Oleh : Cahyadi Takariawan
Konon, pada zaman dulu, wanita Jepang memandang aktivitas mendidik anak sama penting dan sama profesionalnya dengan para wanita karier di perusahaan atau instansi bergensi. Di Jepang dikenal istilah “Ryosai Kentro” yang artinya istri yang baik dan ibu yang arif. Sebuah pernyataan yang menggambarkan posisi strategis, peran dan tanggungjawab seorang ibu atas segala sesuatu yang terjadi di dalam rumah tangga. Menggambarkan sosok seorang ibu sebagai manajer rumah tangga sekaligus pendidik utama bagi anak-anaknya.
Apa motivasi wanita Jepang pada waktu itu, yang rela melepas karir profesionalnya, demi memilih menjadi ibu rumah tangga? Jawabannya ada pada konsep “Kyoiku Mama”, yaitu ibu adalah sekolah bagi anak-anak. Dalam bahasa Arab dikenal istilah “Al Ummu Madrasatun”, ibu adalah madrasah utama bagi anak-anaknya. Proses aktif Kyoiku Mama secara langsung terlibat dalam pembangunan karakter bangsa Jepang. Kyoiku Mama meletakkan dasar pendidikan moral dan perilaku sejak dini kepada anak-anaknya di rumah.
Begitu sentral peran seorang ibu dalam kehidupan manusia, sampai Nabi Saw memberikan posisi yang sangat mulia untuk para ibu. Diriwayatkan dari Mu’awiyyah bin Jahimah, bahwasannya ia datang kepada Rasulullah Saw untuk bertanya.
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ جَاهِمَةَ السَّلَمِيِّ أَنَّ جَاهِمَةَ جَاءَ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَدْتُ أَنْ أَغْزُوَ، وَقَدْ جِئْتُ أَسْتَشِيْرُكَ. فَقَالَ: هَلْ لَكَ مِنْ أُمٍّ؟ قَالَ: نَعَمْ. قَالَ: فَالْزَمْهَا، فَإِنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ رِجْلَيْهَا
Ia berkata, “Wahai Rasulullah Saw, aku hendak berperang, maka aku datang untuk meminta pendapatmu”. Rasulullah Saw menjawab, “Apakah engkau mempunyai ibu?” Jawabnya, “Iya”. Lalu Rasulullah Saw bersabda, “Berbuat baiklah kepadanya. Sesungguhnya surga itu berada di bawah kedua kakinya”. Hadits Riwayat Imam An Nasa’i dan Ath Thabarani dengan sanad hasan. Al Hakim menshahihkan hadits tersebut dan disetujui oleh Imam Adz Dzahabi serta Imam Al Mundziri.
Ibu, Pendidik Terbaik Bagi Anak-anaknya
Telah diyakini bahwa ibu merupakan madrasah terbaik bagi anak-anaknya. Ibu adalah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anaknya, sosok pertama pula yang memberikan rasa aman dan nyaman serta sosok yang dia percaya. Karena itu, ibu menjadi sekolah petama bagi anak-anaknya. Peran ibu dalam mendidik anaknya ini sangat penting karena dapat menentukan kualitas generasi masa depan suatu masyarakat dan negara.
Salah satu aspek penting keberhasilan dalam pendidikan anak adalah adanya kedekatan fisik dan emosional antara seorang ibu dengan anaknya. Secara alami, kedekatan fisik dan emosional ibu dengan anaknya sudah terjalin sejak anak berada dalam kandungan, menyusui dan masa pengasuhan. Kasih sayang seorang ibu merupakan jaminan awal untuk tumbuh kembang anak dengan baik dan aman.
Karena itu, ibu mempunyai peran yang penting dan mulia dalam mendidik anak sejak usia dini. Untuk bisa menjalankan peran ini, Allah telah memberikan konstruksi yang khas pada diri ibu berupa kemampuan untuk hamil, menyusui serta naluri keibuan. Allah juga menetapkan anjuran kepada para ibu untuk menyusui anaknya selama dua tahun, mengamanahkan para ibu untuk mengasuh anaknya selama masa pengasuhan (hadhanah), yaitu sampai anak bisa mengurus dirinya.
Setelah anak mulai memasuki bangku sekolah, setiap ibu hendaknya mengetahui kegiatan yang dilakukan anak-anaknya agar dapat mengontrol dan memberikan arahan terhadap kegiatan yang dilakukan anak. Dengan menjalin komunikasi yang baik, ibu dapat mengetahui semua kegiatan anaknya. Selalu meluangkan waktu pada sore atau malam hari pada saat istirahat untuk berbagi cerita tentang kegiatan yang telah dilalui pada hari tersebut merupakan suatu moment yang sangat baik bagi ibu untuk dapat mengarahkan anaknya menuju kemuliaan.
Sebuah studi menunjukkan, bahwa secara umum anak merasa tidak nyaman ketika ia pulang mendapati ibunya tidak berada di rumah. Perasaan ini menunjukkan adanya kedekatan hubungan antara anak dan ibunya. Anak-anak ketika pulang ke rumah selalu berharap dapat bertemu ibunya untuk mendapatkan kasih sayang dan perhatian. Tetapi bila anak pulang tidak pernah bertemu ibu, rumah selalu dalam keadaan sepi, hal ini dapat membuat anak mencari pelarian untuk melampiaskan perasaannya. Lambat laun perasaan tidak nyaman itu akan hilang karena keberadaan ibu sudah tidak lagi diharapkan karena dapat digantikan oleh teman-teman pergaulannya.
