Bersyukur atas Karunia Anak

Bersyukur atas Karunia Anak

Oleh : Hasan Faruqi

 

Salah satu tuntunan Islam adalah memperbanyak syukur. Sebagaimana difirmankan oleh Allah dalam Al-Qur’an:

حَتَّى إِذَا بَلَغَ أَشُدَّهُ وَبَلَغَ أَرْبَعِينَ سَنَةً قَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَى وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَصْلِحْ لِي فِي ذُرِّيَّتِي إِنِّي تُبْتُ إِلَيْكَ وَإِنِّي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“…sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa Rabbi auzi’ni an asykura ni’matakallati an’amta ‘alayya wa ‘ala walidayya wa an a’mala shalihan tardhahu wa aslih li fi dzurriyyati. Ya Rabbku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridhai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (QS. Al-Ahqaf: 15)

Di antara hal yang harus disyukuri adalah nikmat berupa anak keturunan. Allah berikan karunia kepada kita berupa anak, adalah nikmat yang luar biasa agung. Sebab, hanya Allah yang bisa memberi kehidupan dengan lahirnya anak-anak. Maka hendaklah selalu bersyukur atas kehadiran anak dan selalu berusaha menjaga agar menjadi anak-anak salih.

Ada beberapa ciri orangtua yang bersyukur atas karunia anak, di antaranya adalah selalu mengingat nikmat-nikmat Allah yang ada pada anak kita. Dari mulai jasadnya sampai kondisi jiwanya. Setiap pertumbuhan fisiknya adalah nikmat yang ada pada anak kita. Sibuklah mengingat nikmat-nikmat itu, walaupun memang tidak akan pernah selesai terhitung. Inilah cara yang paling mudah dan paling utama untuk bisa bersyukur dalam semua keadaan.

Ghassan bin al-Mufadhdhal al-Ghalallabi menceritakan, ‘sebagaian sahabat kami telah menceritakan kepada kami, bahwa ada seorang lelaki yang mendatangi Yunus bin Ubaid untuk mengadukan kesulitannya dalam hidup, dan kondisinya yang terjepit dan ia merasa gundah dengan semua itu.

Yunus menanggapinya dengan berkata, “Apakah engkau suka bila penglihatanmu dibeli dengan harga seratus dirham?” Ia menjawab, “Tentu tidak.”

“Bagaimana pendengaranmu?.” Ia menjawab, “Tentu tidak.”

“Bagaimana kalau lidahmu?.” Tanya beliau lagi. Ia menjawab, “Juga tidak.”

Beliau bertanya lagi, “Bagaimana dengan otakmu?.”

“Juga tidak, meskipun sedikit”, jawabnya.

Kemudian beliau mengingatkan dirinya akan nikmat-nikmat Allah yang lainnya. Setelah itu Yunus menandaskan, “Aku melihat engkau memiliki (nilai) berates-ratus dirham tapi engkau masih juga mengeluh.”

Ayah bunda, seringkali syukur itu sulit hadir dalam diri kita karena kita sibuk dengan kekurangan, kesulitan atau musibah dalam hidup tapi lalai mengingat nikmat-nikmat Allah. Dan itu pula yang sering terjadi pada diri orangtua ketika menghadapi anak-anaknya.

Seringkali kita lupa mengingat nikmat-nikmat Allah pada diri dan anak kita sehingga syukur itu hilang dari kehidupannya. Akhirnya hilanglah banyak kebaikan dan lahirlah beragam kesulitan.

Ada kisah yang senada dengan Yunus bin Ubaid. Ini terjadi pada seorang bunda ketika mengeluhkan kekesalan pada suaminya.

“Dreeeeeddd…..”

“Dreeeeeddd…..”

HP nya bergetar, tak bersuara nada panggil. Ada nomor yang masuk memanggilnya.

Dilihatnya adalah nomor istrinya. Biasanya ia tak mau untuk menerima panggilan telepon ketika tilawah. Apalagi sedang I’tikaf tahunan Ramadhan di masjid yang id pilih semenjak beberapa minggu sebelumnya. Tapi karena istrinya, ia pun menghentikan sejenak tilawah nya.

“Ya…Bun…”, katanya lanjut setelah menjawab salam istrinya.

“Yah, si kakak….” itulah kalimat awal yang terlontar dari istrinya dengan menyebut panggilan bagi anak pertamanya yang perempuan.

“Ada apa dengan kakak?” ia jawab dengan nada rendah untuk coba membuka obrolan agar istrinya lebih terbuka dan ringan untuk melanjutkan ceritanya.

“Kakak bikin kesel,” ujar sang istri. Mulailah ia curhat dengan suara yang berat seperti ada sesuatu yang ditahan dari dadanya.

“Kesel kenapa sayang?” tanya nya lanjut.

“Coba ayah bayangkan. Bunda udah capek-capek masak selesai nyuci pakaian anak-anak dan punya kita. Eh pas mau makan si kakak bilang ‘makan nya ini lagi ini lagi’. Padahal kerjaan nya saja yang dijanjikan belum dikerjain. Ketika disuruh bantu bunda kerjaan rumah, malah bilang ‘nggak mau ah’.Kesel bunda teh. Nggak ngerasain si kakak mah….”

 

Mulai pecah perasaannya. Terdengar suara tangisnya perlahan-lahan tapi kemudian deras.

Dia coba menarik nafas. Sebagai seorang suami, ia coba respon dengan mencari kata-kata yang pas agar tidak menyinggung perasaan istrinya yang sedang mengeluhkan anaknya itu.

