikan, hal ini dapat menjadi sebab munculnya permasalahan-permasalah anak di fase berikutnya.

Pada fase usia anak 14 tahun – dewasa. Anak laki-laki dan perempuan, selain butuh kedua orang tuanya, mereka butuh mentor yang bisa menjadi teman sekaligus model bagi mereka. Mentor ini bisa membawa nilai-nilai positif maupun negatif bagi seorang anak tergantung bagaimana pemenuhan kebutuhan mereka akan peran orang tuanya di fase sebelumnya.

 

****

Wahai para ayah, hadirlah untuk anak-anakmu. Mereka tidak menuntut engkau hadir dengan hadiah-hadiah mewah, cukup dirimu ada dalam setiap kesempatan. Terlebih saat anak-anak membutuhkan kehadiranmu di sisi mereka kala mereka mengalami suatu masalah. Hadirmu di situ sudah menjadi anugerah terindah bagi mereka.

#parentingrasulullah

#ayahpenyayang

#teladanutama

Ditulis oleh Ummu Rochimah

Dipublikasikan di RUANG KELUARGA. Media edukasi keluarga, parenting, dan keharmonisan rumah tangga.