Oleh: Cahyadi Takariawan
Patutkah engkau takut menghadapi kesulitan hidup, sementara Allah telah berjanji memberikan kepadamu kemudahan? Pantaskah engkau mengeluhkan kesulitan, padahal Allah telah berjanji akan memberimu jalan keluar?
Allah Maha Mengetahui, bahwa kehidupan manusia akan menghadapi berbagai kesulitan. Jangankan manusia biasa seperti kita. Bahkan manusia terbaik sepanjang zaman, Nabi Muhammad saw, pun menghadapi kesulitan.
Pada dasarnya, Allah selalu menghendaki kemudahan, dan tidak menghendaki kesulitan. Sebagaimana dalam firmanNya,
يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ
“Allah menghendaki kalian kemudahan dan tidak menghendaki kesulitan” (QS. Al-Baqarah: 185).
Bahkan dalam beragama, Allah juga tidak menghendaki kesulitan pada hamba. Sebagaimana firmanNya,
وَجَاهِدُوْا فِى اللّٰهِ حَقَّ جِهَادِهۗ هُوَ اجْتَبٰىكُمْ وَمَا جَعَلَ عَلَيْكُمْ فِى الدِّيْنِ مِنْ حَرَجٍۗ مِلَّةَ اَبِيْكُمْ اِبْرٰهِيْمَۗ هُوَ سَمّٰىكُمُ الْمُسْلِمِيْنَ ەۙ مِنْ قَبْلُ وَفِيْ هٰذَا لِيَكُوْنَ الرَّسُوْلُ شَهِيْدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُوْنُوْا شُهَدَاۤءَ عَلَى النَّاسِۖ فَاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَاٰتُوا الزَّكٰوةَ وَاعْتَصِمُوْا بِاللّٰهِ ۗهُوَ مَوْلٰىكُمْۚ فَنِعْمَ الْمَوْلٰى وَنِعْمَ النَّصِيْرُ
“Dia telah memilih kamu, dan Dia tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama” (QS. Al-Hajj: 78).
Ibnu Katsir menafsirkan ayat di atas, “Allah tidak membebani kalian melainkan sebatas kemampuan. Tiada sesuatu yang dibebankan kepada kalian kemudian kalian merasa berat atasnya, melainkan Allah sediakan jalan keluarnya.”
Allah telah menjamin akan memberikan kemudahan, setiap kali manusia bertemu kesulitan. Allah berfirman,
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Maka sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”.
إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah: 5 – 6).
Para ahli tafsir menjelaskan, ayat ini berkaitan dengan kesulitan yang dihadapi oleh Nabi saw. Allah berkenan menenangkan Nabi saw dengan dua ayat ini, bahwa setiap ada kesulitan pasti ada kemudahan.
Dalam ayat yang lain, Allah juga telah berfirman yang menguatkan hal ini.
سَيَجْعَلُ اللَّهُ بَعْدَ عُسْرٍ يُسْرًا
“Allah akan memberikan kemudahan setelah kesulitan” (QS At-Thalaq : 7).
Sebagaimana sabda Nabi saw,
وَأَنَّ النَّصْرَ مَعَ الصَّبْرِ، وَأَنَّ الْفَرَجَ مَعَ الْكَرْبِ، وَأَنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا
“Dan sesungguhnya pertolongan datang bersama dengan kesabaran, kelapangan datang bersama penderitaan, dan sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan” (HR Ahmad no 2803).
Dalam ayat ke-5 dan ke-6 surat Al-Insyirah di atas, Allah telah menyatakan dengan sepenuh kesungguhan bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan.
Para ulama menjelaskan, betapa kuat pesan Allah –bahwa setiap kesulitan pasti ada kemudahan, yang terkandung dalam dua ayat berturutan tersebut.
Pertama, Allah mengawali ayat ini dengan kata إِنَّ (inna –sesungguhnya). Ini memberikan penekanan bagi kalimat yang akan disebutkan setelahnya. Bahwa kalimat yang disebutkan setelah inna, adalah kalimat yang kuat.
Berbeda antara kalimat “Bersama kesulitan ada kemudahan”, dengan kalimat “Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan”. Kalimat yang diawali dengan sesungguhnya, memiliki kekuatan yang lebih besar.
Kedua, Allah mengulangi kalimat tersebut dua kali, dengan maksud untuk benar-benar menekankan. Coba perhatikan, bahwa ayat ke-5 dan ayat ke-6 surat Al-Insyirah adalah pengulangan. Jika kalimat yang sama diulangi dua kali, artinya merupakan hal yang sangat ditekankan.
