Kembali
Positive Writing

Bertanggung Jawab atas Tulisan

.

Oleh: Moh. Anis Romzi

“Ada pahala atas kebajikan sebaliknya ada dosa atas keburukan. Inilah pembatas tanggung jawab menulis” — Moh. Anis Romzi

.

Segala sesuatu ada pertanggung jawabannya. Ini karena hidup adalah amanah dari Sang Maha Pencipta. Sebuah amanah harus ditunaikan dengan baik apabila tidak ingin membuat pemberi amanah murka.

Penunaian amanah adalah bukti kesungguhan seorang hamba. Reda adalah harapan tertinggi. Termasuk kegiatan menulis wajib dipertanggungjawabkan baik kepada Allah maupun sesama manusia. Bertanggung jawab atas tulisan sama halnya bertanggung jawab pada kehidupan.

Menulis itu rekaman diri jangka panjang. Saat sang penulis telah tiada pun tulisan akan tetap hidup. Ia merupakan jejak kehidupan sang penulis. Hanya yang pernah hidup yang diberikan hak oleh Allah untuk menulis dirinya sendiri maupun yang lain.

Senyampang hidup bertanggung jawablah pada diri dengan menulis. Pertanggungjawaban ini menjadi alat ukur kapasitas diri selama hidup. Menulis memanjangkan umur lebih lama dari usia jasad. Catatan untuk dibagi hendaknya tulisan itu bermanfaat dan baik.

Ada yang melihat dari setiap yang kita lakukan. Termasuk yang kita tulis. Tidak ada yang luput dari pengawasan-Nya. Setiap kata yang terproduksi saat menulis ada pertanggungjawaban. Pada hakikatnya setiap guratan pena dan jemari ada Yang menuntun.

Maka menulis kebaikan dan bertanggungjawab menjadi wajib hukumnya. Karena menulis adalah kehidupan itu sendiri. Bukankah kita dicipta untuk hidup bertanggungjawab mengabdi kepada-Nya. Tulislah yang terbaik dan bermanfaat untuk kehidupan Anda.

Penuhi tanggung jawab menulis dengan menyampaikan kebenaran. Menulis kebenaran bisa tentang apa saja. Begitu banyak ilmu bertebaran di muka bumi yang belum tercatat. Ini sejalan dengan kehidupan itu sendiri. Tema menulis tidak akan pernah habis. Ini sama dengan sifat-Nya al-‘ilmu.

Andai air laut di seluruh muka bumi dijadikan tinta, dan pepohonan dijadikan pena, tidak akan mampu untuk mencatat ilmu-Nya yang tidak terbatas. Catat manfaatnya dan bagi pada sesama untuk kehidupan yang lebih baik. Jadi apakah masih ada alasan untuk tidak bisa menulis?

Anda yang menulis Anda yang bertanggung jawab.  Betul sekali, dalam menulis ada keberanian yang harus dipertaruhkan. Berapa banyak orang yang harus rela berurusan dengan penjara karena menulis. Bahkan lebih berat dari itu.

Yakini bahwa ada risiko yang harus ditanggung atas yang kita tulis. Berkenaan dengan tanggung jawab ini berkaitan dengan keyakinan sang penulis itu sendiri. Keyakinan diri penulis bahwa yang ditulis adalah kebenaran, bermanfaat, dan menebar kebaikan. Apa saja ada risikonya, mempersiapkan diri atas risiko adalah keharusan. Niat tertinggi hanya karena Dia dalam menulis, itu akan menguatkan.

Siapkan diri menghadapi segala risiko yang ada. Keyakinan yang kuat pada-Nya adalah tujuan utama. Ini adalah sumber keberanian tertinggi. Sandarkan tujuan menulis hanya untuk beribadah kepada-Nya, Anda akan kuat. Kesiapan ini akan melahirkan sikap anti baper.

Penilaian manusia akan sangat beragam ketika menerima tulisan. Ini bergantung pada kapasitas dan kecerdasan mereka dalam membaca setiap pesan yang tersampaikan. Penulis ataupun pembaca yang sensitif bisa saja akan terbawa pada rasa emosional. Keduanya saat menulis maupun membaca dalam melahirkan respon. Bersiaplah atas apa saja yang terjadi dari tulisan Anda.

Ada pahala atas kebajikan sebaliknya ada dosa atas keburukan. Inilah pembatas tanggung jawab menulis. Siapa saja yang menulis karena Allah berbagi manfaat kebaikan, Allah telah menyiapkan pahala yang tidak terputus.

Menulis dapat menjadi sedekah jariyah bagi empunya. Bertanggungjawab dalam menulis adalah ibadah

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 03/10/2020

.

Ilustrasi : www.medium.com

Ditulis oleh Cahyadi Takariawan

Dipublikasikan di Ruang Menulis. Kanal kreasi naskah, literasi, dan karya tulis terpilih.