.
Oleh : Cahyadi Takariawan
“With short sentences, the listener gets the whole thing in one go. Easy to remember. Easy to understand. More powerful communication.” – Changing Minds
.
Banyak penulis yang memiliki kebiasaan membuat kalimat sangat panjang. Saking asyiknya menulis, sampai ia lupa memberi titik. Kata-kata disusun, sambung menyambung, kadang di sela dengan koma, dan setelah lama membaca baru ketemu titik. Rasanya sangat lelah membaca kalimat panjang. Ini cenderung menjadi barrier bagi pembaca.
Sebenarnya, dalam tulisan populer, boleh-boleh saja membuat kalimat panjang. Jadi, ini bukan soal boleh atau tidak boleh. Namun ini soal barrier –sesuatu penghalang yang membuat pembaca tidak nyaman. Pada tulisan yang diposting di blog atau web, jika pembaca merasa tidak nyaman, akan langsung menutup blog kita untuk mencari tulisan di blog yang lain.
Seperti Apa Kalimat Pendek?
Ketika menyebut istilah kalimat pendek di sini, saya tidak mendasarkan diri pada kaidah kebahasaan yang baku. Sebab kalimat pendek dalam konteks kebahasaan biasanya dipahami sebagai kalimat yang tidak bisa dipecah lagi menjadi kalimat-kalimat lain.
Misalnya, kalimat yang hanya terdiri dari satu kata, maka ia tidak bisa dipecah lagi menjadi kalimat lain. Perhatikan contoh kalimat pendek berikut.
Pergi!
Bubar!
Merdeka!
Braakkk!
Semua contoh di atas adalah kalimat pendek, karena sudah tidak bisa dibagi lagi menjadi kalimat lain yang lebih pendek. Nah, yang saya maksud pada pembahasan kali ini, bukan kalimat pendek seperti itu.
Kalimat pendek yang saya maksudkan dalam tulisan ini, adalah kalimat yang tidak panjang. Biasanya, saya menggunakan ukuran kalimat ‘nyaman’ itu pada 20 kata. Jika satu kalimat terdiri dari lebih dari 20 kata, saya sebut dengan kalimat panjang. Jika kurang dari 20 kata, saya sebut kalimat pendek.
Saya tidak membedakan dengan ukuran yang lebih rinci, misalnya kalimat panjang, kalimat sedang dan kalimat pendek. Supaya sederhana dan mudah saya bagi dua saja, kalimat panjang dan kalimat pendek, dengan ambang batas pada 20 kata.
Nah, ketika saya mengajak Anda berlatih membuat kalimat pendek, ini bukan soal benar dan salah. Batas ambang 20 kata itu bukan aturan PUEBI, itu hanya soal kenyamanan pada masyarakat cyber yang ketika membaca, lebih suka kalimat dan paragraf pendek.
Sekali lagi, soal kenyamanan membaca. Bukan soal aturan kebahasaan. Semaksimal mungkin dalam menulis kita memperhatikan kenyamanan pembaca, agar bisa bernapas dengan lega. Membaca tulisan tanpa terengah-engah dan lelah, sehingga bisa membaca sampai selesai.
Memecah Kalimat Panjang
Jika Anda sedang menulis, fokus saja pada proses menulis. Tidak perlu menghitung jumlah kata. Tidak perlu menghitung jumlah kalimat. Tidak perlu peduli panjang dan pendek, benar atau salah, bagus atau tidak. Pokoknya, tulis saja.
Nah, setelah selesai menulis, saatnya Anda melakukan editing. Proses mengedit yang paling penting bagi seorang penulis, adalah editing isi. Ini yang disebut sebagai substansial editing. Memastikan bahwa isi tulisan Anda sudah sesuai dengan pesan yang Anda maksudkan.
Setelah substansial editing, Anda bisa mulai mengedit secara teknis kepenulisan. Salah satunya adalah mencari kalimat-kalimat panjang dalam tulisan Anda. Apabila Anda menemukan kalimat panjang, lebih dari 20 kata, apalagi lebih dari 30 kata, bisa Anda pecah menjadi dua kalimat atau lebih.
Mengapa perlu dipecah? Karena kalimat yang terlalu panjang –apalagi jika itu menjadi kalimat pertama, ini akan menjadi barrier atau penghalang. Membuat pembaca tidak nyaman, tersekat, dan bisa memutuskan untuk tidak melanjutkan membaca.
