.
@ Cahyadi Takariawan
“Aku sama sekali tidak pernah mengira,” ujar Aida, “bahwa seseorang bisa dicekik dari jemarinya”. Ungkapan ‘putus asa’ Aida ini diucapkan saat ia dipaksa menerima tunangan seorang lelaki yang tak dicintainya.
Aida sudah memiliki pilihan. Seorang lelaki idaman hati. Ia tidak pernah menyangka bahwa cintanya harus kandas di tangan orangtuanya sendiri. Sangat menyakitkan.
Orangtua sering menggunakan logika kuasa. Mereka banyak tak mau tahu sakitnya kehilangan cinta. Dengan mudah dan enteng saja menolak pinangan lelaki pilihan anak gadisnya. Atau menolak perempuan pilihan anak lelakinya.
Aida adalah tokoh utama dalam novel “Ila Rahilah” karya Yusuf As-Siba’i. Sebuah novel yang menceritakan sakitnya kehilangan cinta. Saat itu dipaksa menerima pinangan itu, Aida merasa seperti tengah dikalungi tali kasar yang siap menggantungnya di tiang gantungan.
Nukilan kisah novel tersebut saya ambil dari buku karya Adham Syarqawi dalam buku “50 Undang-Undang Cinta” (2025). Sebuah buku melankolis dan romantis, yang mengupas tuntas 50 undang-undang cinta.
Apakah kehilangan cinta itu sakit? Ya, sakit. Sangat sakit. Studi modern telah membuktikan itu.
Studi Tentang Rasa Sakit Hati
Beberapa tahun lalu sekelompok dokter di Universitas Johns Hopkins melaporkan penyakit jantung yang langka, namun mematikan. Penyakit ini disebabkan oleh tekanan emosional yang akut. Secara medis dikenal sebagai stress cardiomyopathy, tetapi netizen suka menyebutnya sebagai broken heart syndrome alias sindrom patah hati.
Studi neuroimaging menunjukkan bahwa daerah otak yang terlibat dalam pemrosesan rasa sakit fisik, tumpang tindih dengan sakit yang muncul dari penderitaan batin. Hubungannya begitu kuat, sehingga obat penghilang rasa sakit fisik tampaknya mampu menghilangkan luka-luka emosional.
Memahami kesamaan mendasar antara rasa sakit fisik dan psikis menimbulkan perspektif baru di dunia kesehatan mental, tentang isu-isu seperti, mengapa bisa muncul ‘sakit’ karena kehilangan seseorang yang kita cintai. Cinta benar-benar bisa menyakitkan, seperti sakitnya terluka secara fisik, bahkan lebih sakit lagi.
Ilmu psikologi menyebut bahwa rasa sakit fisik memiliki dua komponen yang terpisah. Ada komponen sensorik, yang memberikan informasi dasar tentang kerusakan, seperti intensitas dan lokasinya. Ada juga komponen afektif, merupakan interpretasi yang lebih kualitatif dari cedera, seperti seberapa menyedihkannya cedera itu.
Sebuah penelitian yang dipimpin oleh Zhansheng Chen di Universitas Purdue (2008) mencoba mencari perbedaan sakit fisik dan psikis dalam serangkaian percobaan. “Temuan kami menegaskan bahwa rasa sakit psikis mudah dihidupkan kembali, sedangkan rasa sakit fisik tidak,” demikian laporan Zhansheng yang diunggah dalam Psychological Science edisi 2008.
Namun berita baiknya, “At least for all the hurt love causes, it has an equally powerful ability to heal”. Untuk semua penyebab cinta yang terluka, cinta memiliki kemampuan yang sama kuatnya untuk menyembuhkan (Eric Jaffe, 2013).
Sakit Itu Bisa Terbawa Hingga Akhir Usia
Adham Syarqawi (2025) menuliskan kisah sedih yang dituturkan seorang ibu. “Aku pernah menolak seorang gadis yang dicintai anak lelakiku. Kemudian aku menikahkan anak lelakiku itu dengan gadis lain, pilihanku”.
“Aku mengira dia tidak menaatiku dan akan melawanku bersama gadis itu, karena aku tidak pernah memohon perlindungan untuk ankku darinya sama sekali”, sambung si ibu.
“Gadis itu tetap berdiri tegak dan tegar antara diriku dan anakku. Sekalipun sudah limabelas trahun berlalu, tetapi aku bisa melihat gadis itu di kedua mata anakku, dalam kesedihannya di depan pintu ruang pernikahan. Aku melihat gadis itu setiap kali anakku datang marah-marah kepada istrinya…” lanjut sang ibu.
“Anakku membencinya, sedangkan aku mencintai istrinya”, pungkasnya.
Kisah ini sangat menyayat hati, melelehkan jiwa siapapun yang masih punya perasaan. Namun cerita ini tak ada gunanya bagi mereka yang tak punya perasaan. Adham Syarqawi menuliskan kisah ibu tersebut untuk menasehati para orangtua agar tak bersikap semena-mena terhadap anak mereka.
“Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan anak-anak perempuan dan anak-anak laki-laki kalian. Jangan kalian memaksa merekamenikah dengan orang yang tak mereka cintai. Jangan memisahkan merekadari orang yang mereka cintai”, tulis Syarqawi.
“Dengan tindakan tersebut kalian tidak hanya menzalimi mereka saja, tetapi juga menzalimi orang yang kalian paksa menikah dengan mereka. Manusia menikmati hidup dengan hatinya, bukan dengan jasadnya”, imbuh Syarqawi.
Luka Bisa Menghadirkan Cahaya
Benar, hati dan perasaan kita bisa terluka. Pikiran kita bisa terluka. Tubuh bisa terluka. Namun semua bisa disembuhkan, dengan mekanisme penyembuhan yang berbeda-beda.
Menurut Stephen Hopkins (2001), pikiran (dan perasaan) manusia jauh lebih sulit untuk diobati daripada tubuh mereka. Hal ini karena jiwa manusia mempunyai kapasitas untuk merasionalisasi, mengabaikan atau menyangkal hal-hal yang tidak menyenangkan jika hal itu bertentangan dengan persepsi diri.
Tak jarang manusia menolak (denial) luka-luka mereka. Dengan jiwa yang telah lama terluka, mereka mengatakan “aku tidak apa-apa”, atau “aku baik-baik saja”. Mungkin mereka menganggap luka itu menyedihkan. Luka itu memprihatinkan, dan luka adalah kelemahan. Maka banyak orang mengingkari bahwa diri mereka terluka.
Padahal, luka itulah yang menghasilkan cahaya. Luka akan menumbuhkan pengetahuan, kebijaksanaan, dan pengalaman spiritual. Luka adalah salah satu pintu hadirnya perasaan Ketuhanan dan sekaligus kemanusiaan.
Seperti kata Rumi, “The wound is the place where the Light enters you“. Luka adalah tempat di mana Cahaya masuk ke dalam dirimu, ujar Rumi.
Maka biarkan cahaya itu memasuki jiwamu, melalui luka. Karena tanpa luka, hidupmu tak akan sempurna. Kamu tak akan mendapatkan kebijaksanaan apa-apa jika takpernah terluka.
Bahan Bacaan
Adham Syarqawi, 50 Undang-Undang Cinta, Robbani Press, Jakarta, 2025. Pesan buku: https://forms.gle/i47SvYQ5XLzQM4V7A