Oleh: Cahyadi Takariawan
Pada saat peristiwa hijrah dari Mekah menuju Madinah, Nabi saw mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan Anshar. Saat itu, Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan Sa’ad bin Ar-Rabi’ Al-Anshari.
Dikisahkan, Sa’ad Al-Anshari memiliki dua orang istri dan terkenal sebagai orang kaya. Karena telah dipersaudarakan, Sa’ad ingin memberikan hal terbaik bagi Abdurrahman.
Sa’ad menawarkan istri dan hartanya kepada Abdurrahman. Sa’ad bersedia membagi harta yang diinginkan Abdurrahman dan bersedia menceraikan istri yang dipilih oleh Abdurrahman.
Atas tawaran itu, Abdurrahman bin ‘Auf menjawab,
بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فِى أَهْلِكَ وَمَالِكَ ، دُلُّونِى عَلَى السُّوقِ
“Semoga Allah memberkahi keluarga dan hartamu. Cukuplah tunjukkan kepadaku di manakah pasar?”
Abdurrahman tidak menerima tawaran Sa’ad, meskipun ia mengetahui bahwa tawaran itu tulus ikhlas karena mengharap ridha Allah semata. Sekilas, tawaran itu memang tampak aneh. Namun pada dasarnya, itu menunjukkan kesungguhan Sa’ad dalam membantu saudaranya.
Maka ditunjukkanlah kepada Abdurrahman pasar di Madinah. Sebagai warga baru, Abdurrahman belum mengetahui di mana letak pasar. Sejak diberi tahu lokasi pasar, ia berdagang hingga mendapat keuntungan yang banyak dari berdagang keju dan samin.
Suatu hari Nabi saw melihat Abdurrahman. Pada pakaiannya tampak bekas warna kuning. Ini adalah bekas wewangian perempuan, yang biasa dipakai ketika hari pernikahan.
“Apa yang terjadi padamu wahai Abdurrahman?” tanya Nabi saw.
“Wahai Rasulullah, saya telah menikahi seorang wanita Anshar,” jawab Abdurrahman.
“Berapa mahar yang engkau berikan kepadanya?” tanya beliau saw.
“Aku memberinya mahar emas sebesar buah kurma (sekitar lima dirham),” jawab Abdurrahman.
Nabi saw bersabda,
أَوْلِمْ وَلَوْ بِشَاةٍ
“Selenggarakan walimah walaupun dengan seekor kambing” (HR. Bukhari no. 2049, 3937 dan Muslim no. 1427).
Kisah di atas—salah satunya, memberikan pelajaran tentang etos kerja. Jika Abdurrahman mau, ia bisa memilih untuk mendapat bagian harta dari Sa’ad. Tidak perlu susah-susah bekerja, ia akan mendapat pembagian harta dari saudaranya seiman. Bahkan tidak perlu mencari istri, ia bisa memilih istri Sa’ad yang ia sukai.
Namun itu bukan karakter pejuang. Abdurrahman adalah sosok pejuang tangguh. Ia memilih untuk bekerja dari nol. Meninggalkan seluruh aset kekayaannya di Mekah, ia memulai usaha baru di Madinah.
Dengan ketulusan dan kesungguhan, usaha Abdurrahman berkembang hingga bisa mendapatkan kekayaan yang halal. Ia menjadi pengusaha sukses, pun mudah mendapatkan istri tanpa mengambil istri sahabatnya.
Sebuah pelajaran penting tentang etos kerja. Pantang bagi seorang muslim duduk diam berpangku tangan. Pantang bagi seorang muslim hanya berkeluh kesah apalagi berputus asa dalam menjalani kehidupan.