Kalau saya menyatakan, “Sungguh pelajaran ini sangat penting”, dalam satu kali mengucapkan, akan berbeda nilai kekuatannya dengan apabila saya mengulanginya dua kali. Kalimat sama, diulangi dua kali, menandakan betapa kuat dan penting pesan yang disampaikan.
Ketiga, Allah menyebutkanالْعُسْرِ (al-‘usri) dalam bentuk ma’rifah, yaitu kata diawali oleh alif lam. Huruf alif lam dalam konteks ini adalah alif lam al-‘ahdiyah, sehingga الْعُسْرِ (al-‘usri) yang disebutkan di bagian kedua, pada dasarnya adalah الْعُسْرِ (al-‘usri) yang sama dengan yang telah disebutkan di bagian pertama. Dengan kata lain, الْعُسْرِ (al-‘usri) yang kedua adalah الْعُسْرِ (al-‘usri) pertama yang disebutkan kembali. Keduanya adalah sama, berarti hanya ada satu kesulitan.
Hal ini berbeda dengan kata يُسْرًا (yusran) yang disebutkan dalam bentuk nakirah, yang berakhiran tanwin. Artinya, يُسْرًا (yusran) yang kedua berbeda dengan يُسْرًا (yusran) yang pertama. Ini adalah dua kemudahan yang berbeda.
Kesimpulannya, kesulitan (al-‘usri) itu hanya disebutkan satu kali, karena keduanya adalah sama. Sedangkan kemudahan (yusran) disebutkan dua kali, karena keduanya adalah berbeda. Dalam setiap satu kesulitan, Allah sediakan dua kemudahan.
Jika setiap satu kesulitan mendapat dua kemudahan, lalu apa yang harus engkau khawatirkan? Allah begitu baik kepada hambaNya. Tidak ingin melihat hambaNya berada dalam kesulitan dan kesusahan.
Maka Allah sediakan dua kemudahan untuk setiap satu kesulitan yang dialami. Maka sebagian ulama salaf mengatakan,
لَنْ يَغْلِبَ عُسْرٌ يُسْرَيْنِ
“Tidak mungkin satu kesulitan bisa mengalahkan dua kemudahan” (Tafsir Al-Baghawi).
Keempat, Allah menggunakan kalimatمَعَ (ma’a) yang bermakna ‘bersama’. Hal ini menunjukkan bahwa datangnya kemudahan adalah segera, setelah muncul kesulitan. Tidak perlu menunggu waktu lama, dan tidak berjarak panjang.
Sedemikian dekat jarak antara kesulitan dengan kemudahan yang Allah datangkan, seorang sahabat Nabi, Ibnu Mas’ud ra menyatakan,
لَوْ دَخَلَ الْعُسْرُ فِي جُحْرٍ، لَجَاءَ الْيُسْرُ حَتَّى يَدْخُلَ عَلَيْهِ
“Seandainya kesulitan itu masuk ke dalam sebuah lubang, maka kemudahan akan datang dan ikut masuk bersamanya” (Tafsir At-Thabari).
Ayat ke-5 dan ke-6 dari surat Al-Insyirah telah memberikan pengertian dan penguatan yang sangat dahsyat. Bahwa apabila engkau menghadapi kesulitan dan engkau bertakwa kepada Allah, pasti kemudahan akan datang kepadamu. Bahkan dua kemudahan telah Allah sediakan.
Maka jangan gelisah saat menghadapi kesulitan hidup. Periksa saja ketakwaanmu, karena Allah telah berfirman,
وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا
“Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya” (QS Ath-Thalaq : 2).
Terlebih lagi, kesulitan yang disebutkan dalam dua ayat di atas mencakup seluruh bentuk dan jenis kesulitan. Tidak dibatasi hanya jenis kesulitan tertentu.
Karena lafal الْعُسْرِ (al-‘usri) diawali dengan “alif lam” yang menunjukan al-istghraq (umum, general). Ini menandakan mencakup seluruh jenis kesulitan, dan juga menunjukan betapapun berat, besar dan kerasnya kesulitan dalam kehidupan, maka ujungnya adalah kemudahan (Tafsir As-Sa’di).
Tak ada yang perlu engkau takuti. Kesulitan hidup hanya perlu engkau hadapi dengan ketakwaan. Kemudahan pasti Allah berikan dua kali lipat, dibandingkan setiap kesulitan yang engkau hadapi.
Bahan Bacaan
Firanda Andirja, Tafsir Surat Al-Insyirah, https://bekalislam.firanda.com