Kembali
Motivasi Menulis

Bangga Menjadi Penulis – 2

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

.

“Bagaimana awal mula Pak Cah menjadi penulis?” tanya seorang peserta Kelas Menulis Online (KMO) Alineaku.

Awalnya, saya membaca sebuah artikel yang dimuat pada koran lokal di Yogyakarta.  Sebuah artikel yang –menurut saya—sangat ngawur dan jauh dari kebenaran. Saya sangat terusik dengan artikel tersebut.

Segera saya menulis tanggapan, dan saya kirim ke koran yang sama. Beberapa hari kemudian tulisan saya dimuat. Ini untuk pertama kalinya saya menulis artikel dan dikirim ke koran lokal Yogyakarta. Langsung dimuat.

Menulis di Koran dan Majalah

Itu kejadian tahun 1986 saat saya kuliah di UGM semester kedua. Semenjak itu saya mengetahui bahwa saya bisa menulis. Saya juga merasakan bahwa menulis itu mudah. Maka saya makin sering menulis. Beberapa tulisan saya dimuat di koran lokal Yogyakarta dan Jawa Tengah.

Kurun waktu berikutnya, saya mulai menulis untuk koran nasional. Ternyata juga tidak menemui kesulitan. Sejak tulisan pertama yang saya kirim, tidak pernah ditolak. Akhirnya saya rutin menulis di koran nasional tersebut. Karena sifat koran yang harian, maka saya bisa menulis empat kali dalam sebulan.

Selain di koran, saya juga merambah menulis artikel di beberapa majalah nasional. Terutama majalah bercorak Islam. Saya sempat menjadi kontributor tetap beberapa majalah Islam. Namun kebanyakan majalah bersifat bulanan, sehingga peluang memasukkan tulisan lebih sedikit dibanding koran harian.

Dengan berbagai aktivitas rutin menulis ini, saya bisa menghidupi diri dan menikah saat kuliah. Semenjak menikah, saya membiayai kuliah saya dan istri sampai selesai. Hingga selesai kuliah, saya hanya mengandalkan hidup dari menulis di koran dan majalah. Alhamdulillah, cukup untuk menghidupi istri dan dua anak kami.

Saya rutin menulis di majalah dan koran, karena dengan cara ini saya mendapatkan ‘uang cash’ yang bisa digunakan untuk nafkah keluarga. Jika saya menulis di koran dan majalah, saya segera mendapatkan kiriman uang fee menulis. Bahagia banget rasanya saat itu, setiap melihat tulisan dimuat koran dan majalah. Sudah terbayang anak istri bisa makan setiap hari.

Saat masih kuliah, saya sering mentraktir makan beberapa teman kos, setelah menerima kiriman uang dari koran atau majalah. Ini menjadi kebahagiaan tersendiri, bisa membahagiakan orang lain. Terlebih dengan uang yang saya hasilkan dari jerih payah sendiri, bukan pemberian orangtua.

Menulis Buku

Saya menulis buku pertama kali pada tahun yang sama dengan pernikahan, yaitu 1991. Namun setelah menikah, saya lebih fokus menulis di koran harian dan majalah –karena ingin mengejar ‘uang cash’ yang bisa segera digunakan.

Saya mulai aktif menulis buku, setelah lulus kuliah. Setelah lulus dari UGM, saya memiliki waktu yang lebih leluasa untuk mencari penghasilan lain, di luar menulis. Saya pernah menjadi dosen di lima perguruan tinggi yang ada di Yogyakarta. Dari aktivitas mengajar ini, saya bisa bertahan hidup sehari-hari bersama anak istri.

Karena kebutuhan harian sudah tercukupi, maka saya bisa menulis buku. Saya tidak lagi menulis di koran dan majalah. Dengan menulis buku, saya mendapatkan royalti setahun dua kali. Kadang ada buku yang terpaksa saya jual dengan sistem ‘beli putus’. Hal ini karena ada keperluan hidup yang mendesak.

Akhirnya satu per satu buku saya lahir. Sebagiannya diterbitkan untuk keperluan terbatas, misalnya pesanan dari kampus tertentu. Ada juga buku yang ditulis karena ikut projek pemerintah, sehingga diterbitkan dan diedarkan secara terbatas oleh pemerintah. Ada juga buku-buku modul yang dipesan oleh lembaga tertentu.

Jadi, tidak semua buku yang saya tulis, dijual terbuka di pasaran. Bahkan ada beberapa buku yang saya buat hanya untuk keperluan pihak pemesan, sehingga tidak pernah dipublikasikan luas. Buku-buku tersebut dibuat untuk memenuhi pesanan, karena ada program terbatas dari pihak pemesan.

Buku yang paling laku dibandingkan dengan semua buku yang pernah saya tulis, adalah serial wonderful family. Menyusul sukses Wonderful Family, segera saya tulis Wonderful Couple, Wonderful Husband, Wonderful Wife, Wonderful Marriage, Wonderful Love dan Wonderful Parent. Masih ada beberapa buku serial wonderful yang akan segera saya tulis.

Untuk buku-buku yang saya buat berdasarkan pesanan dan dicetak secara terbatas, tidak menggunakan nomer ISBN. Hal ini karena tidak diperjualbelikan secara bebas. Hanya untuk keperluan pihak pemesan saja.

Menulis Amal

Yang paling saya inginkan dari semua tulisan saya adalah untuk memperbanyak amal kebaikan. Melalui tulisan, saya bisa memotivasi, menginspirasi, mengedukasi dengan cara ringan. Inilah yang saya harapkan menjadi tulisan amal.

Bahagia rasanya, bisa menulis dan berbagi inpirasi. Terlebih ketika mendengar testimoni pembaca, sering mengharu biru jiwa. Semua menjadi pembuktian dari keyakinan saya, bahwa melalui tulisan, kita bisa memberikan pencerahan. Melalui tulisan, kita bisa menguatkan, menyemangati, dan bahkan menunjukkan jalan kebaikan.

Kita bisa menyapa sangat banyak kalangan manusia, melalui tulisan. Kita bisa menjangkau sangat banyak pembaca, melalui tulisan. Masyarakat Indonesia yang tersebar di seluruh penjuru dunia, bisa menikmati tulisan yang kita unggah di media online. Sering kalu, tulisan kita sampai terlebih dahulu, sementara kita belum mengunjungi tempat itu.

Selamat menulis. Selamat beramal di saat yang sama.

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.