“Bun….. Pasti bunda capek yah…Kesal yah…?”

Setelah terdengar tangisnya agak reda. Suaminya melanjutkan kembali obrolannya.

“Pasti ayah juga kayak bunda kalau ngadepin si kakak kayak gitu”

“Bun…. boleh nggak nanya?” Suaminya mencoba mengendalikan emosi setelah di awal tadi berusaha untuk berempati.

“Kenapa gitu yah. nanya apaan?”

“Adakah kebaikan yang kakak lakukan hari ini?”

“Hhhmmmm…” istrinya mencoba mengingat-ngingat beberapa peristiwa di hari itu.

“Emang ada apa?” Tanya istrinya dengan penasaran.

“Nggak, ayah cuma nanya ajah”.

“Ada nggak?” Tanya dia kedua kalinya. Agar istrinya punya jawaban yang benar-benar terlontar dari mulutnya.

“Ada. Tadi kakak beresin kamarnya”, mulai istrinya menjawab apa yang diinginkan.

:Lalu?” ia lontarkan lagi pertanyaannya.

“Oh iya, kakak tadi bantuin bunda mandiin de’ San. Terus kakak juga yang nyuapinnya.”

Mulailah istrinya merunut beberapa kebaikan anak pertamanya yang ia ingat pada hari itu.

“Kakak sehat? Kakak masih bisa makan? Kakak masih bisa senyum? Kakak sholat? Kakak masih bisa kita lihat? Kakak masih bisa main dengan adik-adiknya? Coba bandingkan dengan anak-anak tetangga kita yang lagi sakit. Lihat anak-anak orangtua lain yang akhlaknya lebih bermasalah dibandingkan anak kita.”

Istrinya sudah mulai paham dengan lontaran pertanyaannya. Ia hanya diam, amarahnya yang sudah membuncah lalu perlahan reda sekarang terasa punya kekuatan kembali untuk lebih tenang, lebih rileks.

“Sayang, ayah tahu bunda pasti kesal, itu wajar, tidak salah. Tapi ingat. Anak kita milik Allah. Allah-lah yang menggerakan hati anak-anak kita. Dan ternyata Allah masih memberikan banyak nikmat untuk anak-anak kita.”

Istrinya mulai terdengar kembali ada air mata yang keluar. Bukan amarah dan kekesalan, tapi kesedihan dan  penyesalan.

Dengan suara yang tegas dan sedikit menasehati istrinya, ia lalu lanjutkan kata-katanya.

“Sayang, jika kekurangan anak kita adalah kegelapan dan kelebihan anak kita adalah cahaya, maka perkuatlah cahayanya agar gelapnya hilang bukan sibuk menghilangkan gelap karena cahayanya belum tentu terang”.

“Sayang. Inilah orangtua yang bersyukur. Mereka yang mengingat nikmat-nikmat Allah yang ada pada anaknya. Coba pandang mereka sekali lagi ketika tidur. Bukan berarti bunda nggak boleh marah, kesal, sedih, sakit hati. Bukan itu. Tapi jangan sampai itu semua menghilangkan rasa syukur kita pada Allah karena telah memberikan nikmatnya lebih banyak pada anak-anak kita dibandingkan perbuatan mereka yang membuat kita kesal atau marah.”

“Ayah, kenapa bunda lupa dengan hal ini?” Tangisnya belum reda.

“Maafin ayah yang tidak nemenin bunda di sana ya sayang…”

“Nggak apa-apa yah…” jawabnya

“Yah, makasih sudah mau dengerin keluhan bunda. Makasih sudah ngingetin bunda. Jangan bosan ya….”

“Sama-sama sayang,” Itulah kalimat penutupnya.

Ayah bunda, tak ada alasan untuk tidak bersyukur, karena selama nafas masih ada maka sebanyak itulah nikmat itu menyertai. Bahkan terkadang kematian pun adalah kenikmatan. Karena bisa jadi Allah matikan seseorang hambaNya untuk diistirahatkan dari kelelahan dunia atau kejahatan maksiat.

Oh iya. Mau nanya nih sedikit. Nggak usah dijawab dengan lisan yah. Apalagi teriak, nanti disangka stress lagi, hehehe, cukup dilisan lalu renungkan. Dalam sehari semalam, manakah yang lebih  menyibukan diri kita; mengingat-ngingat nikmat yang belum ada (diinginkan) atau yang sudah ada (diberikan oleh Allah)?. Hayyo jawab. Ingat, dalam hati aja. Sssttttt…

Untuk lebih mudah mengingat nikmat Allah, ada baiknya kita renungi sabda nabi Muhammad saw berikut ini,

انظروا إلى من هو أسفل منكم ولا تنظروا إلى من هو فوقكم ، فهو أجدر أن لا تزدروا نعمة الله عليكم

 

“Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu (dalam masalah ini). Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

 

Gambar / ilustrasi : https://muslim.sg/

Cahyadi Takariawan

Cahyadi Takariawan telah menulis lebih dari 50 judul buku yang sebagian besarnya bertema keluarga. Aktivitasnya saat ini selain menulis adalah menjadi narasumber dalam berbagai seminar dan pelatihan di dalam dan luar negeri. Mendirikan Jogja Family Center (JFC) pada tahun 2000 sebagai kontribusi untuk mengokohkan keluarga Indonesia. Kini JFC bermetamorfosis menjadi Wonderful Family Institute. Beliau dapat diakses melalui Instagram @cahyadi_takariawan

Tinggalkan Balasan