Cegah Dia Jadi Egois

Cegah Dia Jadi Egois

By.Ida Kusdiati

Pagi ini udara Pontianak terasa sangat dingin karena semalaman hujan terus mengguyur kota. Perlahan langit mulai merona dengan guratan awan tipis di sana. Angin semilir yang menyentuh pepohonan menyibakan aroma segar pagi hari khas dedaunan tropis. Tubuh mungil itu sudah siap dengan perlengkapannya, melihat sejenak ke teras meyakinkan bahwa suara sahabat kecilnya sudah ada di sana.

Kembali masuk ke rumah, dengan wajah polos menghiba menarik ujung baju ku yang lagi asyik dengan setumpuk cucian perangkat memasak pagi ini.

“Ma, Azka boleh main di luar ya. Sudah ada teman-teman di depan pagar,” ujarnya dengan suara merayu.

“Lagian Azka kan sudah mandi dan sarapan, jadi bolehkan, Ma,” suaranya mulai sedikit meninggi karena aku masih diam seribu bahasa.

“Nanti jam 10, Azka ada G Meet dengan Ustazah loh,” jawabku mengingatkannya.

“Iya, Azka tahu. Nanti minta Abang susul Azka di rumah Ikis, mainnya sekitar situ aja kok Ma,” jawabnya lagi dengan setingan muka memelas khas Azka.

“Janji ya, orang muslim janji ndak boleh ingkar lo, Az. Allah nggak suka,” ujarku melirik ke arahnya.

“Ya, Ma… bolehkan tapi ya!” ujarnya kembali ke selera asal.

“Dasar nih anak.” Bathin ku.

“Boleh, tapi hati-hati ya, mainnya yang solehah!” jawabku dengan mimik serius. Azka sudah paham makna solehah yang dalam pikirannya “jadi anak baik.”

“Ok, Ma!” Cus tanpa basa-basi Azka langsung pergi. Aku hanya mampu menghela napas dan melepasnya dengan basmallah moga Allah senantiasa menjaganya.

Aku lanjut dengan kegiatan rumah. Berselang 30 menit kemudian, sekonyong-konyong Azka pulang dengan mimik tak sedap dipandang. “Ada apakah gerangan?” Tanya ku dalam hati.

“Eh..tumben sudah pulang, kok cepat banget, Az?” tanya ku heran.

“Males, mainnya ndak asyik!” Jawabnya ketus.

Abang yang mendengar suara Azka, mesem-mesem di belakang ku.

“Mama, Abang..!” seru Azka sambil menunjuk kearah abang.

“Abang kenapa?” tanya ku lagi.

“Tadi tuh Azka kesel ama teman, jadi lempar pasir nggak sengaja kena teman, Abang marah ke Azka,” jawabnya mencari pembelaan.

“Eh, lempar pasir itu nggak boleh, kalau kena mata teman gimana ayo? Azka mau kalau mamanya marah, kan mendingan Abang yang marah. Terus Abang suruh minta maaf, Ma. Azkanya ndak mau,” jawab abang panjang kali lebar.

Aku tersenyum kalau sudah berdua ini berdebat. Seringkali karena merasa paling kecil Azka selalu merasa akan di bela sehingga egoisnya muncul.

“Ya, nanti Azka minta maaf. Abang kan ndak perlu marah-marah, sebel…jadi ndak asyik Si Abang!” Tukas Azka sambil ngeloyor masuk kamar.

“Hemmm… kebiasaan tuh kalau salah cari pembelaan,” ujar Abang lagi yang ku sambut dengan mata melotot.

“Kenapa, Ma… sakit mata ya!” tanya Abang pada ku dengan terkekeh, dan segera cabut lari ke kamarnya sebelum dapat semprotan gas pemadam kebakaran dariku.

Menarik napas sebentar, istighfar 3x lanjut ke kamarku menjenguk Azka.

“Kok Azka ngambek sih, cemen ah…kan yang diomongkan Abang bener. Lagian minta maaf kan bagus Az. Nanti temen makin sayang sama Azka. Meski tidak sengaja sebaiknya tetap minta maaf, kan anak solehah. Biar jadi Pemaaf seperti Rasulullah,” sapaku pada Azka dengan gaya santuy sambil membaringkan tubuhku disampingnya.

“Ma… Azka masih kesel nih,” ujarnya sambil menutup mukanya dengan bantal.

Di luar rumah samar suara teman-temannya memanggil Azka, seperti rombongan fans yang menyambut idolanya.

“Azka, dipanggil teman-temannya tuh,” seru Abang yang masuk ke kamar menginfokan pada Azka.

“Iya.. Azka denger,” ujarnya ketus.

“Nah keluar dong, kasihan tuh pada nungguin,” jawab Abang lagi.

“Azka…,” suara kecil Humairo teman Azka tetiba ada di depan kamar.

“Lah, Az… sampai disusulin teman tuh, kasihan dong udah di samperin artinya teman ndak marah sama Azka,” ujarku membujuknya.

Azka langsung menepikan bantal dari wajahnya dan bergegas turun dari kasur.

“Hai, Humairo .. yuk main lagi,” ujarnya tersenyum manis pada sahabatnya.

“Azka sebentar!” Aku menyusulnya, “Jangan lupa minta maaf ya Nak,” ujar ku lembut membisikan di telinganya.

“Ya, Ma..,” jawabnya dengan tersenyum lebar menampakkan gigi atasnya yang sudah ompong sempurna tinggal tunggul disana.

“Tapi… Mama sama Abang ndak boleh dengar! Yuk, Hum.. sini Azka bisikin,” ujarnya pada Humairo dengan gaya membisikan sesuatu sambil berjalan ke teras. Dan mereka kembali tertawa bersama.

 

“Sedini mungkin mencegah bibit ketidak baikan dengan menanamkan tauladan dan nilai kebaikan akan membentuk generasi berkarakter.” (Quoteku)

 

Wallahu’alam

 

Pontianak, 6-11-20

Ida Kusdiati

Tinggalkan Balasan