Bekal Menjalani Lockdown

Bekal Menjalani Lockdown

Oleh : Komunitas SukaQur’an

 

Berikut bekal menjalani lockdown, antara yang kita tahu dan yang kita kerjakan dari pesan-pesan Rasulullah saw. Ternyata, tidak semua yang kita tahu, telah kita amalkan dalam kehidupan.

 

*******

 

Ibnul Qoyyim pernah bercerita tentang seorang wanita pembantu keluarga yang meninggal dunia di suatu pagi akibat terinveksi wabah Tho’un. Malam harinya bapak sang wanita mimpi bertemu dengan putri kesayangannya, lalu dia bertanya, “Apa yang menarik tentang akhirat wahai putriku?”

Sang putri menjawab dengan wajah muram, “Wallahi, satu kali bertasbih dan satu rokaat witir jika tertera dalam catatan amalku, jauh lebih aku dambakan ketimbang indahnya dunia dengan segala kekayaannya”.

Sungguh, sang pembantu telah mengucapkan kesaksian yang sangat mengejutkan….  Kita telah sering mendapat info fadlilahnya dari banyak sumber, namun kita belum faham bahwa kedudukan dan nilai tasbih dan witir sedahsyat dan seberharga itu..

Ternyata, kita sudah sering mendapat info bahwa kalimat “subhanallahi wabihamdihi” jika diucapkan 100 kali dalam sehari semalam, dengan sepenuh hati, maka Allah akan mengampuni dosa-dosa kita meskipun sebanyak buih di laut. Hari-hari kita jalani silih berganti antara siang dan malam , tapi kalimat itu belum biasa terucap dari mulut manis kita sebanyak bilangan yang disebut Nabi, berupa jelmaan panggilan hati, sebagai testimoni  tentang apa yang telah kita tahu siapa Allah, pencipta kita.

Kita pernah mendapat info dari banyak literatur bahwa dua rekaat shalat dluha itu pahalanya setara dengan 360 kali shodaqoh. Hari-hari kita lewati menyambut pagi dengan kebugaran tubuh  di atas rata-rata, namun masih jarang kondisi fit itu kita  gunakan untuk ruku’ di waktu dluha meskipun hanya dua reka’at kecuali jika kita benar-benar sudah sangat kepepet, menanti bantuan Allah.

Kita pernah mendengar bahwa menjenguk dan mendoakan orang sakit itu akan membuat kita didoakan oleh 70 ribu malaikat agar semua dosa-dosa kita diampuni Allah. Hingga hari ini rasanya masih jarang  kita sempat  melakukannya dengan tulus tanpa keinginan meraih imbalan selain dari reward  Allah.

Kita pernah tahu bahwa siapapun yang membaca Al Qur’an, perhurufnya akan dibalas satu kebaikan dari sisi Allah, dan satu kebaikan itupun akan digandakan menjadi 10 kebaikan lagi. Namun kita belum juga dapat mengalokasikan waktu utama kita (prime time kita) untuk membaca Al Qur’an meskipun hanya untuk  satu halaman saja setiap pagi dan sore.

Kita sudah sangat tahu bahwa kemulyaan seorang mukmin akan ditingkatkan Allah jika menunaikan shalat malam secara rutin. Dan kitapun sudah sering mendengar bahwa Rasulullah dan para sahabatnya tidak pernah melewatkan malamnya kecuali selalu menunaikan shalat malam hingga akhir hayatnya, sesibuk apapun dan seletih apapun mereka saat itu.

Bahkan antara letihnya berjuang menyabung  nyawa menegakkan agama Allah, dan berjuang  membiayai perjuangan dan menafkahi keluarganya pun tidak mereka jadikan alasan untuk meninggalkan shalat malam. Namun kita masih sering melewatkan malam tanpa tahajjud, bahkan menyematkan rencana bangun lebih awal agar dapat bertahajjud pun  sering kita lupakan.

Kita sering mendapat info kematian orang-orang yang kita kenal, kadang kitapun ikut mengantar jenazah, bahkan sampai terlibat prosesi menguburkannya. Namun kita belum juga optimal dalam menyiapkan bekal  menyongsong kematian kita sendiri, dan orang-orang yang kita cintai, seolah nama-nama kita tidak akan masuk dalam daftar orang-orang yang akan segera didatangi malaikat pencabut nyawa dalam waktu dekat ini.

Bahkan kita sering mendengar pesan Nabi bahwa siapapun yang menunjukkan jalan menuju kebaikan kepada orang lain, kitapun akan mendapatkan pahala yang sama dengan pelakunya, tanpa mengurangi pahala dia sedikitpun. Tidakkah saat-saat seperti ini, merupakan waktu yang tepat  untuk kembali menyapa kerabat kita, sahabat kita dan seluruh handai tolan kita yang selama membersamai kita, agar  segera sama-sama merapat kepada Allah dengan sejumlah cara yang diajarkan Rasulullah saw, junjungan kita.

Selagi lockdown, jangan lewatkan sejumlah amal tersebut.  Semoga kelak menjadi habbit kita meskipun tidak lagi di lockdown .

 

Bahagia Bersama Qur’an

Salam hangat dari komunitas SukaQur’an

 

ruangkeluarga

Tinggalkan Balasan