Begini Salah, Begitu Salah, Lalu Aku Harus Bagaimana?

Begini Salah, Begitu Salah, Lalu Aku Harus Bagaimana?

Oleh : Cahyadi Takariawan

 

 

 

Tidak pernah mendengar omongan orang, pasti membawa masalah bagi anda. Selalu mendengar semua omongan orang, juga akan menimbulkan masalah bagi anda.

Jika kita tidak mendengarkan omongan orang lain, artinya kita menolak nasihat, dan itu adalah kesombongan. Sesungguhnyalah semua orang memerlukan nasihat, peringatan, bimbingan, arahan, masukan dan lain sebagainya. Menolak nasihat adalah kepongahan, karena merasa diri sempurna dan tidak memerlukan masukan dari orang lain.

Namun jika semua omongan orang didengarkan dan dimasukkan ke dalam hati, akan sangat membingungkan. Pendapat orang sangat beragam, pikiran manusia bermacam-macam. Satu dengan yang lainnya bisa saling bertolak belakang dan berbenturan.

Bersama NS yang Kebingungan

Kisah Nasrudin Satu (NS) –atau siapapun namanya– tentu sudah sangat terkenal. Saat NS dan anaknya menaiki seekor keledai, berkatalah orang yang melihat, “Kalian ini tidak memiliki perasaan. Kasihan keledaimu harus menanggung beban dua orang sekaligus. Salah satu sajalah yang naik keledai, biar tidak terlalu memberatkan keledaimu”.

Benar juga orang ini, kata NS dalam hati.

Maka NS menyuruh anaknya turun, sehingga dia sendiri yang menaiki keledai. DI tengah jalan, seseorang menyapa mereka. “Kasihan benar anakmu. Mengapa tidak engkau saja yang jalan kaki, dan biar anakmu yang naik keledai ? Bukankah engkau yang lebih kuat berjalan ?”

Benar juga orang ini, pikir NS.

Maka ia turun dan meminta anaknya menaiki keledai. Mereka kembali berjalan. Tak lama berjalan, mereka bertemu orang dan langsung berkomentar, “Hai betapa tidak sopan engkau anak muda. Bagaimana engkau santai naik keledai dan engkau biarkan ayahmu yang sudah tua berjalan kaki ? Tidakkah engkau memiliki rasa hormat kepada orang tua?”

Ahai, benar pula orang ini, pikir NS. Tapi siapa yang seharusnya naik keledai ? Tadi naik keledai berdua, ditegur orang. Saat NS yang naik keledai, ditegur orang. Giliran anaknya yang naik keledai, masih ditegur orang.

“Kita jalan kaki saja berdua Nak”, kata NS. Maka anaknya turun, dan berdua berjalan kaki sambil menuntun keledai.

Baru sebentar berjalan, seseorang mendekati mereka. “Hai NS, betapa bodoh dirimu. Memiliki keledai tapi tidak kalian manfaatkan. Apa guna keledai kalau ternyata kalian berjalan kaki ? Keledai itu kan tunggangan, kenapa tidak kalian naiki ?”

Benar pula orang ini, pikir NS. Tapi, sekarang harus bagaimana lagi ? Ah, ternyata semua tindakanku tidak ada yang benar. Maka keputusannya, “Nak apapun kata orang, jangan pedulikan lagi. Ayo bantu aku menggendong keledai ini”, pinta NS kepada anaknya.

Maka NS dan anaknya berjalan kaki sambil menggendong keledai.

ND juga Kebingungan

Anda juga ingat kisah Nasrudin Dua (ND) —atau siapapun namanya—yang berjualan ikan di pasar. Sekian lama ND berjualan ikan di pasar, namun sepi, belum banyak dikunjungi pembeli. “Saya kira banyak orang tidak tahu kalau engkau jualan ikan di sini, makanya sedikit yang datang. Sebaiknya engkau pasang tulisan yang besar agar banyak orang melihat dan mengerti bahwa engkau berjualan ikan”, saran seorang pembeli.

Benar juga orang ini, pikir ND. Segera ia membuat tulisan besar-besar dan dipasang di dekat tempatnya jualan. “Di Sini Berjualan Ikan”, begitu bunyi tulisan yang dipasang ND. Ia berharap banyak orang membaca tulisan itu dan datang membeli.