Oleh karena itu, kalimat pertama dan paragraf pertama, karena menjadi pembuka, harus membuat nyaman pembaca. Bikin kalimat pendek. Bikin paragraf pendek.
Praktik Memecah Kalimat Panjang
Mari saya ajak Anda mempraktikkan secara langsung, bagaimana cara memecah kalimat panjang. Berikut adalah tulisan karya salah satu peserta Kelas Menulis Online (KMO) Basic dan Antologi. Saya ambilkan satu kalimat, pada kalimat pertama saja.
—————————————
Perjuangan Tanpa Batas
Sore itu perasaanku sangat kacau, kesedihanku begitu menekan batinku, aku menangis sambil berulang kali melihat kamar ketiga putriku, sunyi menekan tak ada tawa, tak ada canda, semuanya sirna, serasa diri ini sendiri dalam keterasingan.
—————————————–
Kita hitung jumlah kata dalam satu kalimat di atas. Ada 34 kata. Coba dihitung lagi, benar gak wordcount saya? Membacanya serasa lelah, kurang bernapas.
Nah, ini contoh kalimat panjang –apalagi terletak di kalimat pertama pada paragraf pertama, yang sangat menentukan. Ini harus dipecah menjadi dua atau tiga kalimat pendek. Bahkan bisa lebih dari itu.
Berikut saya berikan contoh, dari satu kalimat tersebut, saya bagi menjadi enam kalimat. Mari simak.
Sore itu perasaanku sangat kacau. Kesedihanku begitu menekan batin. Aku menangis sambil berulang kali melihat kamar ketiga putriku. Sunyi menekan, tak ada tawa. Tak ada canda. Semuanya sirna, serasa diri ini sendiri dalam keterasingan.
Kita hitung ya…
Sore itu perasaanku sangat kacau (1). Kesedihanku begitu menekan batin (2). Aku menangis sambil berulang kali melihat kamar ketiga putriku (3). Sunyi menekan, tak ada tawa (4). Tak ada canda (5). Semuanya sirna, serasa diri ini sendiri dalam keterasingan (6).
Kalimat pertama terdiri lima kata. Kalimat kedua terdiri empat kata. Kalimat ketiga terdiri sembilan kata. Kalimat keempat terdiri lima kata. Kalimat kelima terdiri tiga kata. Kalimat keenam terdiri delapan kata.
Dengan dibagi menjadi kalimat pendek seperti ini, akan lebih nyaman bagi pembaca. Dalam contoh di atas, satu kalimat panjang bisa dibagi menjadi enam kalimat pendek. Efek bagi pembaca, lebih lega, karena bisa bernapas.
Sekarang, mari saya ajak Anda berlatih. Simak tulisan berikut, saya ambil dari tulisan salah seorang peserta Kelas Menulis Online (KMO) Basic.
————————————
Hiduplah Sebagai Manusia yang Beragama
Menyikapi kondisi radikalisme yang begitu marak di bangsa dan negara ini, seolah olah manusia tergoda untuk tidak mempercayai agama itu sendiri, meskipun tatanan pengertian dari agama itu sendiri mengacu pada suatu tindakan atau sikap yang teratur, tertib, terarah datang kepada Yang Maha Kuasa, namun kenyataannya hakekat pengertian pengertian ini terkikis sedikit demi sedikit hingga nila nilai dari agama itu sendiri tidak mendominasi manusia tetapi manusia yang memaksa kehendaknya untuk menaruh nilai nilai itu sesuai kebutuhan keegoisan secara prinsip pada perorangan tertentu.
———————————————-
Kita hitung jumlah kata dalam satu kalimat di atas. Ada 81 kata. Membaca kalimat yang amat panjang pasti akan cepat lelah, kurang oksigen. Bahkan satu kalimat panjang di atas, telah menjadi satu paragraf sendiri. Nah, Anda harus belajar membuat kalimat pendek.
Tugas Anda, pecahlah satu kalimat di atas menjadi beberapa kalimat, agar menjadi kalimat pendek. Dengan memecahnya, membuat lebih indah, lebih nyaman, lebih memberikan keleluasaan bernapas bagi pembaca.
Anda bisa melakukannya? Coba saja.
.
Bahan Bacaan
Changing Minds, Short Sentences, www.changingminds.org