Ibu Harus Sekolah
Ibu adalah madrasah pertama dan utama anak sejak masih dalam kandungan. Sembilan bulan janin bersama ibu, mendapat asupan nutrisi dan kasih sayang dari ibu. Dilahirkan dan disusui oleh ibu, maka setiap anak akan selalu lekat dengan sosok ibu. Hingga anak menjadi dewasa akan selalu terikat perasaannya kepada ibu. Maka sebagai ibu, para istri salihah harus menyadari sepenuhnya beban dan tanggung jawab besar ini dalam dirinya. Bersama dengan suami, melaksanakan tugas peradaban mendidik dan menyiapkan calon pemimpin masa depan. Semua dimulai dari peran seorang ibu.
Melihat peran penting ibu, sudah semestinya para ibu tidak berhenti belajar. Teruslah belajar untuk menjadi ibu yang smart dan salihat. Sangat banyak ilmu pengetahuan, sejak dari yang berupa pondasi paling mendasar, sampai hal-hal praktis, perlu ibu ketahui dan kuasai, agar bisa menjalankan peran dengan baik. Jangan pernah merasa rugi belajar hingga S1, S2 atau S3, namun ujungnya “hanya” menjadi ibu rumah tangga. Bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja dan berkarier, akan tetapi jangan sampai menganggap rendah ibu rumah tangga yang full time mengurus anak-anaknya.
Bayangkan, ada perempuan hebat, lulusan S3 dari Universitas ternama di luar negeri, namun anak-anaknya lebih sering diasuh pembantu atau baby sitter. Sementara ada pula doktor lulusan S3 dari Universitas ternama di luar negeri, yang mengajar, mengasuh dan mendidik langsung anak-anaknya di rumah. Betapa senang dan cerdas si anak, diasuh oleh guru istimewa, doktor lulusan luar negeri. Sekali lagi, bukan berarti perempuan tidak boleh bekerja dan berkarier, akan tetapi jangan sampai menganggap rendah ibu rumah tangga yang full time mengurus anak-anaknya.
Sekolah Ibu
Nah, jangan berhenti belajar, demi masa depan anak-anak tercinta. Salah satu sarana terus belajar itu adalah kegiatan Sekolah Ibu, yang saat ini sudah memiliki jaringan di berbagai kota. Awalnya kegiatan Sekolah Ibu diinisiasi oleh Ustadzah Maya Novia, Lc., MA di Kota Malang. Dalam perjalanannya, Sekolah Ibu mulai dibuka di Kota Samarinda, Binjai, Pangkalan Bun, dan Yogyakarta. Bahkan sudah ada cabang Sekolah Ibu di Kairo, Mesir. Di tahun 2019 ini akan dilaunching Sekolah Ibu di Jakarta, Bandung, Bogor, Semarang, Makassar, Medan, Surabaya, Solo dan beberapa kota lainnya.
Sekolah Ibu mendidik para ibu dan calon ibu, sejak dari aktivitas di ruang kelas mempelajari ilmu-ilmu dasar seperti aqidah, ibadah, akhlaq, juga materi wawasan, dan ketrampilan. Aktivitas lainnya adalah diskusi kelompok, praktek mengurus bayi, praktek merawat kecantikan, serta ketrampilan lain yang sangat beragam. Kegiatan Sekolah Ibu di Yogyakarta, memadukan antara aktivitas offline berupa tatap muka langsung, dengan aktivitas online, yaitu diskusi melalui grup chatting.
Narasumber Sekolah Ibu terdiri dari para pakar dan praktisi berbagai bidang, seperti ustadzah Maya Novia, Lc., MA, Dr. Jalal Muhsin, Cahyadi Takariawan, Ida Nurlaila, Dr. Warih Andan Puspitosari, Sp.Kj (K), Pihasniwati, M.Psi., Dwi Triyono SH, dan lain-lain. Mereka mendampingi para peserta Sekolah Ibu, hingga ketika sudah menjadi alumni Sekolah Ibu, dengan berbagai ilmu, wawasan dan ketrampilan.
Untuk informasi terkait Sekolah Ibu bisa didapatkan melalu akun facebook ”Sekolah Ibu”, dan akun instagram @sekolah.ibu. Khusus untuk Sekolah Ibu Yogyakarta, segera dimulai Sekolah Ibu Yogyakarta (SIY) batch 2 tahun 2019. Link pendaftaran . Narahubung Anita, nomer HP / WA 0822 2093 0734. Silakan segera daftar, hanya untuk 80 peserta.
Bahan Bacaan :
Cahyadi Takariawan, Istri Salihah, Mendidik Anak Sepenuh Jiwa, Kompasiana, 3 Februari 2015
Cahyadi Takariawan, Istri Salihah, Madrasah Terbaik untuk Anak, Kompasiana, 4 Februari 2015
Ken Hirai, Di Balik Anak yang Hebat Selalu Ada Ibu yang Hebat, Kompasiana, 21 April 2013