.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“Katakan kepada diri sendiri, bahwa Anda adalah penulis. Sampai Anda yakin bahwa Anda adalah seorang penulis” –Chuck Sambuchino (2013)
.
Untuk semakin menguatkan identitas diri sebagai penulis, Anda harus menyatakannya. Jika Anda masih malu menyatakan, sepertinya Anda belum percaya bahwa menulis adalah sebuah pekerjaan mulia. Jika Anda yakin, menulis akan membawa kebaikan bagi kehidupan Anda dan orang lain, nyatakan.
Chuck Sambuchino, penulis buku Create Your Writer Platform menyatakan, ada dua konteks penyebutan diri sebagai penulis.
Pertama, menyebut diri sebagai penulis kepada diri sendiri
Anda harus menyatakan kepada diri sendiri, bahwa Anda adalah penulis. Sudah saya kutipkan pernyataan Mel Lee-Smith (2017) “Being a writer requires only one thing: actually writing”. Syarat menjadi penulis hanya satu –Anda benar-benar menulis.
Katakan terus menerus dalam diri Anda, bahwa Anda adalah penulis. “Saat bercermin sebelum gosok gigi, katakan bahwa Anda adalah penulis”, ujar Sambuchino.
Lakukan lagi ketika Anda pulang kerja, sesampai di rumah langsung berdiri di depan cermin sambil mengatakan kepada diri sendiri “Aku adalah penulis”. Jangan malu, katakan lagi dan lagi.
Ia meniru kebiasaan aktor Robert De Niro yang mengulang dialog puluhan kali sampai ia yakin dengan apa yang diucapkannya —sebelum syuting film. Maka katakan terus menerus kepada diri Anda sendiri, bahwa Anda adalah seorang penulis.
“Sampai Anda yakin bahwa Anda adalah seorang penulis”, ujar Sambuchino. Dengan demikian, Anda akan semakin bertanggung jawab atas pilihan diri sebagai penulis, bahwa Anda harus semakin rajin menulis.
Kedua, menyebut diri sendiri sebagai penulis kepada orang lain
Kapan harus menyebut diri sebagai penulis kepada orang lain? Sambuchino menyarankan, “Sekarang saatnya, jangan menunda lagi”.
Alasan mengenalkan diri sebagai penulis kepada orang lain adalah untuk memberikan tanggung jawab kepada diri sendiri, bahwa Anda memang seorang penulis –yang layak disebut sebagai penulis oleh orang lain.
Dengan cara apa Anda menyebut diri sebagai penulis kepada orang lain? Sangat banyak sarana yang bisa Anda gunakan. Misalnya menulis di profil Whatsapp, “Penulis rutin di Facebook”. Anda juga bisa menyebut diri sebagai bloger apabila Anda rutin menulis di blog.
Namun siaplah menghadapi respon orang lain tatkala Anda mengenalkan diri sendiri sebagai penulis. Ketika seorang mengenalkan diri sebagai dokter, apoteker, psikolog, akuntan, guru –dan lain-lain, mereka telah menempuh pendidikan dan memiliki sertifikasi sesuai profesinya.
Jika Anda telah mengikuti kelas-kelas menulis dan telah mendapatkan sertifikat, paling tidak Anda bisa menunjukkan bahwa Anda juga belajar untuk menjadi penulis. Di sisi ini, Anda telah bisa berbangga dan percaya diri, “Saya memiliki sertifikat dari kelas menulis”.
Sambuchino memberi saran, agar Anda menyiapkan jawaban, apabila ada orang bertanya, “Apa yang Anda tulis?” Nah, Anda harus dengan percaya diri menjelaskan, apa wujud karya tulis Anda. Jawablah dengan ringkas saja, namun akurat.
Misalnya, Anda bisa mengatakan, “Saya menulis rutin melalui Facebook / Instagram / Blog”. Ini adalah jawaban ringkas dan meyakinkan. Atau Anda bisa menjawab, “Saya menulis rutin di Kompasiana”, atau jawaban apapun yang sesuai kebiasaan Anda masing-masing.
Jangan malu untuk menyebut diri sebagai penulis, meskipun baru memulai. Semakin cepat Anda menyebut sebagai penulis kepada diri sendiri maupun kepada orang lain, akan semakin cepat pula Anda menyadari bahwa pilihan menjadi penulis adalah hal serius dan menuntut waktu serta perhatian Anda.
Identitas diri sebagai penulis inilah yang akan mendorong Anda untuk duduk, bekerja keras dan menciptakan karya tulis.
Selamat menulis, selamat menciptakan karya.
Bahan Bacaan
Chuck Sambuchino, When Can You Call Yourself A Writer? www.thewritelife.com, 4 Desember 2013
Mel Lee-Smith, Stop Calling Yourself an “Aspiring” Writer, https://www.melleesmith.com, 23 Juni 2017