Beberapa hari kemudian, seorang pembeli tersenyum membaca tulisan itu. “Aneh sekali tulisan ini. Engkau julan ikan di sini, tapi masih engkau beri tulisan : Di Sini Berjualan Ikan. Bukankah memang engkau jualan di sini, bukan di tempat lain, mengapa masih engkau beri tulisan seperti itu?” katanya.

Benar juga orang ini, pikir ND. Memang aneh kalau ada kata “Di Sini”. Segera ia turunkan tulisannya, dan ia ganti dengan tulisan baru, “Berjualan Ikan”.

Beberapa hari kemudian, jualan ND tetap saja sepi. Seorang pembeli datang dan memberikan saran, “Hai ND, betapa aneh tulisanmu itu. Semua orang sudah tahu kalau engkau berjualan ikan, bukan berjualan beras. Mengapa masih engkau beri tulisan jualan ikan ?”

Benar juga orang ini, pikir ND. Ia menghadap ikan saja, tidak ada barang lain yang dijual, jadi semua orang pasti sudah tahu kalau ia berjualan ikan. Segera ia turunkan tulisannya dan ia ganti dengan tulisan baru, “Berjualan”.

Beberapa hari berlalu, dagangan ND tetap saja sepi. Seorang pembeli datang dan memberikan kritik, “Hai ND, semua orang yang ada di pasar ini dan membawa barang, pasti untuk berjualan, bukan untuk dibagi gratis. Semua orang sudah tahu kalau engkau berada di sini menghadap ikan itu artinya dijual, bukan dibagikan gratis. Mengapa masih engkau beri tulisan juga?”

Akhirnya ND melepas tulisannya, kembali seperti semula. Ia berjualan di pasar, dan tidak ada lagi tulisan yang dipasang.

Tidak Perlu Bingung

Bingung kan, kalau mendengarkan semua omongan orang ? Mengapa ? Karena tidak ada sesuatu yang dianggap benar oleh semua orang. “Benar” di sini bukan dalam konteks kebenaran yang dalam bahasa Arabnya disebut sebagai al haq. Namun lebih dalam konteks “ketepatan bertindak di mata orang”, atau tindakan “yang menyenangkan semua orang”. Tidak ada perbuatan yang bisa menyenangkan semua orang.

Semua orang punya perspektifnya sendiri-sendiri. Memiliki cara pandang dan cara menilai yang berbeda. Maka ketika memberikan penilaian atas sebuah keadaan atau tindakan, bisa berbeda-beda pula hasilnya.

Namun jangan karena alasan itu lalu kita tidak mau mendengar masukan dan nasihat orang lain. Sesungguhnyalah kemampuan dan pengetahuan semua manusia sangat terbatas. Tidak ada manusia yang sempurna dan terbebas dari kekurangan. Oleh karena itu, kita selalu memerlukan pendapat dan pemikiran orang lain, dalam rangka menguatkan, memperkaya atau mendapatkan ide baru yang kita perlukan. Maka dengarkanlah pendapat, masukan, nasihat, usulan, arahan dari orang lain. Itu semua akan memberikan manfaat bagi anda.

Jangan dibuat bingung jika pendapat, masukan, usulan yang anda terima sangat beragam dan berbeda-beda. Bahkan kadang berlawanan satu dengan lainnya.

Memilih yang Terbaik

Yang kita perlukan kemudian adalah kemampuan memilih. Ya, kita harus memilih masukan, pendapat, usulan atau nasihat yang sangat beragam tadi. Karena kadang tidak mungkin menggunakan semua, apabila masukan yang anda terima saling berlawanan satu dengan yang lainnya.

Misalnya, anda dihadapkan kepada pilihan pekerjaan. Ada dua instansi yang menerima lamaran anda, dan anda harus memilih salah satu. Anda bimbang, karena keduanya sangat anda inginkan. Maka anda bertanya dan meminta masukan dari orang-orang yang anda percaya.

“Kamu pilih saja instansi A, karena gajinya lebih tinggi. Jangan pilih B, karena di situ gajinya lebih rendah”, kata seorang teman.

“Kamu pilih saja instansi B, karena waktunya lebih longgar sehingga kamu bisa melakukan hal yang lain. Kalau kamu pilih A, waktu kamu habis untuk kerja. Kamu tidak memiliki waktu yang cukup untuk mengerjakan berbagai hal lainnya”, kata teman pula.

“Menurutku, sebaiknya kamu tidak terima keduanya. Lebih baik kamu daftar lagi di lembaga C, di sana lebih cocok dengan potensimu”, kata teman yang lain lagi.

