Kembali
Habit Menulis

Belajar Writing Sprint dari Chris Fox (6)

.

Oleh : Cahyadi Takariawan

“When you need to write fast, you need to sprint. Use timers to set up your writing sprints. You can set a timer on your phone, in a separate browser tab, or even use an old-school kitchen timer you wind up” –Lindsay Kramer, 2021.

.

Sebenarnya, aktivitas menulis adalah sebuah maraton, bukan perlombaan adu cepat. Anda menikmati proses menulis, berlama-lama, sambil meninjau kata demi kata sampai menemukan yang paling tepat. Anda melakukan hal itu tanpa merasa ada sesuatu yang hilang, karena Anda memiliki banyak waktu dan kesempatan.

Mungkin itu karena Anda adalah pensiunan, yang sudah tidak memiliki ritme kerja rutin di kantor. Atau Anda sudah berada dalam situasi “bebas finansial” sebagaimana sering dikatakan oleh Robert Kiyosaki. Anda benar-benar bebas melakukan apapun, karena tidak ada lagi target materi yang harus Anda kejar. “Uang sudah bekerja untuk Anda”, itu istilah Kiyosaki.

Namun, apakah kondisi Anda sudah mencapai posisi itu? Sudah pensiun, atau sudah berada dalam kondisi bebas finansial? Jika belum, berarti Anda tidak memiliki banyak waktu. Anda sangat sibuk mengurus sangat banyak hal, sehingga tidak punya waktu untuk menulis.

Nah, jika kondisi Anda seperti ini, yang Anda perlukan adalah menulis cepat dalam waktu yang terbatas. “Ketika Anda perlu menulis dengan cepat, Anda harus melakukan sprint”, ungkap Lindsay Kramer.

Menulis Dengan Target

“I’m a pulp writer, and I write at pulp speed. Pulp writing requires speed. We have to put out books fast because we have to pay rent” –Chris Fox.

Chris Fox, pencetus ide writing sprint yang mampu menghasilkan 5.000 kata setiap jam, menyebut dirinya sebagai “pulp writer”. Penulis pulp alias bubur kertas, di mana buku dicetak dengan kertas dan harus dijual hingga habis dan menghasilkan keuntungan. Jika buku tidak laku akan dilebur atau didaur ulang menjadi bubur kertas.

Berbeda dengan penulis ebook atau buku format PDF yang tidak memerlukan kertas. Apabila ebook tidak laku dijual, tidak akan menumpuk dan tidak perlu didaur ulang menjadi bubur kertas. Nyaris tak ada kerugian material yang berarti jika ebook tidak laku di pasaran.

Untuk jenis pulp writer, harus berkejaran dengan target. “Saya seorang pulp writer, maka saya menulis dengan kecepatan bubur kertas. Menulis membutuhkan kecepatan,” ujar Chris Fox. Jika Anda tidak dikejar target apapun, maka tak ada pentingnya untuk menulis cepat.  

“Kita harus cepat-cepat menerbitkan buku karena kita harus membayar sewa. Dibutuhkan waktu untuk menyisihkan sebuah buku sehingga Anda dapat melakukannya dengan adil dan mengeditnya dengan cara yang seharusnya. Penulis pulp sering kali tidak memiliki waktu untuk hal-hal seperti itu”, ungkap Fox.

Bagi Fox, makin cepat menulis, berarti makin banyak buku bisa diciptakan dalam satu satuan waktu. Dengan demikian, peluang untuk mendapatkan keuntungan material menjadi lebih besar. Inilah contoh target yang memicu Fox bekerja keras, melalui writing sprint.

Dalam satu jam, ia harus bisa menulis 4.000 hingga 5.000 kata. Sementara ia hanya punya waktu satu jam setiap hari untuk menulis. Inilah contoh target itu, yang harus berhasil dilampaui.

Memberi Hadiah untuk Pencapaian Target

“For many writers, sprinting is easiest when there’s an incentive to reach the finish line. If you’re one of these writers, reward yourself for reaching your word count goals” –Lindsay Kramer, 2021.

Karena Anda memiliki target penulisan, maka sangat layak jika Anda memilih melakukan writing sprint. Anda tidak sedang berada dalam “masa pensiun”, pun mungkin banyak di antara Anda yang belum mencapai titik bebas finansial. Tugas dan pekerjaan harian kita masih sangat banyak. Belum lagi urusan keluarga dan anak-anak. Semua memerlukan perhatian.

“Bayangkan diri Anda adalah seorang sprinter yang berlari dengan kecepatan penuh menuju garis finis, saat Anda tengah menulis kata-kata sebanyak mungkin dalam slot waktu yang terbatas”, ungkap Kramer. Seperti lomba lari sprint yang jaraknya terbatas, Andaharus berlari sekuat tenaga dan sekencang mungkin. Ini sangat berbeda dengan lari maraton yang jaraknya sangat jauh.

“Think of yourself as a sprinter bolting full speed toward the finish line as you write as many words as you can within the time slot you’ve allotted yourself” –Lindsay Kramer, 2021.

Anda tidak perlu mematok waktu yang panjang untuk setiap sesi menulis. Tentukan waktu sesuai kondisi dan situasi yang Anda hadapi. “Persingkat waktu sprint Anda dan ambil waktu jeda dengan istirahat sejenak di antara sesi”, ujar Kramer. Ini seperti model Pomodoro, di mana harus ada jeda istirahat setiap akan berganti sesi.

“Menyelesaikan tugas penulisan Anda, bisa jadi harus melakukan beberapa sprint atau beberapa sesi. Anggap saja hal ini sebagai pemanasan dalam perlombaan Anda menuju garis finis”, tambahnya. Jika Anda ambil satuan waktu Monica Leonelle dengan 8 menit, maka Anda bisa melakukannya beberapa sesi hingga selesai naskah Anda.

“Be strict with yourself! No rewards unless and until you reach your goal” –Lindsay Kramer, 2021.

Menurut Kramer, writing sprint paling mudah dilakukan ketika ada dorongan untuk mencapai garis finis. “Jika Anda termasuk salah satu dari penulis tipe sprint, hadiahi diri sendiri ketika telah mencapai target jumlah kata yang Anda tetapkan”, ungkap Kramer. Adalah hal yang membahagiakan dan patut dirayakan, saat Anda berhasil mencapai finis kepenulisan sesuai target yang Anda tentukan.

Namun Kramer mengingatkan, agar Anda bersikap tegas terhadap diri sendiri. “Tidak ada hadiah kecuali dan sampai Anda mencapai tujuan”, ujarnya.

Bahan Bacaan

Chris Fox, 5,000 Words Per Hour: Write Faster, Write Smarter, https://chris-fox-writes.ck.page

Lindsay Kramer, How to Write Faster: 8 Tips to Improve Your Writing Speed, https://www.grammarly.com, 4 Oktober 2021

Thomas Umstattd Jr, How to Write 5000 Words an Hour with Chris Fox, https://www.authormedia.com, 28 Agustus 2018

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.