.
Catatan Isoman Hari Ke – 6
Oleh : Cahyadi Takariawan
.
Alhamdulillah, tidak terasa, hari ini Rabu 11 Agustus 2021, saya memasuki hari keenam isoman. Kondisi masih aman terkendali. Biasalah ada pusing, radang tenggorokan, dan lemas.
Dalam suasana pusing dan lemas, bisakah kita menulis dengan cepat? Bisa. Mengapa harus cepat? Karena selama masa isoman harus banyak istirahat. Tidak boleh terforsir kegiatan yang membuat lelah.
Bagaimana tekniknya agar bisa menulis dengan cepat? Berikuit beberapa tips agar Anda mampu menulis dengan cepat, terlebih selama isolasi mandiri.
Tips Menulis Cepat
Berikut beberapa tips agar Anda bisa menulis dengan cepat. Satu menit bisa menulis 20 sampai 40 kata. Dengan demikian tulisan sepanjang 500 kata hanya perlu waktu 12,5 sampai 25 menit saja. Ringkas kan?
Apalagi jika hanya menarget 200 kata, berarti hanya perlu waktu 5 sampai 10 menit saja. Ini hitungan yang realistik untuk mereka yang tengah mengalami isolasi mandiri. Bagaimana caranya?
- Pilih tema yang mudah
Ada sangat banyak tema bisa Anda tulis. Di masa isoman, pilih tema ringan dan mudah saja, agar tidak menjadi beban. Tema-tema berat, simpan dulu saja. Untuk ditulis setelah selesai masa isoman.
Apa tema yang mudah dan ringan? Yaitu tema yang berasal dari kehidupan kita sendiri, atau dari lingkungan sekitar kita. Kita akan sangat mudah menuliskan sesuatu yang menjadi kehidupan kita sendiri, atau sesuatu yang kita alami dan kita rasakan.
- Buat mengalir saja
Anda tidak perlu berpikir rumit tentang struktur tulisan yang hendak Anda buat. Buat mengalir saja. Tuliskan sesuai irama jiwa Anda, itu akan lebih mengena dan bisa melibatkan ketajaman rasa.
Momentum sakit adalah luar biasa. Kita tidak boleh berharap sakit, namun jika Allah takdirkan kita mengalami, hadapi dan nikmati saja. Suasana isoman memberikan kedalaman perenungan, pemikiran dan perasaan.
- Jangan berhenti untuk mengedit
Jika Anda tergoda untuk mengedit, saya jamin Anda tidak akan bisa menulis dengan cepat. Yang membuat Anda bisa menulis cepat adalahg ketika Anda terus menerus menulis, tanpa peduli adanya kesalahan tulisan.
Setelah selesai menulis, barulah Anda baca ulang dari awal sampai akhir. Di saat itulah, Anda mulai mengedit atau menyunting.
- Ciptakan satu kesatuan makna
Bukan soal panjang atau pendeknya tulisan, tapi soal kesatuan makna yang harus tercipta. Meski hanya 100 kata, namun mampu membentuk kesatuan makna. Artinya, makna atau pesan dari tulisan Anda mudah dipahami pembaca.
Ketimbang ingin menulis panjang, namun justru tidak bisa menyelesaikan. Sehingga terkesan terputus, pesan belum bisa ditangkap oleh pembaca.
- Abaikan daftar pustaka
Selama masa isoman, Anda tidak perlu menyibukkan diri dengan mencari referensi. Semua tulisan Anda –baik fiksi maupun nonfiksi, bisa Anda hadirkan tanpa referensi atau daftar pustaka.
Mengapa demikian? Karena semua isi tulisan bermula dari pikiran, perasaan dan pengalaman pribadi. Tidak mengambil dari sumber rujukan manapun.
- Terus menulis, jangan berpikir
Salah satu ‘kekeliruan’ para pemula adalah terlalu banyak berpikir. Ini yang membuat sangat banyak orang tidak pernah menulis apapun –termasuk ketika mereka dalam kondisi sehat-sehat saja.
Mereka terlalu rumit berpikir, misalnya, apa yang akan saya tulis? Tema apa yang bagus? Apakah tulisan saya menarik? Apakah tulisan saya bisa membawa manfaat bagi orang lain? Bagaimana cara menulis?
Terlalu banyak berpikir membuat tidak pernah menulis. Selama masa isoman, Anda tidak perlu berpikir. Mengalir saja, mengayun saja, mengetik saja. Tanpa terasa, tulisan telah selesai kita cipta.
Kapan berpikirnya? Nanti kalau sudah selesai isoman. Anda leluasa menulis yang melibatkan kedalaman pemikiran. Sementara isoman, menulis saja apa adanya.
- Tuliskan pesan kebaikan
Keluarga dan teman Anda sangat ingin mengetahui perkembangan Anda selama masa isoman. Maka tuliskan pesan kebaikan kepada mereka. Ajak semua orang berpikiran optimistik, berpikiran positif, untuk menghadapi wabah dengan tepat dan bijaksana.
Jangan menuliskan hal-hal buruk dan negatif. Masyarakat dan bangsa Indonesia sangat perlu dimotivasi untuk segera sehat dan bangkit melawan pandemi.
Selamat istirahat, selamat menebar manfaat.