Bukankah anda tidak perlu bingung dengan banyaknya pendapat dan masukan seperti ini ? Anda hanya perlu kemampuan untuk memilih, dari sekian banyak masukan dan nasihat, pilih yang paling kuat alasannya, masuk akal bagi anda, dan sesuai dengan kecenderungan jiwa anda.

Ada enam lelaki datang meminang anda, dan anda bingung harus menerima pinangan siapa. Semua punya kelebihan, semua punya kelemahan. Maka anda berkonsultasi kepada banyak teman dan senior, tentu jawaban mereka sangat beragam. Pada akhirnya pilihan kembali kepada anda sendiri, karena anda yang harus mempertanggungjawabkan semua pilihan tersebut, di dunia maupun di akhirat.

Ini untuk jenis pilihan yang bersifat bebas, dimana anda bebas memilih yang manapun, karena semua pilihan tersebut tidak membawa anda kepada dosa dan kerusakan. Tidak pula merugikan dan mencelakakan orang lain. Namun kadang bertemu jenis pilihan yang bersifat mengikat, tidak bebas, karena pilihannya sangat terbatas.

Misalnya, apakah akan ikut mabuk atau tidak, di saat berada dalam lingkungan dimana banyak orang mabuk di lingkungan itu. Kalau tidak ikut mabuk, khawatir dianggap tidak lazim, karena tidak mengikuti kebiasaan lingkungan.

Apakah akan ikut korupsi atau tidak, saat berada dalam lingkungan birokrasi atau instansi yang mengembangkan perilaku korupsi. Jika tidak mau korupsi, khawatir nanti akan menjadi musuh bersama karena dianggap tidak kompak dengan teman sejawat yang hobi melakukan korupsi.

Apakah akan ikut judi atau tidak, di saat berada di sebuah negara yang mendorong warganya untuk berjudi. Jika tidak ikut berjudi, khawatir dianggap aneh, karena semua masyarakat berjudi.

Ketika menghadapi pilihan semacam itu, pertanyaan yang harus anda ajukan untuk mendapatkan masukan dan nasihat adalah, “Bagaimana caranya saya tidak ikut mabuk, namun justru bisa membawa perubahan kebaikan bagi lingkungan sekitar ?” Bukan pertanyaan, “Saya ikut mabuk atau tidak ?”

Pertanyaan anda adalah, “Bagaimana agar saya tetap istiqamah tidak korupsi, namun saya tetap bisa berada di instansi tersebut untuk melakukan perbaikan ?” Bukan pertanyaan, “Saya ikut korupsi atau tidak ?”

Pertanyaan anda adalah, “Bagaimana caranya agar saya tidak ikut judi, namun bisa berinteraksi secara wajar dengan masyarakat dan bisa membawa mereka menuju kebaikan?” Bukan pertanyaan, “Saya ikut berjudi atau tidak ?”

Kebaikan dan Kompetensi

Oleh karena itu, yang harus anda mintai pendapat, masukan, dan nasihat adalah orang-orang yang anda percaya kebaikannya dan kompetensinya. Bukan orang baik yang tidak kompeten, atau orang punya kompetensi tapi tidak baik. Jika terpaksa tidak ada yang memenuhi dua kulifikasi itu, anda harus mendengarkan masukan secara terpisah, untuk anda himpun sendiri nantinya. Anda meminta masukan dari orang baik, berikutnya anda meminta masukan dari orang kompeten, ketika keduanya tidak menyatu.

Ya, bagaimanapun anda harus mendengarkan masukan, nasihat dan pendapat, namun anda harus memiliki kemampuan untuk memilih berbagai pendapat tersebut yang membawa anda menuju kepada kebaikan, dan menjauhkan anda dari keburukan. Semua pilihan, akhirnya anda sendiri yang harus memutuskan, setelah mendapatkan banyak masukan dari orang-orang yang terpercaya.

Jika ternyata pilihan anda kelak terbukti salah atau tidak tepat, setidaknya anda merasa telah melakukan usaha yang maksimal dengan meminta pendapat banyak orang terpercaya sebelum memutuskan pilihan. Namun jika anda tidak pernah meminta pertimbangan dan pendapat siapapun, maka kesalahan dalam menentukan pilihan akan terasa semakin berat dampaknya. Inilah salah satu manfaat meminta dan mendengarkan pendapat orang-orang terpercaya di sekitar anda.

 

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan